Keputusan
PDIP mengusung Ahok sebagai gubernur DKI dari Partai berlambang Banteng ini
telah menyisakan banyak pertanyaan, yang mau tidak mau menguras pikiran kita
untuk menduga-duganya. Ada apa dengan PDIP ?
Sebelumnya
PDIP sudah melakukan penjaringan calon Gubernur DKI, ada puluhan kader dan non
kader PDIP yang mendaftar disitu, langkah ini diambil dengan tujuan agar PDIP
benar-benar memiliki calon unggulan yang lahir dari partainya sendiri, atau
paling tidak figur yang memiliki komitment terhadap Partai.
Bila
ditilik dari sistem pengkaderan dan prosedur yang dibangun oleh PDIP, maka
tidak ada jalan bagi Ahok untuk dicalonkan. Ahok tidak pernah mendaftar sebagai
cagub dari PDIP, bukan seorang kader PDIP, jangankan menjadi kader partai,
memakai baju kebesaran partai aja dia tidak mau, bahkan saat mendaftar di KPU,
dia lebih bangga memakai baju kotak-kotak, dari pada memakai jas kebesaran
partai.
Dari
32 orang yang mendaftar ke DPP PDIP, mengerucut jadi 27 calon, kemudian mereka
menjalani uji kepatutan hingga akhirnya tinggal 6 (enam) nama, dan dari
keseluruhan proses penjaringan tersebut dapat dipastikan tidak ada nama AHOK
disitu, bahkan pada waktu itu, dengan sesumbarnya Ahok meminta PDIP
berkomunikasi dengan teman AHOK bila ingin memintanya jadi calon Gubernur. Pada
waktu itu pula AHOK memang tidak tertarik untuk bergabung dengan PDIP, karena
dia full confidence dengan kekuatan Teman AHOK yang bakal mengusungnya dijalur
independen.
Sikap
politik seorang AHOK yang sedemikian rupa ini bukanlah hal baru, sebelum
menjadi calon Wagub DKI mendampingi Jokowi pada Pilkada yang lalu dia berteduh
dibawah Pohon Beringin, begitu angin bertiup menuju DKI 2 dia pindah ke
Gerindra, setelah nyaman dikursi DKI 1 dia hengkang dari Gerindra, lalu
bersama-sama TEMAN AHOK dia mengibarkan bendera independen.
Ketika
Teman AHOK dirasakan tidak cukup nyaman untuk mengusungnya jadi calon Gubernur
DKI, maka nasib mujur kembali menghampirinya, tercatat Partai Hanura, Nasdem
dan Golkar membukakan pintu selebar-lebarnya untuk mendukung pencalonan AHOK,
maka AHOK mengucapkan selamat tinggal pada TEMAN AHOK, dia mulai melirik
parpol.
PDIP
yang semula sudah menyiapkan calon sendiri lewat penjaringan dan diperkirakan
tidak akan mencalonkan AHOK ternyata malah menjadi pendukung utamanya. Keputusan
itu tentu disambut baik oleh Nasdem, Hanura dan Golkar yang dari semula memang
mendorong PDIP untuk mencalonkan AHOK.
Apakah
setelah PDIP mencalonkannya sebagai Cagub, AHOK akan menjadi kader PDIP,
jawabnya tentu saja mengambang,bisa YA bisa pula TIDAK, atau boleh jadi selesai
pilkada nanti AHOK akan membuka lembaran baru, melenggang keluar pintu kandang
Banteng, meloncat kepundak NAGA, tak ubahnya seperti “KUTU LONCAT”.
Mega
bukannya tidak sadar bagaimana pola berpolitik seorang AHOK yang sering melakukan
akrobat, meloncat kian kemari sesuai kebutuhannya. Para elite PDIP bukannya
tidak gerah dengan sikap AHOK yang pernah meremehkan partai, tapi yang terjadi
kemudian adalah sebuah keputusan yang mengejutkan AHOK diusung oleh PDIP
sebagai calon gubernur DKI.
Keputusan
partai besar sekaliber PDIP yang seperti ini patut diajukan pertanyaan, Ada apa
dengan PDIP, apakah kandang Banteng ini kekurangan orang pintar yang mumpuni
untuk diajukan sebagai calon pemimpin ibu kota, atau ada suatu kekuatan besar
yang mendorong Mega membentangkan karpet merah bagi seorang Basuki Tjahaya
Purnama alias Ahok. Entahlah.

0 comments:
Post a Comment