Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya

Ahok, Loncat Kian Kemari,

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, January 21, 2017 | 11:06 AM

Keputusan PDIP mengusung Ahok sebagai gubernur DKI dari Partai berlambang Banteng ini telah menyisakan banyak pertanyaan, yang mau tidak mau menguras pikiran kita untuk menduga-duganya. Ada apa dengan PDIP ?
Sebelumnya PDIP sudah melakukan penjaringan calon Gubernur DKI, ada puluhan kader dan non kader PDIP yang mendaftar disitu, langkah ini diambil dengan tujuan agar PDIP benar-benar memiliki calon unggulan yang lahir dari partainya sendiri, atau paling tidak figur yang memiliki komitment terhadap Partai.
Bila ditilik dari sistem pengkaderan dan prosedur yang dibangun oleh PDIP, maka tidak ada jalan bagi Ahok untuk dicalonkan. Ahok tidak pernah mendaftar sebagai cagub dari PDIP, bukan seorang kader PDIP, jangankan menjadi kader partai, memakai baju kebesaran partai aja dia tidak mau, bahkan saat mendaftar di KPU, dia lebih bangga memakai baju kotak-kotak, dari pada memakai jas kebesaran partai.
Dari 32 orang yang mendaftar ke DPP PDIP, mengerucut jadi 27 calon, kemudian mereka menjalani uji kepatutan hingga akhirnya tinggal 6 (enam) nama, dan dari keseluruhan proses penjaringan tersebut dapat dipastikan tidak ada nama AHOK disitu, bahkan pada waktu itu, dengan sesumbarnya Ahok  meminta PDIP berkomunikasi dengan teman AHOK bila ingin memintanya jadi calon Gubernur. Pada waktu itu pula AHOK memang tidak tertarik untuk bergabung dengan PDIP, karena dia full confidence dengan kekuatan Teman AHOK yang bakal mengusungnya dijalur independen.
Sikap politik seorang AHOK yang sedemikian rupa ini bukanlah hal baru, sebelum menjadi calon Wagub DKI mendampingi Jokowi pada Pilkada yang lalu dia berteduh dibawah Pohon Beringin, begitu angin bertiup menuju DKI 2 dia pindah ke Gerindra, setelah nyaman dikursi DKI 1 dia hengkang dari Gerindra, lalu bersama-sama TEMAN AHOK dia mengibarkan bendera independen.
Ketika Teman AHOK dirasakan tidak cukup nyaman untuk mengusungnya jadi calon Gubernur DKI, maka nasib mujur kembali menghampirinya, tercatat Partai Hanura, Nasdem dan Golkar membukakan pintu selebar-lebarnya untuk mendukung pencalonan AHOK, maka AHOK mengucapkan selamat tinggal pada TEMAN AHOK, dia mulai melirik parpol.
PDIP yang semula sudah menyiapkan calon sendiri lewat penjaringan dan diperkirakan tidak akan mencalonkan AHOK ternyata malah menjadi pendukung utamanya. Keputusan itu tentu disambut baik oleh Nasdem, Hanura dan Golkar yang dari semula memang mendorong PDIP untuk mencalonkan AHOK.
Apakah setelah PDIP mencalonkannya sebagai Cagub, AHOK akan menjadi kader PDIP, jawabnya tentu saja mengambang,bisa YA bisa pula TIDAK, atau boleh jadi selesai pilkada nanti AHOK akan membuka lembaran baru, melenggang keluar pintu kandang Banteng, meloncat kepundak NAGA, tak ubahnya seperti “KUTU LONCAT”.
Mega bukannya tidak sadar bagaimana pola berpolitik seorang AHOK yang sering melakukan akrobat, meloncat kian kemari sesuai kebutuhannya. Para elite PDIP bukannya tidak gerah dengan sikap AHOK yang pernah meremehkan partai, tapi yang terjadi kemudian adalah sebuah keputusan yang mengejutkan AHOK diusung oleh PDIP sebagai calon gubernur DKI.

Keputusan partai besar sekaliber PDIP yang seperti ini patut diajukan pertanyaan, Ada apa dengan PDIP, apakah kandang Banteng ini kekurangan orang pintar yang mumpuni untuk diajukan sebagai calon pemimpin ibu kota, atau ada suatu kekuatan besar yang mendorong Mega membentangkan karpet merah bagi seorang Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Entahlah.

0 comments: