Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya

Mungkinkah Ahok Terlibat

Written By lungbisar.blogspot.com on Thursday, January 19, 2017 | 12:12 PM

Komisi Pemberantasan Korupsi sudah menetapkan Sanusi, Ariesman, dan Trinanada Prihantoro, personal assistant PT APL. sebagai tersangka dalam kasus suap reklamasi Teluk Jakarta. Komisi Anti Rasuah itu juga mencekal Sunny Tanuwijaya, Aguan, dan, Richard Halim Kusuma, anak kandung Aguan yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Agung Sedayu

Akar suap Sanusi ini berasal dari pembahasan Raperda tentang Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Provinsi Jakarta 2015-2035 dan Raperda tentang Rencana Kawasan Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Jakarta Utara.

Dari sekian nama yang terkait dengan kasus ini yang menarik adalah nama Suny Tanuwijaya, konon yang bersangkutan memiliki kedekatan khusus dengan Gubernur DKI Basuki T. Purnama, alias Ahok. Suny kadang disebut sebagai anak MAGANG, yang mangkal dikantor AHOK untuk menulis disertasi doctoral tentang sepak terjang AHOK dalam pemerintahan. Terkadang pula disebut sebagai Staff Gubernur DKI, dan AHOK sendiri juga mengakui Suny sudah mengenalnya sejak tahun 2010 yang lalu.

Kedekatan personal anatar Suny dan AHOK ini membuat orang ingin melihat sejauh mana pengaruh Suny terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh AHOK terutama tentang hal yang  menyangkut Ranperda Reklamasi yang bermasalah itu.

Menurut Krisna Murthi, Sunny berperan sebagai penghubung antara pemerintah daerah, pihak dewan, dan pengusaha, hari-hari sibuk dalam pembahasan ranperda itu peran Suny dinilai cukup besar, tapi tidak dijelaskan untuk kepentingan siapa Suny bekerja, mengingat ranperda itu merupakan keputusan bersama antara eksekutif dan legislative dan menyangkut kepentingan pengusaha. Suny  kabarnya pernah menghubungi Sugianto Kusuma alias Aguan, bos raksasa properti Agung Sedayu Group yang kini juga dicekal KPK.

Mereka membicarakan kewajiban pengembang membayar kontribusi tambahan dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta. Aguan menanyakan peluang menurunkan kontribusi tambahan jadi lima persen. “Ada indikasi Sunny menjanjikan sesuatu kepada Aguan,” katanya.

Selama pembahasan Raperda, Sanusi beberapa kali menghubungi Sunny, untuk menanyakan apakah AHOK sudah setuju soal penurunan kewajiban kontribusi tambahan bagi pengembang. Komunikasi itu dibangun karena Suny dianggap orang yang paling dekat dengan AHOK sebagai pihak Eksekutif.
Dalam salah satu keterangannya kepada Majalah Tempo, Sunny juga mengakui pernah berbicara dengan Aguan beberapa kali. “Kadang di kantor, kadang sambil makan pempek,” katanya.

Pada kesempatan, Aguan juga meminta agar kontribusi tambahan diatur dalam Peraturan Gubernur saja agar pembahasan Raperda tak berlarut-larut. “Saya bilang nanti saya atur,” kata lulusan ilmu politik Northern Illinois University, Amerika Serikat, itu. Ia lalu meneruskan pesan Aguan kepada Ahok. “Gubernur bilang terserah, asalkan 15 persen tetap masuk.”  Ujar Suny waktu itu.

Dalam Raperda itu, Ahok meminta pengembang untuk menyerahkan minimal 15 persen lahan pulau buatan di proyek reklamasi. Sementara DPRD DKI bertahan di angka 5 persen. Soal angka 5 persen ini yang diduga keluar karena lobi pengembang. Dan Sanusi, kabarnya hanya salah satu anggota DPRD DKI yang mendapat 'lobi' untuk angka 5 persen.


Walaupun kedekatan personal antara Ahok dan Suny sudah berlangsung lama dan terjalin akrab Namun Ahok tetap menampik bahwa, stafnya yang bernama SUNY itu tak akan bisa mempengaruhi kebijakannya. “Jangankan dia Emak aja enggak gue dengerin,” kata Ahok. Ah yang benar Hok ?

0 comments: