Pemilukada DKI yang akan berlangsung tahun
depan nampaknya sangat menyita waktu dan menguras tenaga bangsa ini. Ahok yang
menjadi figure sentralnya seakan lumat dibibir semua orang, media seakan berloba-lomba
memberitakan setiap gerak gerik dan sepak terjangnya, para politisi bersitegang
urat leher memuja dan mencibir Ahok, padahal dia hanyalah seorang Gubernur yang
naik secara kebetulan menggantikan Gubernur definitive yang terpilih sebagai
presiden.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pasangan Cagub DKI
waktu itu memenangkan pilkada bukanlah karena Faktor Ahok, tapi karena factor Jokowinya yang lebih dominan,
dan Jika Jokowi tidak terpilih jadi presiden, nasib Ahok belum tentu seperti
sekarang ini, mungkin saja dia hanya seorang wakil gubernur sampai priode.
Ahok juga tidak memiliki prestasi yang pantas
diacungkan jempol, selama menjadi Gubernur tidak ada perubahan yang berarti di
Jakarta, waktu hujan tetap saja banjir, dan kemacetan lalu lintas semakin
parah. Yang mencuat kepermukaan malah perseteruannya dengan kalangan politisi,
debat kusir soal reklamasi dan carut marutnya soal ganti rugi Sumber waras.
Ahok belum bisa disebut berhasil memimpin Jakarta, meskipun sesungguhnya dia
juga tidak bisa disebut gagal, yang menonjol darinya hanyalah kata-kata kotor
berhamburan secara dari mulutnya.
Kami yang berada didaerah, jauh dari pusat
pemerintahan bukannya membenci AHOK, tapi perbincangan tentang Ahok ini sudah
sangat keterlaluan, dan membuat kami muakdan mual seperti hendak muntah. Tai
kuping masyarakat didaerah menari-nari kegatalan, apa sih istimewanya AHOK ini,
sehingga bangsa ini lupa akan hal-hal penting yang seharusnya menjadi pemikiran
bersama.
Bangsa ini menghadapi tiga persoalan besar yang
menuntut kerja keras dan ikhlas untuk dipikirkan, terutama dalam hal merefleksi
kembali makna kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Soekarno Hatta pada 71 tahun
yang lalu.
Ketiga persoalan tersebut adalah, Korupsi, kemiskinan,
dan kesenjangan sosial, persoalan ini berkait erat antara satu sama lainnya,
dan memberi signal kepada kita untuk tidak terlena. Korupsi menimbulkankan
ketimpangan sosial, disatu pihak menyebabkan orang perorangan menjadi kaya raya
dan berkecukupan dipihak lain membuat rakyat jadi miskin dan sengsara.
Perhitungan Index Kemiskinan Multidimensi pada
tahun 2014 tercatat sebanyak 80 juta penduduk Indonesia masih berada di bawah
garis kemiskinan. Demikian juga dengan tingkat
kesenjangan sosial, data dari Rasio GINI menempatkan posisi Indonesia sejajar
dengan beberapa negara yang tergolong sebagai negara-negara kurang
berkembang (least developed countries)
Rakyat menuntut perhatian serius dari segenap penyelengara
negara, untuk menyelesaikan persoalan ini, paling tidak ada upaya untuk
menguranginya, Pilkada DKI memang penting, menjadi barometer bagi daerah lain,
tapi jangan sampai urusan AHOK dan DKI dijadikan sebagai isu utama sehingga
persoalan lain menjadi terabaikan, ingatlah bahwa republic ini sangat luas
membentang dari Sabang sampai Merauke, dihuni oleh penduduk yang jumlahnya jauh
lebih besar dari warga kota Jakarta, kesemuanya itu menuntut perhatian serius
dari pemerintah pusat.
Ahok, siapa sih dia ?

0 comments:
Post a Comment