Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya

Melahirkan Dinasti Cikeas

Written By lungbisar.blogspot.com on Monday, January 23, 2017 | 4:01 PM

Setelah melalui proses pembicaraan yang panjang Koalisi Cikeas sepakat untuk mengusung pasangan Agus-Sylviana sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta.

Sebelumnya Zulkifli Hasan, menyampaikan akan ada kejutan dari Cikeas, lalu merekapun berkumpul dengan sejawatnya dari PPP dan PKB, berembuk hingga tengah malam, dan hasilnya benar-benar membuat public menjadi terkejut.

Beberapa hari sebelumnya kabar pencalonan AGUS sudah mulai dihembuskan oleh keluarga besar Partai Demokrat. Tapi tidak terlalu mendapat sambutan dari publik, semula dikira ini hanya rumor politik, canda untuk menyegarkan pikiran ditengah kekalutan tokoh-tokoh partai mencari figure yang kuat untuk melawan calon petahana.

Tapi demikianlah kenyataannya, pencalonan ini tidak hanya menjadi kerja Partai Demokrat sendiri, tetapi didukung oleh tiga partai lainnya, yakni PAN, PKB dan PPP. Dukungan ini dapat dilihat dengan hadirnya Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Ketum PPP Romahurmuziy dan para petinggi empat parpol yakni Waketum PD Syarief Hasan, Amir Syamsuddin, Sekjen PKB Abdul Kadir Karding dan Sekjen PPP Arsul Sani, Sekjen Demokrat Hinca Pandjaitan, saat nama Agus diumumkan.

Bahkan dengan penuh semangatnya Ketum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan pasangan ini cukup ideal untuk menjawab kebutuhan masyarakat DKI Jakarta. 

"Dengan berbagai pertimbangan, kebutuhan mewujudkan ketenangan di masyarakat, maka kombinasi generasi muda dan tangguh, fresh dipadu oleh seorang Ibu Sylviana. Maka dari itu disepakati pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni dengan tema Jakarta untuk Rakyat," tutur Muhaimin. 

Kita tidak tau kemana arah pernyataan Muhaimin ini, apakah ini benar-benar ikhlas untuk menjadikan Agus sebagai calon Gubernmur DKI atau hanya sebagai pemanis bibir untuk menyenangkan hati keluarga Cikeas saja.

Kehadiran Agus Harimurti Yudhoyono, memang tidak boleh dipandang sebelah mata, dia anak pintar yang selalu tampil didepan dan memiliki banyak prestasi, baik semasa masih dalam pendidikan maupun setelah bertugas sebagai tentara aktif. Segudang prestasi belajar dan tanda kepangkatan dia punya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejak lulus SMPN 5 Bandung, Agus masuk di SMA Taruna Nusantara di Magelang pada 1994. Saat itu bakat kepemimpinannya sudah muncul. Dia dipercaya sebagai Ketua OSIS. Bahkan, saat lulus pada 1997 dia mendapat predikat lulusan terbaik.

Ketika melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer. dia terpilih menjadi Komandan Resimen Korps Taruna Akademi Militer pada tahun 1999, lulus sebagai yang terbaik dengan meraih medali Adhi Makayasa pada Desember 2000. Dia juga lulus terbaik untuk Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri dan Kursus Combat Intel pada tahun 2001.

Tapi itu saja tentu tidak cukup, pertarungan dalam pemilukada membutuhkan banyak syarat yang tak dapat dikesampingkan, salah satunya adalah pengabdian pada kepentingan masyarakat dan populartitas, kedua factor ini berkait erat menjadi satu kesatuan.

Populer karena pencitraan atau factor keturunan belum tentu  diterima dengan baik, karena masyarakat pemilih terutama pemilih di Jakarta bukanlah orang-orang bodoh yang bisa dicekoki dengan polesan belaka.

Sementara itu keberadaan Agus selama ini hanya dikenal sebagai anak presiden, pengabdiannya ditengah masyarakat belum terlihat  dan kepemimpinannya belum teruji sama sekali. Segunung prestasi itu hanya ada dalam catatan keluarga Cikeas tapi tidak terekam dalam benak masyarakat.


Justeru karenanya, kita patut menyangsikan koalisi Cikeas ini bakal mampu bertarung melawan AHOK yang memang sejak awal sudah diperhitungkan sebagai kekuatan besar yang sulit ditaklukkan. Dan barangkali orang yang paling gembira menyambut kehadiran pasangan dari Cikeas ini adalah Ahok dan seluruh tim nya. Mereka akan terkekeh-kekeh ketawa, melepas kegirangannya karena apa yang dihasilkan oleh Koalisi Cikeas bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan, tetapi mungkin seperti Ayam Sayur yang empuk dilahap.

0 comments: