Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya

Selamat Jalan Lae

Written By lungbisar.blogspot.com on Friday, January 20, 2017 | 3:02 PM

D
engan menggunakan kapal laut, ia berangkat dari Pelabuhan Belawan menuju Jakarta, pria Batak kelahiran 65 tahun silam itu meninggalkan kampung halamannya Pematang Siantar dipenghujung tahun 1968, dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta, namun perjalanan hidupnya kemudian berubah haluan menjadi seorang penyanyi yang dikenal dengan nama Eddy Silitonga.

Karirnya bermula dari mengikuti festival Lagu Pop Nasional pada tahun 1975, meskipun saat itu dia harus mengakui keunggulan Melky Goslow, namun lengkingan suaranya yang mengalun dalam festival tersebut telah membuka hati Rinto Harahap untuk menggarapnya. Setahun kemudian Rinto mempercayakannya untuk membawakan lagu Biarlah Sendiri, dan Eddy berhasil dengan baik, mendapat sambutan dari pasar dan dikerubungi oleh banyak penggemar, diapun mulai menjadi seorang penyanyi yang diperhitungkan.

Nama besar Eddy Silitonga sempat bertahan dalam rentang waktu antara 1976 sampai 1980, suaranya terdengar dimana-mana, lewat lagu-lagu Pop Biarlah Sendiri, Ayah (ciptaan Rinto Harahap), Kini Kusadari (Barthe Van Houten), Mama (Murry Koesplus), Jatuh Cinta (Titiek Puspa), Mimpi Sedih (A. Riyanto) dan lain-lain. Waktu itu hampir tidak ada ruang dan waktu yang tidak diisi oleh suara Eddy Silitonga, bahkan gaya Jenggot kecil dibawah bibirnya menjadi trend bagi anak-anak pada masa itu.

Eddy juga menyanyikan lagu-lagu Batak diantaranya Anjua-U, Alusiau, Inang, dan dia juga berhasil menyanyikan lagu-lagu daerah dengan baik seperti lagu Lancang Kuning (Riau), Ubek Kan Denai (Minang) Romo Ono Maling (Jawa) Ndung Ku (Muara Enim) dan banyak lagi lagu daerah lainnya. Pada pertengahan 80an,

kejayaan Eddy sempat meredup, dan bertahun-tahun setelah itu suaranya seperti menghilang diangkasa industri musik negeri ini. Namun bukan berarti orang telah melupakannya dan ini terbukti ketika ia tampil kembali ditahun 87, sambutan dari para penikmat musik masih memberinya ruang untuk tarik suara, bahkan pada tahun itu juga dia diundang  manggung bersama Emiliya Contessa dinegara jiran Malaysia.

Penyanyi dengan suara Khas melengking itu juga pernah bermain dalam film “Kembalilah Mama” arahan sutradara Abu Bakar Djunaidi pada tahun 1977, dan seiring berjalannya waktu karir Eddy semakin meredup, hingga akhirnya pada Kamis dini hari yang lalu dia berangkat keharibaan sang Pencpta, pergi untuk selamanya. Selamat jalan Eddy Silitonga, kepergianmu membuat kami berduka dan merasa sedih dan kehilangan, namun 

0 comments: