Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya

Terperangkap Masuk Kandang BABI

Written By lungbisar.blogspot.com on Tuesday, January 24, 2017 | 3:49 PM

Hari ini Presiden meresmikan peluncuran uang baru dari gedung BI di Jakarta, dan peristiwa ini mengingatkan kita pada pidato presiden tentang nilai tukar rupiah yang selama ini menggunakan  dolar sebagai rujukan dalam transaksi perdagangan internasional. Saat diskusi Ekonomi yang digelar oleh Indef pada 6 Desember yang lalu itu,
Presiden meminta agar perekonomian Indonesia tidak hanya diukur dengan dolar tetapi juga dengan mata uang negara lain, salah satunya Yuan, mata uang China. “Menurut saya, kurs rupiah dan dolar bukan lagi tolok ukur yang tepat,” kata Presiden dan pidato presiden itu menimbulkan penafsiran sebagai upaya pemerintah mengalihkan kiblat rujukan nilai tukar rupiah dari dolar menjadi Yuan, mengingat saat ini China adalah mitra dagang terbesar Indonesia.
Penafsiran yang sedemikian rupa bukan tanpa alasan, karena sejak awal kecenderungan memilih China sebagai mitra dagang dan penanam modal di Indonesia  sudah terlihat dengan jelas. Pemerintah menjadikan China sebagai tempat sandaran harapan dalam mendapatkan pinjaman untuk berbagai proyek pembangunan, terutama dalam pembangunan infrastruktur dinegeri ini.
Pada september tahun lalu, tercatat 3  Bank BUMN, seperti Bank Mandiri, BNI dan BRI mendapatkan pinjaman dari CDB (China Development Bank). China memang tampak seperti teman yang baik, memberikan pinjaman tidak disertai dengan berbagai syarat yang berat, tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia seperti kebijakan memerangi Teroris yang diinginkan Amerika, atau program pemberantasan korupsi, penegakan HAM dan lain sebagainya.
Bagi China yang terpenting adalah proyek yang dibiayai dengan dana pinjaman itu harus diserahkan kepada mereka untuk mengerjakannya. Terkait fenomena kecenderungan memilih China sebagai mitra dagang dan investor ini, teringat pulalah saya pada cerita seorang warga keturunan Tiong Hoa bernama Tan Si Bok yang masuk kekampung halaman kami dulu sebagai penjerat Babi.
Kehadirannya teramat sangat dibutuhkan oleh warga kampung untuk menumpas Babi yang merupakan musuh petani dalam bercocok tanam. Dia mendapat elu-eluan dari warga sekampung sebagai pahlawan yang telah mebantu petani sekaligus mengobarkan kembali gairah bercocok tanam.
Tan Si Bok tidak menuntut syarat apapun, yang penting dia diberi kesempatan memasang jerat Babi disekitar peladangan warga. Babi hasil tangkapannya dibawa pulang tanpa menyusahkan petani dikampung tersebut, alhasil terjalinlah kerja sama yang baik antara sipenjerat Babi dengan para petani, kedua belah pihak sama-sama diuntungkan, Tan Si Bok mendapat kesempatan makan enak dan Petani tertolong karena musuh tanaman sudah berangsur hilang.
Kerja sama tak tertulis ini berlanjut terus, Babi hasil tangkapan Si Bok jadi menumpuk dan harus dibuatkan kandangnya. Si Bok menjadi orang yang super sibuk, dia tidak hanya sebagai penjerat Babi tetapi sudah mulai melebarkan sayapnya sebagai peternak Babi. Lama kelamaan ternak Babi Si Bok jadi berkembang biak, sehingga dia sudah tidak perlu lagi bersusah payah keluar masuk kampung memasang jerat babi, tapi cukup mengurus ternaknya dengan baik dan menjualnya kepasar.
Akibatnya Si Bok menjadi saudagar Babi yang kaya raya sementara Petani kembali menjadi resah karena kampung mereka kini benar-benar sudah menjadi tempat kubangan Babi, dipemukiman penduduk ada kandang Babi milik Tan Si Bok, disawah ladangnya berkeliaran Babi liar yang lapar dan merusak tanaman.
Kembali kepersoalan Modal dan mitra dagang dari China ini, saya khawatir kisah Tan Si Bok itu terulang kembali, dimana China tidak hanya memenangkan tender pengerjaan proyek saja tetapi mulai megangkut warganya sebagai pekerja, mulai dari top management dengan dasi dan sepatu yang berkilat hingga sampai ketukang sapu, semuanya didatangkan dari China dan membuat kesempatan kerja bagi penduduk lokal jadi terampas.

China tidak hanya menggelontorkan dananya ke Indonesia, tetapi juga mengirim warganya sebagai tenaga kerja, ada yang masuk secara legal dan tak sedikit pula yang tertangkap karena masuk dengan menggunakan visa wisata, bahkan ada isu yang berkembang bahwa sebagian dari warga negara China yang masuk ke Indonesia itu adalah Tentara China., Alah mak oi, Jika info ini benar, bukan tak mungkin kita akan terjebak dalam perangkap Babi milik Tan Si Bok, seperti cerita diatas.

0 comments: