Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya
Powered by Blogger.

Visitors

Powered By Blogger

Featured Posts

Like us

ads1

Showing posts with label Seni. Show all posts
Showing posts with label Seni. Show all posts

Teater Koma

Written By lungbisar.blogspot.com on Monday, July 24, 2017 | 3:34 PM

Sekelompok pengemis kota dibawah komando juragan Picum (diperankan oleh Budi Ros) tampil mengisi panggung, dengan terampil dan mahir mereka melakoni bujuk rayu pada setiap orang untuk menyisihkan uang recehannya. Itulah awal dari pementasan Opera Ikan Asin yang dimainkan oleh Teater Koma pada awal Maret lalu di Artpreneur Theater Jakarta, pementasan mana dimaksudkan sebagai perayaan hari ulang tahun Teater Koma yang ke 40.

Opera Ikan Asin ini berkisah tentang kedongkolan hati Picum terhadap Mat Piso (diperankan oleh Rangga Riantiarno) si Raja Bandit yang telah mempersunting anak daranya bernama Poli Picum (diperankan oleh Sekar Dewantari). Pernikahan puterinya dengan Mat Piso dilaksanakan tanpa restu darinya, sehingga Picum merasa dendam, dan berupaya untuk menyingkirkan Mat Piso.

Alkisah, atas bantuan dari seorang wanita penghibur bernama Yeyen (diperankan oleh Cornelia Agatha) akhirnya Mat Piso bisa ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung, namun ketika Mat Piso sudah diseret ketiang gantungan yang terjadi bukanlah eksekusi hukuman mati, tapi malah sebaliknya Mat Piso dilantik menjadi anggota Volksraad (wakil rakyat).

Demikianlah penggalan kisah yang dimainkan oleh kelompok Teater Koma, sebuah  kelompok seni Teater yang didirikan N Riantiarno pada 1 Maret 1977 silam. Teater yang kini sudah berusia 40 tahun itu hingga kini masih tetap eksis dan menjadi kelompok teater yang terbilang ramai dijubeli oleh penonton.

Naskah aslinya berjudul The Beggar’s Opera,karya John Gay yang pernah dipentaskan dilondon sekitar tahun 1728. Naskah The Beggar’s Opera itu kemudian diubahsuaikan oleh N Riantiarno menjadi Opera Ikan Asin, sebuah kalimat pendek yang akrab ditelinga publik dan menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.

Cerita yang pada mulanya mengisahkan kehidupan masyarakat dikota London pada abat ke 19, diubah oleh Sutradaranya Teater Koma N Riantiarno menjadi kisah masyarakat Betawi pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Meskipun rentang waktunya jauh berbeda namun sesungguhnya bila dicermati dengan seksama, lakon cerita ini masih terasa relevan dengan kehidupan dinegeri kita pada saat ini, dimana seorang Bandit yang berkongsi Ria dengan penegak hukum mampu mengubah keputusan hakim, Mat Piso si Raja Bandit yang semestinya mati ditiang gantungan mendapat kehormatan menjadi wakil rakyat.

Kelompok Teater Koma memang tidak pernah berhenti berproduksi, dimulai sejak tahun 1977 dengan mementaskan Lakon Rumah kertas di Teater tertutup Taman Ismail Marzuki, hingga sekarang sudah tak terhitung lagi jumlah pementasan mereka,  data akurat tentang hitungan tampilan panggung mereka memang tidak ditemukan, namun tidak diragukan lagi jumlahnya lebih dari 1.500 kali pementasan.

Selain naskah Opera Ikan Asin dan Rumah Kertas, Teater Koma juga pernah memainkan lakon yang berjudul Sampek Engtay, Opera Kecoa, Opera Ular Putih, Sie Jin Kwie, Maaf Maaf Maaf,Inspektur Jenderal, Buriswara, Suksesi, Semar Gugat, Kala, Republik Bagong, Republik Togog, Republik Cangik dan Republik Petruk.

Khusus untuk Naskah Sampek Eng Tay, Teater Koma mendapat penghargaan MURI sebagai lakon yang pernah dipentaskan secara berturut-turut selama 15 tahun (1988 – 2004) dengan delapan pemain dan tujuh pemusik yang sama. Kemudian sepanjang rentang waktu dari tahun 1998 hingga tahun 2015, lakon Sampek Eng Tay, dibawa oleh Teater Koma berkeliling ditujuh kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Batam dan Medan dengan jumlah total pementasan sebanyak 103 kali.

Sepanjang sejarah berdirinya Teater Koma, juga pernah mengalami masa kelam, pada tahun kedua berdirinya ( 1978) pementasan naskah Maaf – Maaf – Maaf, dibatalkan oleh penguasa rezim Orde Baru, kemudian pada tahun 1990 Teater Koma kembali dilarang mementaskan lakon “Suksesi” dan yang sangat menyedihkannya lagi, ketika kelompok teater ini akan mementaskan Opera Kecoa pihak berwenang membatalkannya padahal saat itu tiket sudah ludes terjual.

Teater Koma memang kenyang dengan pelarangan, dan tidak jarang usai pementasan sutradaranya diintrerogasi dan diintimidasi, namun kesemuanya itu tidak membuat langkah mereka berhenti disuatu titik, bak namanya yang memakai tanda baca “Koma” , yang berarti jeda sejenak, kemudiantanpa merasa jera dia berproduksi kembali. 

Empat puluh tahun hanyalah sebuah bilangan, tapi untuk ukuran sebuah Teater, rentang usia sepanjang itu adalah sebuah bilangan yang luar biasa, Teater Koma masih tetap eksis ditengah banyaknya kelompok teater lain yang tenggelam ditelan zaman.


3:34 PM | 0 comments | Read More

Pelajaran Berharga dari Soni dan Liza

Sepasang anak muda Rokan Hilir Soni dan Nurliza, lolos dalam audisi Akademi  D4 Indosiar, Soni berasal dari Bagan Batu dan bermukim di Yogyakarta, sementara Nurliza masih duduk dibangku Madrasah Aliyah Bagansiapi-api. Keduanya mendapatkan golden tiket untuk maju dalam pertarungan berikutnya yang diselenggarakan oleh Indosiar di Jakarta.

Keberhasilan awal yang diraih oleh Soni dan Nurliza, membuat masyarakat Rokan Hilir, khususnya masyarakat Bagansiapi-api mendadak sadar, bangkit dari tidur panjangnya. Merekapun mulai bergegas, menghimpun kekuatan untuk memberikan dukungan dengan harapan agar kedua anak Jati Rokan Hilir  itu menjadi penyanyi Dangdut kenamaan, atau minimal salah satu diantaranya menjadi juara dalam kompetisi bergengsi tersebut.

Untuk memenuhi harapan inilah kiranya mendadak muncul himbaua agar warga Rokan Hilir khususnya warga Bagansiapi untuk mengirimkan dukungan SMS sebanyak-banyaknya, selain itu ada pula yang sengaja datang ke Jakarta menyaksikan langsung pertunjukan tersebut distudio 5 Indosiar Jakarta, “memberi Support,” demikian alasannya

Setelah beberapa kali tampil, akhirnya Nurliza dan Soni tersenggol, perjuangan mereka kandas, SMS dukungan yang diberikan tidak cukup untuk mengantarkan keduanya kebabak berikutnya, dan kehadiran warga Rohil distudio Indosiar juga tidak memberi bekas apapun. Keduanya harus menerima kenyataan bahwa dalam sebuah kompetisi menang dan kalah itu merupakan sebuah kewajaran.

Sebaliknya, bagi masyarakat Rokan Hilir sendiri kesadaran yang mendadak muncul akan arti pentingnya memiliki seniman besar yang berprestasi ditingkat Nasional perlu ditindak lanjuti, jangan sampai kekalahan Soni dan Liza membuat semangat masyarakat menjadi padam. Semangat berkesenian seperti itu perlu terus dikobarkan dengan kesadaran baru bahwa seorang seniman tidak lahir dari sebuah persitiwa dadakan seperti itu.

Kekalahan Soni dan Liza seharusnya menjadi cambuk pemicu bagi pemerintah Rohil dan segenap masyarakatnya, bahwa untuk tampil ditingkat nasional, untuk meraih prestasi gemilang tidak cukup hanya dengan mengirimkan SMS dan dukukungan semata, tapi perlu pengasuhan yang berkesinambungan dan pelatihan yang serius.

SMS yang dikirim dalam jumlah yang banyak belum tentu dihitung oleh penyelenggara, karena tidak tertutup kemungkinan berlaku ketentuan bahwa satu SMS untuk satu nomor telepon genggam, jadi jika ada satu nomor telpon yang mengirimkan SMS dalam jumlah yang banyak adalah sebuah dukungan yang salah kaprah, karena satu nomor hanya boleh mengirimkan satu SMS

Justeru itulah kiranya, kepulangan Soni dan Liza tidak perlu disambut dengan ratap tangis dan sikap saling menyalahkan, tapi perlu dihadirkan sebuah pemikiran bahwa untuk melahirkan seniman berbakat, memerlukan kerja keras dari semua pihak . Upaya konkrit dan terjadwal harus dilakukan, umpamanya dengan cara mengadakan latihan vokal secara rutin, pendidikan berkesian yang berkesinambungan, melaksanakan pestival ditingkat daerah dan lain sebagainya. Upaya ini jauh lebih baik dari pada melakukan umpat puji kepada orang lain yang tak jelas juntrungannya.

Untuk ananda Soni dan Liza, kami ucapkan terima kasih, kehadiran ananda berdua telah memberikan pelajaran berharga bagi segenap pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan di Rokan Hiril (terutama Dewan Keseniannya) akan arti pentingnya sebuah kerja pembinaan bakat seni yang selama ini sangat terabaikan. Lebih dari itu kehadiran ananda berdua telah membuat mata semua pihak jadi terbuka hingga mampu membedakan mana yang loyang dan mana pula tembaga.


3:29 PM | 0 comments | Read More

Sanggar Flamboyan

Written By lungbisar.blogspot.com on Friday, February 10, 2017 | 11:50 PM

Mentari sudah hampir jatuh diufuk Barat, langit memerah dan awan berarak manja mengiringi mentari merampungkan tugasnya menutup hari. Wajah senja kian teduh dan redup, sementara angin bertiup perlahan menyisir dedaunan yang kering dan berdebu.

Aku masih saja berdiri disitu, sambil menatap alam sekeliling, mengingat-ingat kembali pada teman-teman sebaya,  yang dulu pernah ada dan menjadi bagian dari perjalan hidupku. Kursi panjang dari kayu tempat kami duduk bersama, bersenda gurau dan bercengkerama,  bergitar ria dengan senandung lagu-lagu Koesplus, The Mercys, Panbers, dan lagu-lagu populer masa itu, melewati waktu malam yang lengang dan gulita, diteras rumah tua yang kami sebut sebagai Sanggar Flamboyant.

Kenangan itu terus bermain dalam ingatan ku, hayalanku surut jauh kemasa silam, masa masih kekanak dulu, bermain bola dihalaman berlumpur, mandi disungai yang airnya keruh seperti susu, main layang-layang dengan mata tersisik kelangit, main gasing dihalaman rumah Bahasan, main Patuk Lele, menangguk Ikan Lago dengan tudung saji.

Senja kian larut, wajahnya semakin redup, angin seakan berhenti berhembus, dan sayup-sayup terdengar suara azan dari Masjid Taqwa mengalun lantang. Kusimak baik-baik, kukerahkan segala kekuatanku untuk mengingat-ingat suara Muadzinnya, tapi “Ah, bukan ...... itu bukan suara Wak Seri,” desisku dalam hati.

Waktu sudah berlalu, berjalan jauh meninggalkan masa silam, menghapus jejak kenangan yang tak sempat tercatat.  Halaman rumah Tuk Bahasan yang dulu kami jadikan arena bermain Gasing kini sudah menyempit. Tak ada lagi anak-anak yang bersuka ria dengan derai tawa, melihat Gasing beradu putar, yang ada hanyalah wajah-wajah belia dengan gadget ditangannya.

Teras rumah yang kami jadikan sanggar kini telah berubah, pemiliknya sudah ganti berganti, tak ada lagi tempat bergitar, tak terdengar lagi riuh rendah suara tawa dan canda, yang ada hanyalah bunyi deringan smartphone dari sakunya.

Suasana senja yang dulu diramaikan dengan kekanak yang berbondong menuju Masjid kini sudah tak ada, sebagian memang masih terlihat datang memenuhi panggilan azan, namun sebagiannya lagi asyik masuk menyaksikan sinetron didepan tivi.


Teman-teman sepermainan dulu kini entah dimana, semuanya telah pergi membawa diri dan takdirnya meninggalkan tempat ini, yang tersisa hanyalah ukiran kenangan masa lalu yang tak mungkin dapat diulang kembali. 
11:50 PM | 0 comments | Read More

Selamat Jalan Lae

Written By lungbisar.blogspot.com on Friday, January 20, 2017 | 3:02 PM

D
engan menggunakan kapal laut, ia berangkat dari Pelabuhan Belawan menuju Jakarta, pria Batak kelahiran 65 tahun silam itu meninggalkan kampung halamannya Pematang Siantar dipenghujung tahun 1968, dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta, namun perjalanan hidupnya kemudian berubah haluan menjadi seorang penyanyi yang dikenal dengan nama Eddy Silitonga.

Karirnya bermula dari mengikuti festival Lagu Pop Nasional pada tahun 1975, meskipun saat itu dia harus mengakui keunggulan Melky Goslow, namun lengkingan suaranya yang mengalun dalam festival tersebut telah membuka hati Rinto Harahap untuk menggarapnya. Setahun kemudian Rinto mempercayakannya untuk membawakan lagu Biarlah Sendiri, dan Eddy berhasil dengan baik, mendapat sambutan dari pasar dan dikerubungi oleh banyak penggemar, diapun mulai menjadi seorang penyanyi yang diperhitungkan.

Nama besar Eddy Silitonga sempat bertahan dalam rentang waktu antara 1976 sampai 1980, suaranya terdengar dimana-mana, lewat lagu-lagu Pop Biarlah Sendiri, Ayah (ciptaan Rinto Harahap), Kini Kusadari (Barthe Van Houten), Mama (Murry Koesplus), Jatuh Cinta (Titiek Puspa), Mimpi Sedih (A. Riyanto) dan lain-lain. Waktu itu hampir tidak ada ruang dan waktu yang tidak diisi oleh suara Eddy Silitonga, bahkan gaya Jenggot kecil dibawah bibirnya menjadi trend bagi anak-anak pada masa itu.

Eddy juga menyanyikan lagu-lagu Batak diantaranya Anjua-U, Alusiau, Inang, dan dia juga berhasil menyanyikan lagu-lagu daerah dengan baik seperti lagu Lancang Kuning (Riau), Ubek Kan Denai (Minang) Romo Ono Maling (Jawa) Ndung Ku (Muara Enim) dan banyak lagi lagu daerah lainnya. Pada pertengahan 80an,

kejayaan Eddy sempat meredup, dan bertahun-tahun setelah itu suaranya seperti menghilang diangkasa industri musik negeri ini. Namun bukan berarti orang telah melupakannya dan ini terbukti ketika ia tampil kembali ditahun 87, sambutan dari para penikmat musik masih memberinya ruang untuk tarik suara, bahkan pada tahun itu juga dia diundang  manggung bersama Emiliya Contessa dinegara jiran Malaysia.

Penyanyi dengan suara Khas melengking itu juga pernah bermain dalam film “Kembalilah Mama” arahan sutradara Abu Bakar Djunaidi pada tahun 1977, dan seiring berjalannya waktu karir Eddy semakin meredup, hingga akhirnya pada Kamis dini hari yang lalu dia berangkat keharibaan sang Pencpta, pergi untuk selamanya. Selamat jalan Eddy Silitonga, kepergianmu membuat kami berduka dan merasa sedih dan kehilangan, namun 
3:02 PM | 0 comments | Read More

Negeriku

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, April 25, 2015 | 11:16 PM

Sajak A. Mustofa Bisri

mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi
11:16 PM | 0 comments | Read More