Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya

Dibawah Pohon Rindang

Written By lungbisar.blogspot.com on Friday, January 20, 2017 | 2:32 PM

Mundurnya Ade Komarudin sebagai calon ketua umum Golkar telah melapangkan jalan untuk Setya Novanto, dengan alasan menjaga sikap persahabatan Akom (begitu dia biasa dipanggil) menarik pencalonan dirinya dan pada saat dilakukan pemilihan Setnov unggul dengan meraih  277 suara dari 544 peserta munaslub.

Dulu, seorang calon ketua umum disamping harus mendapat dukungan dari kader golkar juga harus mendapat restu dari ketua dewan Pembina, restu tersebut merupakan syarat “MUTLAK” yang harus dimiliki calon, itulah sebabnya ketua umum Golkar pada zaman itu selalu dipegang oleh orang-orang yang dikenal setia kepada sang ketua Dewan Pembina.

Pada munaslub Golkar kali ini, kewenangan ketua Dewan Pembina sudah tidak terdengar bunyinya lagi, tapi sungguhpun demikian, disinyalir ada juga kabar bahwa calon ketua umum menyebut dirinya mendapat dukungan dari presiden, dan diujung Munaslub Golkar memutuskan bergabung kedalam koalisi partai pendukung pemerintah.

Bergabungnya Golkar kedalam Koalisi partai pendukung pemerintah, bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena sepanjang sejarahnya Golkar memang tidak terbiasa menjadi oposisi. Partai yang besar dizaman Orde baru ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kekuasaan.

Mencermati sikap Golkar yang memilih bergabung dengan koalisi partai pendukung pemerintah saat ini bukanlah merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja, ada harga yang harus dibayar oleh presiden. Harus diingat Golkar sudah lama malang melintang dalam percaturan politik tanah air, partai ini memiliki kader yang militant dan mahir dan sigap dalam bermanufer.

Tidak tertutup kemungkin presiden harus membayarnya dengan menyediakan jatah kursi kabinet untuk kader Golkar yang memang berpotensi untuk itu, dan tidak mustahil pula kebijakan pemerintah kedepannya akan banyak dipengaruhi oleh partai yang berlambang pohon Beringin ini.

Masuknya Golkar ini bisa pula menjadi beban tersendiri bagi presiden Jokowi, karena Setya Novanto yang terpilih memimpin partai ini masih dikait-kaitkan dengan berbagai kasus hukum, dan yang paling menghebohkan adalah kasus papa minta saham yang telah menjungkirkan beliau dari kursi ketua DPR.

Selain itu, nama Setnov juga disebut-sebut dalam kasus korupsi pembangunan sarana Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau dan pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode Muhammad Syarief mengatakan KPK belum berhenti mengembangkan pengusutan kedua kasus tersebut. "Semua masih berjalan," kata Laode pada Selasa 17 Mei 2016.

Dalam kasus pembangunan venue PON XVIII Riau, KPK sempat menggeledah dan memeriksa Setya dalam dugaan adanya aliran dana sebesar Rp 900 juta ke Dewan Perwakilan Rakyat untuk memuluskan anggaran PON Riau di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Namanya juga disebut dalam putusan terhadap terdakwa Rusli Zainal, mantan Gubernur Riau yang dipidana 14 tahun penjara.

Demikian juga dengan kasus eKTP, tudingan terhadap Setya datang dari mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Menurut Nazaruddin, Setya terlibat dalam penggelembungan anggaran sebesar Rp 2,5 triliun dalam proyek berbiaya Rp 5,9 triliun tersebut.
Jatah menteri dan kasus yang melibatkan nama Ketua Umum Partai Golkar inilah yang membuat kita ingin melihat perkembangan selanjutnya, bagaimana Setya Novanto memainkan perannya sebagai pemimpin partai bersar yang berlambang pohon Beringin ini.


Selamat buat Setya Novanto, semoga saja Pohon Beringin yang rindang itu bisa menjadi tempat berteduh bagi bangsa ini. 

0 comments: