Aksi
masyarakat Jakarta menolak kehadiran Ahok semakin menjadi-jadi, bahkan Polda
Metro Jaya mengaku telah mengingatkan tim pemenangan Ahok-Djarot bahwa ada
sekelompok orang yang akan menolak kampanye calon petahana itu "Sudah
mengingatkan beberapa kali, termasuk yang di Kebon Jeruk kita sudah ingatkan
terjadi penolakan," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombespol
Awi Setiyono sebagaimana dikutip oleh beberapa media ibu kota.
Apakah
penolakan ini murni timbul dari masyarakat itu sendiri atau akibat dari hasil
provokasi pihak tertentu yang tidak suka terhadap Ahok. Atau bisa juga
disebabkan oleh lambannya proses hukum atas kasus dugaan penistaan Agama yang
dilakukan Ahok. Semuanya serba mungkin terjadi, karena politik itu mutlah
dinamis dan memunculkan banyak alasan untuk melakukan sesuatu.
Yang
tau pasti alasannya hanyalah masyarakat Jakarta sendiri, namun satu hal yang
harus dipahami adalah bahwa sebagai calon gubernur Ahok memiliki hak untuk
berkampanye, tidak seorangpun yang bisa menghalangi dan menolaknya, termasuk
pihak kepolisian, meskipun itu atas pertimbangan kemanan.
Kerasnya
penolakan warga ini mendapat tanggapan serius dari tim pemenangan pasangan Ahok
– Jarot, situasi yang tidak menguntungkan ini tidak membuat surut langkah
mereka untuk berkampanye, mereka tetap menjadwalkan kegiatan meskipun daerah
yang mereka kunjungi sangat rawan dan berpotensi menimbulkan kericuhan.
Akibatnya
suasana ditempat tertentu jadi mencekam, seperti saat mereka akan berkampanye
di Kedoya Utara, Jakarta Barat, 300 polisi bersenjata lengkap dikerahkan untuk
mengamankan Ahok. Selain ratusan personel kepolisian, terlihat pula sejumlah
kendaraan taktis yang terdiri dari mobil barracuda, mobil gas air mata serta
mobil water cannon.
Polisi
tentu tidak bisa disalahkan, mereka tidak mau mengambil resiko dalam rangka
tugas pengamanan calon gubernur. Tapi pengamanan yang sedemikian rupa ini juga
berdampak buruk, setidak-tidaknya telah menimbulkan kemacetan, bahkan bisa
menimbulkan kesan bahwa polisi sudah dikendalikan oleh Ahok.
Menyikapi
keadaan yang seperti ini, selayaknya tim pemenangan Ahok – Jarot hendaknya
bersikap bijak dan arif, kembali membuat pemetaan ulang, tidak terlalu ngotot
untuk tetap berkampanye didaerah yang melakukan penolakan. Tim seharusnya bisa
membuat terobosan baru dimana penyampaian program dan gagasan tidak perlu harus
bertatap muka, bisa dilakukan dengan cara lain, seumpamanya dengan menggunakan
teman Ahok yang jumlahnya cukup banyak itu.
Tim
juga harus bisa meyakinkan Ahok dan Jarot bahwa dari pada menimbulkan komplik
lebih baik tidak usah berkampanye, bagaimanapun kelompok yang menolak kehadiran
mereka itu adalah bagian dari mereka juga, warga Jakarta yang pernah dipimpin
Ahok, jadi menjaga kedamaian itu lebih penting dari segala-galanya.
Sebaliknya
warga Jakarta yang menolak Ahok, seharusnya bisa bersikap arif dan bijak,
melakukannya dengan cara yang elegan, tetap menjaga keamanan dan kedamaian
ditengah riuhnya menyambut pesta demokrasi.
Tidak
perlu bergerombolan menghadang Ahok dan tidak perlu berkoar-koar melarang Ahok
hadir kelingkungannya. Penolakan itu semestinya cukup dilakukan dengan cara
tidak menghadiri kampanye dari pasangan tersebut dan berlanjut dengan memilih
calon yang lain pada saat berada didalam bilik suara nanti.
0 comments:
Post a Comment