Saat
meresmikan Pelabuhan New Priok Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu 21
September lalu, Presiden Jokowi secara
khusus menyoroti waktu bongkar di Pelabuhan Belawan, yang memakan waktu lebih
dari 8 hari, normalnya pekerjaan tersebut menurut perhitungan beberpa
pihak semestinya 2 hari.
Hal
yang membuat presiden menjadi bertambah naik pitam adalah ketika muncul dugaan
bahwa dwelling time yang panjang itu terjadi akibat ulah permainan oknum –
oknum tertentu dipelabuhan yang dengan sengaja melakukannya guna
mendapatkan keuntungan pribadi. Delapan
crane yang tersedia dipelabuhan hanya satu unit yang dioperasikan, sementara 7
crane sisanya dijadikan sebagai alat bergaining untuk mendapatkan bayaran
tambahan, pengguna jasa pelabuhan yang meminta pekerjaan bongkar muatnya
diprioritaskan harus merogoh kocek lebih dalam lagi.
Kasus
Pelabuhan Belawan ini bukanlah hal yang pertama kalinya memompa presiden hingga
naik darah, bulan Juni tahun lalu, presiden pernah meradang karena lamanya waktu
bongkar di Tanjung Priok. Di pelabuhan ini, dwelling time mencapai 5,5 hari,
jauh di bawah Singapura yang hanya 1 hari atau bahkan pelabuhan Malaysia dan
Thailand yang hanya 3 hari.
Kemarahan
Presiden tersebut telah membuka pintu bagi masuknya penyidik kepolisian,
sejumlah orang digaruk karena diduga terlibat kong kalikong di balik lamanya
waktu tunggu tersebut. Salah satu yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka
adalah Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan,
Partogi Pengaribuan. Kini waktu bongkar peti kemas di Priok tinggal 3,2 hari.
Dihukumnya
Partogi telah membuka mata kita lebar-lebar, bahwa kegiatan bongkar muat
dipelabuhan tidak semata-mata bergantung pada Badan Usaha Pelabuhan dan
otoritas pelabuhan, banyak tangan birokrasi dari luar pelabuhan yang juga ikut
menentukan, seperti Bea Cukai, Karantina hewan dan tumbuhan, kementerian
perdagangan, imigrasi, kesehatan pelabuhan, dan lain sebagainya yang kesemuanya
itu memiliki aturan dan kewenangan tertentu yang terkadang menjadi penghambat
kelancaran arus barang.
Selain
instansi terkait yang disebutkan diatas, sikap para pedagang juga perlu menjadi
perhitungan, banyak diantara mereka yang tidak memiliki gudang sendiri,
akhirnya dengan sengaja membiarkan barangnya berada didalam gudang pelabuhan.
Dengan menggunakan fasilitas pelabuhan sebagai gudang mereka bisa menghemat
karena sewanya yang murah. Gudang
pelabuhan akhirnya beralih fungsi dari tempat penumpukan sementara menjadi
gudang permanen bagi pedagang nakal,
dijadikan sebagai tempat penumpukan barang selama belum laku terjual, masanya tentu akan lebih lama
dari waktu normal yang dseharusnya dilakukan.
Presiden
telah meminta polisi supaya bergerak cepat menyelesaikan kusut masai yang
terjadi di Pelabuhan Belawan, kehadiran polisi ini tentu sangat ditunggu-tunggu
oleh pelaku usaha agar lalu lintas barang bisa berjalan lancer dan aman. Tapi
jangan lupa, selain Belawan masih banyak pelabuhan lain yang juga menuntut
aparat penegak hukum turun untuk membenahinya.
Pelabuhan
Tg. Perak di Surabaya dwelling timenya 6 hari , bahkan Pelabuhan Makassar yang
merupakan gerbang Indonesia di Timur waktu yang dipakai sampai mendekati 7
hari, dua pelabuhan besar ini hanya sekedar contoh, pelabuhan – pelabuhan kecil
lainnya juga tidak berbeda, cepat atau lambatnya dwelling time terkadang sangat
bergantung pada besarnya nilai kesepakatan under table.
Kesadaran
semua pihak akan pentingnya mengenjot kinerja insan pelabuhan dan keseriusan
penegak hukum membersihkan lingkungan pelabuhan dari pungutan liar sangatlah
dibutuhkan, jangan seperti yang terjadi di Belawan tempo hari. Pihak Pelindo I
baru bergerak setelah presiden naik pitam, meskipun ada upaya seketika dari
direksinya yang mencopot GM Pelabuhan Peti Kemas Domestik, tetapi upaya itu dirasakan
sebagai sesuatu yang terlambat, semestinya itu dilakukan sebelum ada pecutan
dari RI 1.
Kelanjutan dari
marahnya presiden ini tentu sangat ditunggu oleh para pengusaha dengan sebuah
harapan pengelola pelabuhan akan bertindak tegas,
menghapus praktek korupsi, dan memberikan pelayanan secara profesional kepada
para pengguna jasa, sehingga kelancaran arus barang dipelabuhan dapat kita
tyingkatkan.

0 comments:
Post a Comment