Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya
Powered by Blogger.

Visitors

Powered By Blogger

Featured Posts

Like us

ads1

Burung Beo Baginda

Written By lungbisar.blogspot.com on Friday, August 16, 2024 | 10:56 PM

Disuatu pagi di Bagansiapi-api. aku melangkah dengan pasti menuju sebuah warung kopi. Mencari teman lama untuk diajak bercanda dan bergurau sambil berdiskusi. Aku ingin  menikmati hangatny kopi dan  suasana hangat puluhan tahun yang  silam, bual para pengopi yang menghangat,  suasana pertemanan dan keakraban pagi yang tetap terpelihara, hatiku menjadi berbunga-bunga disela salaman dari  banyak teman dan orang yang dulu kukenal, dan aku betul-betul gembira dibuatnya

Makin meninggi hari kian ramai pengunjungnya, makin semarak pula bual rekan yang berkumpul, meja mulai digabung satu, dua, tiga  menjadi rangkaian panjang hingga suasananya berubah menjadi sebuah reuni kerabat lama. Topik pembicaraanpun makin seru, bercampur baur antara kisah masa lalu dengan kekinian yang katanya sudah jauh lebih maju, hingga sampailah kami pada satu topik hangat yakni soal Pemilukada.

Aku berharap topik ini menjadi pemuncak dari bualan kami dipagi itu, karena Pemilukada adalah ajang kompetisi dari beberapa calon pemimpin rakyat. Harapanku pagi itu sederhana saja, ingin tau seperti apa kondisi yang sebenarnya, bagaimana sikap warga kota ini terhadap para tokoh terbaik yang mencalonkan diri itu. Akupun ingin mendapat gambaran seperti apa pemimpin yang mereka inginkan, dan apa harapan masyarakat terhadap pemimpinnya kedepan.  Tapi apa mau dikata aku harus menelan pil pahit, karena topik ini ternyata tidak menarik minat teman – teman untuk didiskusikan, satu persatu  mereka beranjak dari tempat duduknya, berbagai alasan mereka kemukakan dan akhirnya tinggal aku dan Bahtiar Les, sambil bertatap-tatapan melihat Mak Iyah siempunya warung mengemas piring dan gelas bekas makan minum kami.

Bahtiar seakan mengerti dengan perasaanku yang diselimuti kekecewaan, sebelum pamit dia membisikan sesuatu ditelingaku, aku terdiam dan sejenak mengangguk pelan dengan ketidak mengertianku tentang apa yang diucapkannya, Bahtiar juga mengangguk dan sejenak kemudian dia berlalu dari sisiku.

Sekali lagi aku kebingungan sendirian dikamar losmen, sudah banyak perubahan disini, waktu magrib orang tak lagi bersiap-siap kesurau, waktu  malam tak terdengar lagi suara ibu-ibu mendongeng atau menyanyikan anaknya menjelang tidur, kecuali suara bising burung Walet dari rumah penangkaran. Topik bualan pagi juga tak sebebas dulu lagi, banyak teman yang menghindar jika bualan sudah menjurus kearah politik, apalagi bicara soal calon yang berani menantang incumbent, bisa tak naik pangkat seumur hidup, atau mutasi ketempat kering dan sulit, “waduh begitu mencekamnya suasana ini.” Ujarku sambil membalikan tubuh kedinding.

Ketika melihat dinding kamar aku teringat pada ucapan Bahtiar yang dibisikannya tadi,  ”Disini dinding bertelinga,”  katanya sambil berlalu.

Bahtiar sudah pergi jauh, entah mengayunkan langkah entah mengayuh kehidupan, tapi yang jelas dia meninggalkan aku dengan sebuah peringatan bahwa “Dinding bertelinga”, itu maknanya bahwa saat ini menjadi tabu bicara soal politik, makanya banyak teman yang menghindar takut direkam oleh dinding dan sampai ketelinga tuan,

“Makanya As, kata Bahtiar dengan serius, “disini tak ada lagi Hang Jebat yang berani berkata Raja Alim Raja Disembah, Raja Zolim Raja dibantah, tak ada lagi orang bijak yang berani memberi tunjuk ajar, tak ada lagi orang tua yang berani dituakan, yang ada hanyalah Patih Kermawijaya, sipenjilat dengan lidahnya yang bercabang menjadi tukang fitnah”, lanjut Bahtiar lagi.

“Lalu …….?

“Tidak ada yang lalu, kecuali titah Baginda”

“Hang Tuah dimana ? Tanyaku

“Kau cari sendirilah dibalik cerita-cerita legenda yang terserak diberbagai tempat diluar kota ini, disini sudah tak ada lagi bijak laksamana, tak ada lagi Tuah, yang ada hanyalah burung Beo milik Baginda

10:56 PM | 0 comments | Read More

Ke Bagan

Written By lungbisar.blogspot.com on Tuesday, October 22, 2019 | 2:08 PM


Duduk dibibir Tebing Sungai Rokan sambil menunggu sampan tumpangan, hasrat hati nak hilir ke Bagan, angin bertiup perlahan, dan sesekali terdengar kicau Kedidi sambil ekornya terunggit-unggit dipucuk Berembang.

Daun dan mumbang Kelapa berserak tak beraturan disekelilingku, pohonnya tumbang bersamaan dengan runtuhnnya tebing yang tergerus arus.

Sudah hampir sepenanak nasi lamanya aku duduk menunggu, matahari sudah naik sepenggalahan,  namun sampan tumpangan belum jua didapat. Banyak sampan yang melintas, tapi tak bisa membawaku serta karna sampannya penuh dengan muatan. Dan, ………… ada juga yang lewat dengan sampan besar, dikayuh oleh pemiliknya, tapi tak sudi menyinggahkan aku karena didalamnya ada pengantin baru.

Arus mulai deras, matahari sudah tak lagi bersahabat, sinarnya menyengat ubun-ubun, hingga membuat keringat mulai meleleh, aku mulai gusar, kesempatan hilir ke bagan menjadi pupus, hilang tak berbekas dikarenakan tak dapat sampan tumpangan.

“Apa hajat Ngah ?” tiba-tiba terdengar suara menyapa, aku menoleh dan ternyata Lung Bisar yang datang, lelaki tengil yang selalu bicara menyengat itu menghampiriku, dan seperti biasanya dia datang dengan bermodalkan mancis, lalu dengan senyum menghias bibirnya dia minta rokok sebatang.

“Nak ke Bagan,” jawabku singkat sambil mengeluarkan bungkus tembakau Kampa , dia tak menjawab, lalu dengan cekatan menyambar kampil tembakau ku, lalu menggulungnya dengan daun nipah, sejenak kemudian dipantiknya mancis, dan mengepullah asap dari celah bibir dan lubang hidungnya.

“Udah berapa lama menunggu ?” tanyanya sambil mengajakku mencari tempat berteduh dibawah pohon rindang  yang agak jauh dari bibir tebing.

“Dari pagi,” jawabku singkat.

“Kini memang sulit mendapat tumpangan, kalau tak punya sampan tak usahlah berharap nak hilir ke Bagan,” ujar Lung Bisar

“Hem …….. sama sebangun dengan PILPRES ya Lung,” kataku memotong ucapannya.

“Iya, kalau tak punya sampan jangan berharap banyak menjadi Calon,” sambungnya lagi sambil nyengir, sampai Nampak gigi sungilnya.

Mataharipun membubung tinggi, dan dari kejauhan terdengar bunyi beduk dalam, pertanda waktu zuhur sudahhampir masuk, kamipun melangkah pulang, sambil berdoa semoga tebing tidak lagi runtuh.

2:08 PM | 0 comments | Read More

Setelah Romi Tersandung

Written By lungbisar.blogspot.com on Tuesday, March 19, 2019 | 3:46 PM


Romi diciduk KPK pada Jumat (15/3). di Hotel Bumi, Surabaya, dan setelah melalui proses pemeriksaan ketua umum PPP itu dinyatakan sebagai tersangka, dipakaikan baju berwarna Orange dan digiring masuk tahanan, sejak itu sampai hari ini meringkuklah dia dalam sel.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Romi tentu sudah tidak sempat lagi memikirkan nasib partainya, sementara itu Anggaran Rumah Tangga (ART) PPP, menyebutkan bahwa dalam hal Ketua Umum atau pengurus harian lainnya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus tindak pidana korupsi atau kejahatan serius lainnya termasuk narokba, terorisme, oleh Kepolisian RI atau Kejaksaan Agung RI, maka diberhentikan atau diberhentikan sementara.

Terkait aturan yang tertuang dalam ART partai itu pulalah kiranya para pengurus harian sebagai PPP mengadakan rapat dadakan dan menetapkan Suharso Manoarfa untuk menggantikan Romi, dan keputusan itu nantinya akan diperkuat saat Mukernas dimasa mendatang.
Penunjukkan Manoarfa oleh rapat pengurus harian itu bisa jadi akan menimbulkan MASALAH tersendiri bagi partai, karena aturan yang tertuang dalam ART PPP menyebutkan bahwa jika Ketua Umum berhalangan tetap maka yang menggantikannya adalah Wakil Ketua Umum,

Dalam susunan pengurus harian DPP tidak tertera nama Manoarfa sebagai Wakil ketua umum, nama-nama personil yang menjabat  waketum diantaranya Mardiono, Fadli Nurzal, Amir Uskara, Arwani Thomafi, Fernita Darwis, Wardatul Asriah, Reni Marlinawati, Tamam Achda, Anita Prihapsari, Ermalena Muslim, Mansyur Kardi,  sementara jabatan Manoarfa sendiri adalah Ketua Pengganti Majelis Tinggi Partai.

Masalah ini jangan dianggap sepele, elite PPP harus hati-hati dan berhitung dengan cermat, menetapkan Manoarfa bisa dianggap sebagai pelanggaran terhadap konstitusi partai yang menyebutkan jika terjadi kelowongan jabatan Ketum hanya dapat diisi oleh Waketum yang dipilih dalam rapat yang dihadiri pengurus Harian DPP, Ketua Majelis Syariah, Ketua Majelis Pertimbangan, Ketua Majelis Pakar (Pasal 13 Anggaran Rumah Tangga PPP).

Mudah-mudahan para pengurus harian dan para wakil ketua umum bisa menerima keputusan yang menetapkan Manoarfa sebagai pengganti Ketua Umum, jika tidak, sekali lagi PPP akan bergejolak, dan kemungkinan itu sepertinya hanya tinggal menunggu waktu.

Selain persoalan kursi Ketua Umum, PPP juga masih harus memperhitungkan keberadaan kelompok PPP Muktamar Jakarta yang disebut oleh Arsul Sani sebagai Mualaf Politik.  Kelompok yang dimotori oleh Djan Farid dan Humpery ini tentu tidak ingin kehilangan peluang untuk kembali merebut pengaruh dan peluang untuk mengendalikan partai.

Kelompok ini bisa saja mendorong Partai agar segera melakukan Muktamar Nasional untuk menetapkan pengganti Romi. Sebagai peserta Muktamar mereka akan leluasa bermanuver untuk merebut kembali kursi ketua umum, mereka masih punya pengaruh yang kuat didaerah tertentu dan dalam kepengurusan PPP sekarang ini ada 48 orang yang berasal dari kubu  mereka, jumlah ini tentu merupakan kekuatan besar untuk merebut peluang.

Selain persoalan internal partai, sepeninggalan Romi PPP juga berpolemik dengan partai lain yang secara bersama ada dalam Koalisi Petahana, yakni dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Bermula dari pernyataan Maman Imanulhaq Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin yang menyebut Romi sebagai musuh Islam karena tersandung kasus korupsi. Pernyataan Maman itu disambut oleh Ketua PPP Kota Bandung, Zaini Shofari.

Menurut Zaini, Maman tidak mempunyai kewenangan untuk mengurusi persoalan internal yang sedang dihadapi oleh PPP. "Seharusnya setiap peristiwa apapun harus dijadikan bagian dari sebuah kesadaran berpolitik, bukan kemudian mencabik-cabik apalagi memaki dan menghujat internal partai lain," ujarnya sebagaimana dikutip oleh berbagai media.

Kemarahan Zaini terus berlanjut dengan menyeret-nyeret PKB didalamnya. Zaini pun menyinggung persoalan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang diduga ikut terlibat dalam dugaan suap pembahaan anggaran untuk dana optimalisai Direktorat Jenderal Pembinaan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi (P2KT), yang dikenal dengan istilah “Kardus Durian”, di Kementerian yang saat itu dipimpinnya.

Diinternal partai menyimpan persoalan serius, sesama teman dalam koalisi mulai tegang, dan satu lagi yang tidak kalah serunya adalah keterlibatan kementerian Agama dalam persoalan Romi, dimana menterinya adalah kader partai yang ruangannya sempat disegel oleh penyidik KPK.

Apakah kasus Romi ini akan menyeret menteri agama, wallahu’alam, namun yang jelas dua personil 
dibawahnya sudah terlebih dahulu ditetapkan sebagai tersangka, dan kalau meminjam ungkapan pak Mahfud, Menteri Agama itu orang bersih, tetapi tak berdaya menghadapi pejabat diatasnya. Atasan Menag kalau bukan presiden ya pasti Ketua Partai.

Sebelumnya, banyak pihak yang meragukan kemampuan PPP untuk dapat mengirim wakilnya ke Senayan, karena tidak mampu memenuhi batas minimum perolehan suara 4 %, dan setelah Romi tersandung kasus, keraguan itu nampaknya semakin mendekati kenyataan.

3:46 PM | 0 comments | Read More

Menyambut Gerhana Bulan

Written By lungbisar.blogspot.com on Wednesday, January 31, 2018 | 11:54 AM

Disusun oleh: Utih Amartiwi Rahman, S.Si
(Alumni Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Club Astronomi Santri Assalaam (CASA))

Di penghujung bulan Januari 2018, Indonesia dapat menyaksikan sebuah fenomena
unik, yaitu gerhana bulan yang bersamaan dengan blue moon dan super moon. Gerhana istimewa ini terjadi pada hari Rabu, 31 Januari 2018 dengan durasi fase total 1 jam 16 menit 4 detik. Diperkirakan fenomena unik ini akan terjadi lagi sekitar tahun 2037.
Blue moon atau bulan biru adalah istilah purnama kedua di kalender masehi. Seperti
yang kita ketahui, purnama pertama di bulan ini adalah tanggal 2 Januari 2018. Sehingga, tanggal 31 Januari 2018 nanti adalah purnama kedua. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan jumlah hari dalam 1 bulan di kalender masehi (rata-rata 30-31 hari) dan lama rotasi bulan (29,5 hari). Sehingga, dapat menyebabkan adanya 1 bulan di kalender masehi yang terdapat purnama pertama di awal bulan dan purnama kedua di akhir bulan. Tidak ada hubungan antara tanggal dan perubahan warna bulan menjadi kebiruan sehingga warnanya akan terlihat sama seperti purnama pada umumnya, kecuali dengan adanya faktor lain yang bisa menyebabkan bulan terlihat kebiruan.

Super moon adalah sebutan bulan purnama saat berada sangat dekat dengan bumi. Apakah terlihat super besar? Bulan hanya terlihat lebih besar sekitar 7% sehingga bagi yang tidak sering mengamati bulan akan melihat ukurannya yang tidak jauh berbeda dari biasanya. Namun saat posisinya mendekati horizon, bulan dapat terlihat besar.

Gerhana bulan terjadi saat posisi matahari – bumi – bulan sejajar dan cahaya
matahari ke bulan terhalang oleh bumi. Gerhana bulan tak selalu ada di setiap bulan karena kemiringan 50 orbit bulan mengelilingi bumi terhadap orbit bumi. Gerhana bulan 31 Januari 2018 akan terjadi mulai pukul 17:51:15  WIB hingga 23:08:27 WIB dan fase totalnya mulai pukul 19:51:47 WIB hingga 21:07:51 WIB.

Sebagai muslim, momen ini sebaiknya dimanfaatkan untuk mengamalkan ajaran Rasulullah SAW terkait gerhana. Dari Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana Matahari atau Bulan itu bukanlah disebabkan adanya hidup atau matinya seseorang. Maka jikalau kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bershalatlah.” (HR Bukhari Muslim).

Simulasi penampakan gerhana bulan total 31 Januari 2018 dari software Stellarium
Mengenal Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya adalah jalan meraih kemuliaan dan
kebaikan dunia dan akhirat. Fenomena gerhana bulan kali ini dapat menjadi momen kita mengenal Allah dengan mentadabburi ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Untuk membantu kita merenungi ayat qauliyah, kita dapat membaca kitab tafsir dan asbabun nuzul mengenai suatu ayat.
Salah satu yang dapat kita renungkan adalah asmaul husna dalam ayat tersebut. Misalnya untuk fenomena gerhana bulan, kita dapat mencari ayat yang menjelaskan tentang bulan yang juga mengandung asmaul husna, yaitu: Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS az-Zumar: 5).

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS al-An’am: 96). Ada 3 asmaul husna yang disebutkan di 2 ayat tersebut, yaitu Al-‘Aziz (Maha Perkasa), Al-Ghaffar (Maha Pengampun), dan Al-‘Alim (Maha Mengetahui).

Abdurrazaq bin Abdul Muhsin dalam kitab Fikih Asmaul Husna menjelaskan bahwa makna Al-‘Aziz adalah Dzat yang bagi-Nya seluruh makna-makna kekuasaan. Diantara buah keimanan dari memahami makna Al’-Aziz secara mendalam adalah kerendahan hamba yang ditunjukkannya kepada Allah SWT semata. Ia tidak merasa sombong karena semua nikmat adalah dariNya, tidak bersandar kecuali padaNya, dan memohon padaNya agar dijauhkan dari kemungkaran. Al-‘Aziz disebutkan 2 kali dalam ayat mengenai bulan. Ini menandakan adanya hal penting yang benar-benar harus kita renungkan mengenai nama ini yang berhubungan dengan penciptaan dan peredaran bulan.

Al-Ghaffar memiliki makna bahwa Allah senantiasa memberi ampunan dan
menghapus dosa hambaNya. Diantara kesempurnaan ampunan Allah SWT adalah meskipun seorang hamba sudah sangat melampaui batas, lalu dia kembali kepada Allah dan bertaubat, maka Allah SWT ampuni segala kesalahannya. Allah SWT juga senantiasa menghapus dosa hambaNya saat hambaNya sabar menghadapi musibah, melakukan amal shaleh, menolong sesama makhluk, dsb. Merenungkan asmaul husna yang satu ini dapat melahirkan konsistensi dalam istigfar dan kesungguhan dalam berbuat kebaikan.

Al-‘Alim adalah asmaul husna yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Al‘Alim memiliki makna bahwa ilmu-Nya yang sempurna meliputi segala sesuatu. Mengimani asmaul husna yang satu ini dapat melahirkan pribadi yang luar biasa. Kemauan untuk terus belajar menjadi hamba yang lebih baik, hanya berharap petunjuk dariNya dan berjalan sesuai dengan petunjuk itu, hingga melahirkan taqwa yang sesungguhnya.

Inilah yang bisa menjadi bahan tadabbur kita. Apa hikmah ketiga asmaul husna
tersebut Allah pilih saat menjelaskan bulan dalam al-Qur’an? Apa hubungan dan hikmahnya dengan fenomena kali ini? Bagaimana hikmah tersebut menambah keimanan kita? Ibnul Qoyyim dalam Miftah Daar as-Sa’adah berkata bahwa tidak ada yang lebih besar manfaatnya bagi hati dari pada membaca Al-Qur’an dengan mentadabburi dan merenungkannya karena bisa melahirkan perbuatan yang menghidupkan hati, menambah keimanan dan merasakan manisnya al-Qur’an. Selamat bertadabbur ya saudaraku 

11:54 AM | 0 comments | Read More

Gus Mus dan Penghargaan Yap Thiam Hien

Written By lungbisar.blogspot.com on Thursday, January 25, 2018 | 12:57 PM


Penghargaan Yap Thiam Hien untuk tahun 2017 jatuh ketangan KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus. Pengasuh pondok pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang, ini dinilai memiliki perhatian yang besar terhadap perjuangan dan tegaknya nilai-nilai hak asasi manusia.  

Gus Mus terpilih sebagai penerima penghargaan ini setelah melalui proses panjang, dimulai dari  penentuan peraih anugerah dengan mengumpulkan kandidat yang dihimpun dari jaringan/komunitas dan masyarakat luas sejak Mei 2017.

Setelah itu dilanjutkan dengan penilaian oleh lima orang juri yang terdiri dari Makarim Wibisono (diplomat senior), Siti Musdah Mulia (Ketua Umum ICRP), Yoseph Stanley Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Zumrotin K Susilo (aktivis perempuan dan anak), serta Todung Mulya Lubis sebagai Ketua Yayasan Yap Thiam Hien

Gus Mus dipilih dengan mempertimbangkan konteks politik Indonesia masa kini yang kerap menjadikan agama sebagai alat politik untuk meraih kekuasaan, dan Kiyai yang juga penyair ini merupakan ulama pertama yang menerima penghargaan Yap Thiam Hien.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara malam penganugerahan Yap Thiam Hien Award 2017 di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (24/1/2018).

Menurut Ketua Yayasan Yap Thiam Hien Award, Todung Mulya Lubis, Gus Mus memang tidak dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia seperti Yap Thiam Hien atau Munir Said Thalib, beliau lebih dikenal sebagai tokoh Nadhatul Ulama (NU), kiai, pimpinan pondok pesantren, dan budayawan.

Menurut penilaian Dewan Juri, Gus Mus telah banyak berkontribusi untuk merawat keberagaman di Indonesia. Perjuangan Gus Mus memang tidak ia perlihatkan melalui demonstrasi atau aksi-aksi lainnnya, tetapi  menorehkan pemikiran dan gagasannya soal keberagaman lewat tulisan serta tutur kata yang ia sampaikan ke seluruh santrinya.
12:57 PM | 0 comments | Read More

Selamat Jalan Darmanto

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, January 13, 2018 | 9:59 PM

Dunia sastera kita kembali berduka, penyair kenamaan tanah air, Darmanto Jatman meninggal dunia di RS dr Kariadi Semarang. Tokoh senior di bidang sastra yang juga guru besar emiritus di Undip tersebut wafat di usia 75 tahun.

Soedarmanto, lebih dikenal sebagai Darmanto Jatman atau juga sering menyingkat namanya menjadi Darmanto Jt lahir di Jakarta pada 16 Agustus 1942, namun sejak kecil bersama keluarga besarnya tinggal di Yogyakarta.

Sebagai penyair namanya mulai diperhitungkan sejak akhir dekade 60-an. Pada dekade 70-an, karya-karyanya banyak menginspirasi penyair-penyair muda kala itu dalam penciptaan karya dengan 'gaya ucap' yang khas Darmanto. Selain itu dia juga menulis karya-karya buku dan esai tentang kebudayaan. 

Selain aktif di dunia sastra, Darmanto juga mengajar di Undip, Semarang. Dia adalah guru besar emeritus pada Fakultas Psikologi Undip.
9:59 PM | 0 comments | Read More

Membakar Istana

Written By lungbisar.blogspot.com on Tuesday, January 9, 2018 | 2:29 PM

“Tersentak aku Lung,” kata Ngah Sompot memulai perbincangan.
“Apa pasal, Tanya Lung Bisar sambil memegang tangkai cangkir kopinya.
“Istana Siak mau dibakar orang,” jawab Ngah Sompot lagi,
“Ai mak, siapakah Gerang pelakunya ?” Tanya Lung Bisar dalam bahasa Indonesia yang bercampur aduk dengan logat Melayunya, hening sejenak, semua yang berada disekitar itu menoleh kepada dua konco blangkin yang sedang berbual itu.
Kemudian berkembanglah bual diseputar kejadian tersebut, ada yang menduga pelakunya adalah orang GILA, sebab jika WARAS dia tak mungkin melakukannya, sebab Istana Asherayah Al Hasyimiyah, merupakan bangunan sejarah yang menjulangkan nama besar Puak Melayu, dia memiliki tempat tersendiri dihati masyarakat tersebab istana itu menjadi saksi sejarah akan kejayaan Islam dan Melayu dimasa lampau.
“Mencederai istana tersebut, samalah artinya menyakiti hati masyarakat Riau,” kata Lung Bisar disela-sela sedotan tembakaunya.

“Betul Lung,” sahut yang lainnya kemudian bual dilanjutkan lagi, terdengar selentingan kabar bahwa ada yang mengaitkan peristiwa ini dengan pemilukada yang akan berlangsung tidak lama lagi, dimana salah satu calonnya adalah Syamsuar yang saat ini menjabat sebagai Bupati Siak. Helat besar Pemilihan Gubernur ini membuat banyak orang menjadi terjangkit demam Politik,  segala sesuatunya selalu dikait-kaitkan dengan politik. Sehingga begitu ada bahan langsung dipolitisir menjadi isu yang meresahkan.

“Oh tak bisa, itu tak bisa dibiarkan,” tukas Ngah Sompot, “kita berharap agar pihak berwajib, segera mengungkap dan menangkap pelakunya, inilah saatnya Polisi menunjukkan taringnya  sebelum peristiwa ini digoreng kian kemari menjadi isu liar yang meresahkan, kata Ngah Sompot lagi, dan kemudian ditimpal oleh Lung Bisar dengan kalimat penutup “Jangan karena marah sama Syamsuar, Istana yang dibakar.”
2:29 PM | 0 comments | Read More

Dari Rohil Untuk Riau

Written By lungbisar.blogspot.com on Monday, January 8, 2018 | 4:07 PM

Kenduri Demokrasi berupa pemilihan Gubernur Riau ditahun 2018 ini, menjadi sesuatu yang menarik untuk dicermati, Khusunya bagi masyarakat Rokan Hilir yang putera-putera terbaiknya ikut ambil bagian dalam kontestasi tersebut.

Gubernur Riau, Andi Rachman sebagai calon incumbent menggandeng Suyatno, yang saat ini menjabat sebagai Bupati Rokan Hilir. Keduanya didukung oleh Partai Golkar dan PDI Perjuangan.
Suyatno, meskipun bukan anak jati Rokan Hilir, namun yang bersangkutan sudah lama mengabdi dinegeri Seribu Kubah itu, karirnya sebagai ASN mulai dari Lurah sampai menjadi seorang Bupati.

Selanjutnya Koalisi Riau bersatu yang dihimpuin bersama Partai Amanat Nasional , Nasdem dan PKS, mengajukan Syamsuar  berpasangan dengan Edy Natar sebagai Calon Gubernur. Syamsuar yang saat ini menjabat sebagai Bupati Siak itu juga merupakan Putra Rokan Hilir yang lahir di Jumrah pada tahun 1954 Silam. Beliau juga menyelesaikan pendidikan Dasarnya di Jumrah dan Sekolah Menengah Pertamanya di Bagansiapi-api.

Selain Syamsuar dan Suyatno, ada pula Rusli Effendi, Pria kelahiran Pasir Limau Kapas ini diajukan sebagai Calon Wakil Gubernur, mendampingi Firdaus yang diusung oleh Partai Demokrat dan PPP.
Bagi masyarakat Rokan Hilir, munculnya nama Suyatno, Syamsuar dan Rusli Effendi, merupakan kebanggan tersendiri, karena kabupaten ini berhasil menghadirkan tokoh-tokoh yang mumpuni untuk diwakafkan memimpin Riau.

Disisi lain, kehadiran ketiga tokoh ini juga akan bertakibat  suara pemilih menjadi terbelah, Pemilih di Rokan Hilir jumlahnya dibawah Kota Pekanbaru dan Kampar, dengan rincian Pekanbaru, sebanyak 587.479 orang, disusul Kampar pada urutan kedua sejumlah  517.950 kemudian Rokan Hilir dengan jumlah pemilihnya sebanyak  420.884 orang.

Karena jumlah pemilihnya yang sedikit  dan menjadi rebutan bagi banyak pihak, bisa jadi Rokan Hilir dianggap bukan sebagai penentu dalam perolehan suara, namun sungguhpun demikian daerah ini akan menjadi pusat perhatian dan medan pertarungan yang berat bagi pasangan calon.


Semoga saja perebutan dan pertarungan tersebut tidak menimbulkan perpecahan diakar rumput, tidak menimbulkan masalah baru yang menimpa masyarakat Rohil yang ditahun-tahun terakhir ini dilanda krisis anggaran. Kita berharap rakyat semakin sadar dan dewasa dalam menentukan pilihannya. Sadar sepenuhnya bahwa Pemilukada ini merupakan pesta demokrasi yang menjunjung tinggi sportifitas dan merupakan jelmaan dari kedaulatan rakyat, bukan pesta yang menghamburkan uang untuk membli suara rakyat. 
4:07 PM | 0 comments | Read More

Rakyat Riau, Jangan Salah Pilih

Written By lungbisar.blogspot.com on Sunday, January 7, 2018 | 10:04 PM

Saat menyampaikan orasi politik pada deklarasi koalisi Riau Bersatu (PAN, NASDEM, dan PKS) mantan ketua MPR itu menyatakan jatuh hati kepada pasangan Syamsuar-Edy Natar Nasution.
Amien Rais mengajak massa yang menghadiri deklarasi di Lapangan Bukit, Pekanbaru, agar jangan salah pilih calon pemimpin karena pilihan itu akan dipertungjawabkan di akhirat.
Amin juga menyebut bahwa Syamsuar sebagai Bupati Siak yang sarat prestasi, dan kehebatan Brigjen TNI Edy Natar Nasution sebagai Komandan Resort Militer (Danrem) 031 Wira Bima.
Meski pasangan tersebut diusung koalisi beberapa partai, namun Amien yakin Syamsuar dan Edy akan lebih mengutamakan nasib rakyat, bukan partai pengusungnya.
"Kalau masih mikirkan partai juga, akan saya jewer kupingnya," katanya.
Oleh karena itu, ia meminta agar masyarakat Riau untuk memilih pemimpin yang mau  menempatkan kepentingan rakyat banyak diatas kepentingan golongannya. Sosok itu dinilai ada pada Syamsuar dan Edy Natar Nasution.

"Mereka adalah bapak dari masyarakat Riau. Saya yakin, beliau tidak akan pilih golongannya. Jadi, warga meski dari partai lain, jangan ragu untuk coblos mereka," kata Amien Rais.
Kombinasi birokrat-militer dinilainya menjadi perpaduan yang tepat untuk memajukan Riau. Apalagi, ia melihat bahwa daerah-daerah dengan sumber daya alam yang melimpah, banyak merugi karena hasil alamnya banyak dibawa ke luar negeri.
Apalagi, sosok Edy Nasution dengan latar belakang militernya diyakini akan lebih mementingkan kesejahteraan rakyat dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Kalau ada tauke-tauke datang dari luar negeri biar ditendang sama sepatu Pak Edy ini," demikian Amien Rais. (lb)
10:04 PM | 0 comments | Read More

Politik Santun Puak Melayu

“Usah kito berpolimik, tujuan kito berpolitik untuk memperpanjang silaturahmi. Jangan sampai gegara politik kite terpecah belah. Kepada pendukung, sayo imbau untuk berlapang dada.”

Demikianlah ungkapan Syamsuar , saat menanggapi bertele-telenya masalah izin deklarasi di Purna MTQ, di satu sisi Sekdaprov Riau ketika mereka temui membolehkan deklarasi di sana namun OPD pengelola Purna MTQ tidak membolehkannya

Atas himbauan calon Gubernur Riau yang juga Bupati Siak itu, akhirnya
DPW PAN Riau memutuskan deklarasi pasangan Syamsuar-Edy Natar, dilaksanakan di Lapangan Bukit, Senapelan, Pekanbaru. Masalah waktu, setelah habis Zuhur atau pukul 14.00 WIB.

“Kita tak mau berpolemik terkait tempat deklarasi ini, memang semula di purna MTQ tapi kita pindahkan saja ke Lapangan Bukit,” kata Sekretaris DPW PAN Riau, T Zulmizan Assegaf, Jumat (5/1/2018) di Rumah PAN, Jalan Arifin Achmad.
Terkait pindahnya tempat deklarasi, Syamsuar tak merunsingkannya. Kata dia, kalau tidak dibolehkan di MTQ dicari tempat yang dibolehkan.

Sesuai rencana, prosesi deklarasi dimulai dari Masjid Raya Senapelan. Syamsuar-Edy Natar- bersama pengurus dan simpatisan partai pengusung, PAN, NasDem, dan PKS, terlebih dahulu Salat berjemaah di Masjid peninggalan Sultan Siak itu, kemudian dilanjutkan dengan  melakukan ziarah ke makam Sultan, setelah itu Syamsuar dan Edy Natar diarak kelapangan Bukit dengan iringan pemain kompang.

7:39 PM | 0 comments | Read More

Pertarungan Menuju Riau 1

Written By lungbisar.blogspot.com on Wednesday, January 3, 2018 | 3:53 PM

Pasangan Syamsuar dan Edy Nasution nampaknya bakal ikut meramaikan pertarungan pada pemilukada Riau, keduanya sudah mendapat dukungan dari Partai Amanat Nasional (PAN) serta Nasdem, dan kemungkinan juga PKS akan  menyusul ikut memberikan dukungan.

PAN yang semula diduga akan mengusung Firdaus (Wali kota Pekanbaru) akhirnya menyerahkan Surat Keputusan (SK), yang menetapkan pasangan Syamsuar dan Brigjen Edy Natar Nasution di Pilgub Riau. Surat keputusan itu diserahkan langsung oleh Ketua Umum dan Sekjen PAN pada 2 Jan 2018 kemarin.

Sebagai catatan saat ini PAN memiliki 7 kursi di DPRD Riau, NasDem 3 kursi dan PKS 3 kursi, dengan demikian syarat untuk maju dalam Pilgub Riau sudah terpenuhi. Pasangan ini merupakan perpaduan antara Riau pesisir dan riau daratan.

Syamsuar merupakan kader Partai Golkar yang menjabat sebagai bupati dua periode di Siak, namun pada helat pemilukada ini Golkar bersama PDIP telah memutuskan untuk mengusung Gubernur Riau incumbent Arsyadjuliandi Rachman yang berpasangan dengan Suyatno  yang kini menjabat sebagai Bupati Rokan Hilir.

Pemilukada Riau kali ini diramaikan oleh beberapa kepala daerah, diantaranya Andi Rachman sendiri selaku Gubernur dan calon Incumbent, disusul oleh Syamsuar  Bupati Siak,  dan kemungkinan juga Walikota Pekanbaru Firdaus serta Bupati Palalawan Haris yang juga akan ikut meramaikan kontestasi ini. Selain nama tersebut ada pula nama anggota parlemen asal Riau yakni Lukman Edy, mantan anggota Kabinet zaman SBY yang digadang-gadang oleh PKB.

Rakyat tentunya akan melihat sendiri seperti apa nantinya pertarungan sengit itu akan berlangsung, namun satu hal yang menjadi harapan adalah siapapun yang terpilih diharapkan mau bekerja keras untuk mengangkat harkat dan martabat negeri ini, mendahulukan kepentingan orang banyak  dari kepentingan pribadi dan kelompoknya serta mau berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Riau, semoga saja.
3:53 PM | 0 comments | Read More

Politik Uang, Sara dan Hoax

Written By lungbisar.blogspot.com on Tuesday, January 2, 2018 | 4:30 PM

Tahun 2017 telah berlalu dan hari ini kita mulai menapak ditahun baru, tahun 2018 yang juga disebut sebagai tahun politik, tahun diselenggarakannya pemilukada serentak disejumlah daerah di Indonesia. Pemilukada ini sendiri juga merupakan pemanasan menuju tahun politik berikutnya 2019 saat diselenggarakannya pemilihan umum dan pemilihan presiden.

Partai politik yang merupakan pemegang teraju dan pemain utama dalam kontestasi ini sudah terlihat mengambil ancang-ancang, mempersiapkan diri untuk merebut hati rakyat. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari mempersiapkan kandidat terbaik hingga sampai dengan membajak kader partai yang hobby lompat pagar.

Tiap-tiap kader parpol ditempa agar mampu meningkatkan elektabilitas diri dan partainya, sehingga terkadang ada pula parpol yang sengaja merekrut artis dengan harapan dapat menjadi pengumpul suara, tak perduli apakah sang artis tersebut mumpuni atau sebaliknya.

Pertarungan politik ini juga bakal menumbuh suburkan Politik uang, penyebaran Berita Hoax dan isu Sara, ketiganya merupakan masalah yang selalu muncul berbarengan dengan penyelenggaraan Pemilu, dan inilah  penyakit akut yang bergelayutan pada sendi-sendi demokrasi kita.

Ketiganya merusak dan menodai kemurnian nilai demokrasi itu sendiri, kandidat tidak lagi menggunakan cara yang sopan dan beradab dalam memenangkan pertarungan, dan pemilih juga tidak lagi menggunakan akal sehatnya dalam menentukan pilihan. Pemilu yang seperti ini sudah dapat dipastikan akan melahirkan wakil rakyat dan pemimpin yang tidak sehat pula, dan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup bangsa.

Untuk mencegah hal tersebut diatas, tidak berlebihan kiranya jika rakyat menaruh harapan kepada Partai politik, KPU, Penegak Hukum. Partai politik hendaknya dapat menempa kadernya agar menjadi kader militant yang berdedikasi, cerdas, inisiatif ulet dan mahir serta mengedepankan sikap politik yang santun. Tidak menggunakan uang uantuk membeli suara, tidak mengompori rakyat dengan mehembuskan isu Sara dfan tidak menyebarkan berita Hoax untuk menyerang lawan politik.

KPU sebagai pihak yang diamanahkan menyelenggarakan Pemilu, dan para penegak hukum yang dipercaya sebagai benteng keadlian, harus benar-benar mampu menjadi lembaga yang independen, tidak berpihak kemanapun dan tidak pula bisa diintervensi oleh siapapun, berdiri kokoh untuk dan atas nama kepentingan rakyat sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga Pemilu ini bisa berlangsung sebagaimana mestinya.

Intinya, ketiga institusi tersebut diatas harus benar-benar menjalankan amanah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing, jika abai,  maka bukan tidak mungkin Politik Uang, Isu Sara dan Hoax akan tetap mewarnai kontestasi ditahun politik mendatang, hasil akhirnya negeri ini semakin kencang larinya menuju jurang kehancuran.
4:30 PM | 0 comments | Read More

Wakil Rakyat Makan Sumpah

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, December 23, 2017 | 11:03 AM

(Catatan ringan untuk Tuan Hidayat Nur Wahid)
Dalam satu kesempatan di Bengkulu, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengingatkan agar masyarakat mempergunakan hak pilihnya dalam pemilu dan tidak mengambil sikap Golput. Menggunakan hak suara dengan baik merupakan salah satu tanda mencintai Indonesia.
Apa yang disampaikan oleh HNW ini, sesungguhnya rakyat sudah mahfum, bahwa menggunakan hak suara itu merupakan wujud peran aktif rakyat dalam menentukan masa depan bangsanya. Rakyat sadar sesadarnya bahwa Pemilu dilaksanakan sebagai pemenuhan amanah konstitusi yang menyebutkan kedaulatan berada ditangan rakyat, justeru itulah rakyat diundang untuk memberikan suaranya, menentukan siapa yang akan menjadi wakilnya dilegislatif dan siapa yang dipercaya untuk menjadi pemimpin.
Wakil rakyat dan pemimpin terpilih akan bekerja dengan sepenuh hati untuk dan atas nama kepentingan rakyat, berpikir sekuat tenaga bagaimana nasib rakyat hari ini lebih baik dari kemarin dan bisa menatap hari esok dengan harapan hidup yang lebih sejahtera, justeru itu pulalah kiranya rakyat ikhlas merogoh koceknya untuk membayar gaji wakil dan pemimpinnya.
Menggunakan hak pilih dengan cara datang ketempat pemungutan suara sesungguhnya bukanlah hal yang berat, tapi masalahnya bukan sesederhana itu. Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab oleh HNW adalah “Apakah Wakil rakyat dan pemimpin yang sudah memenuhi kehendak rakyat, bekerja dan berbuat untuk dan atas nama kepentingan rakyat.
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan secermat mungkin sebelum himbauan itu dilontarkan secara berulang-ulang. Dimata rakyat hari ini terdedah sikap prilaku sebagian wakil rakyat dan pemimpin yang korup. Mereka bekerja asal-asalan tetapi hak dan pendapatan mereka tidak boleh berkurang.
Daya beli masyarakat menurun ditengah gencarnya usaha pemerintah menguber-ubar rakyat sebagai wajib pajak. Artinya, pemerintah hanya mengejar pendapatan Negara tanpa melihat kondisi hidup masyarakat.
Hampir tiap hari media cetak dan elektronik memberitakan sikap dan prilaku buruk wakil rakyat. Sejumlah anggota DPR menjadi pesakitan dikursi terdakwa karena mencuri uang rakyat. Bahkan Ketua DPR saat ini sedang menjalankan persidangan karena terjerat kasus korupsi e – KTP. Kasus ini baru diumulai dan berkemungkinan juga akan menyeret nama lain dari Senayan.
Partai politik sebagai pilar demokrasi, yang seharusnya menyiapkan kader partai untuk menjadi pemimpin bangsa dan wakil rakyat yang baik juga banyak yang dalam keadaan bermasalah. PKS belum selesai urusannya Fachri Hamzah. Partai Golkar dalam lima tahun terakhir ini sempat melakukan Munaslub, itu artinya masih ada masalah. PPP sampai hari ini juga belum selesai urusannya dengan Jan Farid dan masih terlalu panjang bila diurai satu persatu.
Memang tidak semua anggota DPR itu berprilaku buruk dan korup, masih ada yang baik dan berpikiran jernih, tapi sederet nama politisi Senayan yang tertangkap karena korupsi itu tidak bisa disangkal telahmelukai perasaan rakyat yang memilihnya, sehingga rakyat sampai pada kesimpulan bahwa yang terlihat bersih itu hanya karena bernasib baik, belum tertangkap saja.
Kinerja wakil rakyat sekarang ini juga sangat buruk,untuk tahun 2017, target Prolegnas sebanyak 52 RUU, realisasinya hanya enam yang mampu diselesaikan.
Rakyat tau bahwa Gedung Parlemen juga diisi oleh orang-orang malas, sering bolos dan mengantuk disaat siding. Tingkat kehadiran anggota DPR sepanjang tahun 2017 ini di bawah 50 persen. Yang paling parah adalah Fraksi PKB, hanya 33,71 persen, dan tingkat kehadiran tertinggi Fraksi Hanura sebesar 50,76 persen.

Paparan kondisi sikap dan prilaku wakil rakyat seperti diatas itu, merupakan jawaban atas himbauan HNW tentang Pemilu, bukan rakyat yang tidak mau berpartisipasi, bukan rakyat tidak sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga Negara, tetapi sikap dan prilaku wakil rakyat itulah yang membuat rakyat enggan mengikuti PEMILU.
11:03 AM | 0 comments | Read More

Novanto, Bernyanyilah

Setya Novanto kembali menjalani sidang lanjutan pada Rabu kemarin (20.12.17) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Terdakwa kasus korupsi proyek e-KTP itu kini sudah sehat wal afiat dan mampu menjawab pertanyaan hakim.
Novanto berjalan sendiri menuju kursi terdakwa, tanpa dipapah oleh siapapun seperti pada permulaan sidang perdana pekan lalu. Ketika hakim menanyakan kesehatannya dia menjawab dengan nada datar "Sehat, yang mulia,".
Pengadilan terhadap Novanto menjadi babak baru dalam kasus korupsi e KTP, public berharap Novanto akan membuka lembaran  ingatannya dan menyingkap tabir hitam dibalik kasus yang menelan segudang uang rakyat.
Uang yang nilainya triliyunan rupiah itu diduga mengalir keberbagai pihak, dan daftar nama-nama pihak yang menerimanya ada dalam memory Novanto, atau setidak-tidaknya sudah pernah diungkap dalam dakwaan dan keputusan hakim terhadap terdakwa sebelumnya.
Dalam surat dakwaan pertama terhadap Novanto yang telah digugurkan oleh praperadilan mencantumkan tiga nama elit partai yang kemudian pada surat dakwaan yang kedua menjadi hilang.
Hilangnya beberapa nama kader partai dimaksud sempat menjadi pertanyaan bagi pengaca Novanto, dan KPK menjawabnya dengan enteng, dalam keterangan KPK yang terakhir nama tersebut bukan dihilangkan, tetapi disusun berdasarkan kluster.
Pertanyaan penasehat hukum Novanto tersebut menyiratkan bahwa nama yang hilang  timbul dalam surat dakwaan itu mungkin bakal muncul kembali. Kemungkinan itu sangat besar sekali , karena pada dakwaan dalam kasus yang sama terhadap mantan pejabat Kemendagri, Irman dan Sugiharto, , nama empat kader PDI-P, Arif Wibowo, Yasonna Laoly, Olly Dondokambey dan Ganjar Pranowo, disebut-sebut sebagai pihak yang kebagian Durian runtuh e-KTP. Arif Wibowo disebut-sebut menerima USD108.000, Olly Dondokambey senilai USD1,2 juta, Ganjar Pranowo senilai USD520 ribu, dan Yasonna Laoly sebesar USD84 ribu.
Menurut keterngan Ganjar saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (30/3) lalu, dia pernah tiga kali ditawarkan uang terkait proses pembahasan proyek e-KTP. Ia juga pernah diberikan bungkusan yang diduga berisi uang oleh  anggota Komisi II DPR Mustoko Weni, tetapi ditolaknya.
"Saya enggak ingat, sekali, dua kali atau tiga kali di dalam ruang sidang. Dia bilang, 'Dek ini ada titipan'. Saya bilang tidak usah. Dari awal saya tidak mau terima, saya bilang ambil saja," kata Ganjar kepada majelis hakim.
Ganjar, atau pihak lainnya bisa saja membantah pernah menikmati hasil jerih payah kong kalikong uang siluman e-KTP, tapi KPK tentu tidak akan berhenti disitu saja. Saat melakukan jumpa pers di Kuningan pada Rabu 20 Des kemarin, Juru bicara KPK Febri memastikan bahwa nama tiga politisi PDI-P dimaksud tetap ada dalam rangkaian kasus E-KTP.
Bukan hanya sebatas tiga nama itu saja, masih ada kemungkinan nama lain, karena menurut dugaan uang yang dibagi-bagikan kepada sejumlah anggota DPR itu jumlahnya sangat besar sekali, yakni senilai US $ 12,8 juta plus Rp. 44 miliar. (waw), siapa saja yang menerima dan dari Partai mana saja mereka ?.
Pertanyaan inilah yang bermain dibenak public, dan untuk menjawabnya dibutuhkan keikhlasan Novanto untuk berdendang ria, bersiul-siul kecil sambil menyebut nama teman dan koleganya yang telah ikut serta menikmati uang tersebut.
Jika Novanto bungkam dan menyimpan rapat-rapat dalam hatinya, maka samalah artinya dia ingin tenggelam sendiri dilautan kasus yang purna dahsyat ini. Tapi kemungkinan itu sangat kecil sekali, karena kita yakin bahwa Novanto tentu tidak mungkin mau memikul beban yang berat ini dipundaknya sendiri, kebersamaan harus dibangun, sebagaimana dulunya mereka berjamaah saat menikmati lezatnya uang e-KTP.

Untuk itu mari kita berdoa dengan tulus ikhlas, agar NOVANTO tetap sehat wal afiat dan mau bernyanyi dengan lantang, tanpa dihalangi serta tidak ada pula tangan kuat yang membungkamnya.
10:57 AM | 0 comments | Read More

Fachri dan KPK

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menjalankan tugasnya dengan baik. Untuk itu, lanjut dia, saat ini peran KPK sudah tidak diperlukan lagi.
"Saya kira 14 tahun ini KPK sudah menjadi trigger. Itu menurut saya sudah cukup," ujar Fahri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (13/10/2017).
Pernyataan Fachri ini sangat menarik untuk disimak, karena selama ini kita tau sang wakil rakyat ini amat getol menyerang KPK, dia seperti gerah atas keberadaan lembaga anti rasuah ini.
Tercatat sejak KPK menciduk Luthfi Hasan yang waktu itu menjabat sebagai presiden PKS, mulailah nampak rasa tidak puasnya terhadap KPK, pernyataan Fachri berhamburan dikutip oleh berbagai media yang isinya tentu saja mengumbar kelemahan KPK.
Fachri mungkin sudah sampai pada titik jenuh, hak angket yang digunakannya untuk membenamkan KPK kedasar laut yang paling dalam belum jua menunjukkan hasil.
Benar adanya, bahwa KPK sudah berusia 14 tahun, dan keberadaannya selama ini tidak membuat koruptor makin berkurang, malah sebaliknya semakin menggila. Pelaku kejahatan tindak pidana Korupsi bukannya surut tapi malah kwalitas dan kwantitasnya makin canggih, kalau dulu korupsi dibawah meja sekarang habis dengan meja-mejanya sekalian dikorup.
Merajalelanya tindak pidana korupsi ini bukan berarti KPK lemah, tapi karena kekuatan koruptor itu yang luar biasa. KPK memang memiliki fungsi pencegahan, namun bila tidak tercegah tentu penindakan yang harus dilakukan. Barangkali inilah yang membuat Fachri dan sekelompok orang tertentu merasa gerah, karena mereka ingin dicegah tetapi keberatan bila ditindak.
Keberatan atas kerja KPK dalam hal penindakan ini tercermin dari sikap Fachri yang selalu mempersoalkan operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK, bahkan secara detail dan panjang lebar dia menjelaskan bahwa dalam literature hukum  kita tidak mengenal istilah operasi tangkap tangan, artinya Fachri dengan serius mempersolkan kerja KPK yang belakangan ini sangat getol menangkap para pencoleng uang rakyat.
Sebagai sebuah lembaga yang sudah bekerja selama 14 tahun, KPK sangat diapresiasi oleh rakyat, bahkan sampai hari ini rakyat masih percaya bahwa KPK mampu menjalankan fungsinya sebagai lembaga yang bekerja untuk memberantas korupsi.

Pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh KPK yang jumlahnya masih banyak berkutat pada penindakan dan belum menunjukkan hasil dalam hal pencegahan adalah hal lain, dan tidak berkurangnya jumlah pelaku korupsi tidak dapat dianggap sebagai kegagalan KPK, dan justeru karenanya Fachri tidak dapat menjadikan itu sebagai alasan untuk membubarkan KPK, bahkan sebaliknya sebagai wakil rakyat Fachri harus berjuang untuk membuat KPK lebih kuat lagi, sehingga tak satupun ada Koruptor yang lolos dari jeratan hukum.
10:54 AM | 0 comments | Read More

Dibawah Pohon Beringin

Rapat pleno DPP Partai Golkar akhirnya memutuskan Airlangga Hartanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar definitif mengantikan Setya Novanto. Keputusan ini diambil dalam rapat yang berlangsung alot dan diwarnai mundurnya Azis Syamsudin dalam perebutan kursi pucuk pimpinan Golkar.
Keputusan Rapat pleno ini tentunya membuat lega sebagian besar kader Golkar yang sejak awal menginginkan perubahan, terlebih setelah Setya Novanto, ketua umum Partai ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka untuk yang kedua kalinya.
Novanto, walaupun sudah berstatus sebagai tahanan, namun dia tetaplah seorang Ketua Umum, dan bisa mengendalikan partai secara syah. Untuk itulah barangkali dia membuat kebijhakan dengan menunjuk Aziz Syamsuddin sebagai penggantinya ketika  dia menyatakan mundur dari ketua DPR. Keputusan itu syah adanya, dan ditandatangani oleh ketua dan sekejen Partai, namun menimbulkan riak kecil ditubuh Partai,  dan berujung pada penolakan sebagian besar anggota Fraksi Golkar di DPR.
Penetapan tersangka terhadap Novanto berdampak pada tingkat elektabilitas Golkar, kepercayaan public jadi menurun, nama baik partai jadi tercoreng. Dan terlebih lagi dimedia social bertebaran meme yang menyudutkan sang ketua, para pemegang kepentingan dan segenap kader Golkar tentu tidak ingin pimpinannya menjadi bahan olok-olokan, dan bila keadaan ini terus berlanjut bukan tidak mungkin akan membuat Golkar akan terpuruk dan sulit bangkit menghadapi tahun – tahun politik kedepan. Kekhawatiran yang sama juga diungkapkan oleh sesepuh Golkar seperti Akbar Tanjung dan Jusuf Kalla.
Untuk itulah barangkali demi menyelematkan nama besar partai, keputusan harus diambil dan ketua umum harus diganti. Kerindangan Pohon Beringin harus tetap dijaga, agar seluruh kader golkar bisa nyaman berteduh dibawahnya, maka rapat pleno memutuskan, menetapkan Airlangga sebagai ketua umum.
Setelah rapat pleno memutuskan Airlangga menggantikan Novanto sebagai Ketua Umum, bukan berarti masalahnya selesai, penetapan itu masih sangat premature, masih bisa dipersoalkan oleh pihak-pihak yang mungkin memiliki kepentingan atas jabatan tersebut. Masih ada dua tahap lagi yang harus diselesaikan oleh Airlangga, yakni Rapim dan Munslub.
Rapim akan memutuskan kapan saatnya Munaslub, dan Munaslub akan melakukan pengesahan Airlangga Hartanto sebagai Ketua Umum Golkar secara definitif, namun tidak tertutup kemungkin saaat Munaslub berlangsung isunya jadi berkembang, sehingga terjadi pemilihan Ketua Umum yang akan diikuti oleh beberapa calon.

Kemungkinan itu bisa saja terjadi, karena  menurut AD/ART Golkar kewenangan memilih dan menetapkan ketua umum bukanlah Rapat Pleno, tapi Munas atau Munaslub, namun sungguhpun demikian, keputusan rapat pleno itu sudah menjadi titik terang bagi Golkar untuk menyelesaikan kusut masai dan kemelut ditubuh Partai, lebih dari itu semua Jokowi tentu ikut bergembira, karena sejenak setelah terpilih dengan lantang Airlangga menyebutkan bahwa "Partai Golkar berkomitmen mendukung pemerintahan Pak Jokowi-JK sanpai 2019 dan rapimnas lalu mendukung Bapak Presiden mencalonkan diri 2019-2024. Dan keputusan itu membuat Jokowi menjadi nyaman berteduh dibawah Pohon Beringin yang rindang.
10:52 AM | 0 comments | Read More

Coin Untuk Novanto

Sebuah foto yang menunjukkan Setya Novanto sedang terkulai layu di RS. Premier Jakarta, dia terbaring di ranjang dengan wajah lemah. Nampak terlihat  selang dan masker menutupi hidungnya, sebuah selang oksigen yang berfungsi sebagai alat bantu pernapasan.
Dilengannya terpasang pula selang infus dilengkapi dengan layar monitor  penunjuk data rekam detak jantung di kiri atas. Setnov, demikian dia biasa dipanggil, terbaring karena menderita berbagai macam penyakit, seperti jantung, vertigo, dan penyakit gula darah.
Hari-hari sebelumnya, Setnov Nampak terlihat segar bugar, tanpa sedikitpun ada tanda-tanda bahwa dia sedang menyimpan berbagai penyakit, namun ketika panggilan KPK yang berbarengan dengan sidang praperadilannya muncul disaat itu pula ada gambar beliau, terbaring dirumah sakit.
Saya tak bermaksud mengaitkan persoalan hukum yang sedang dihadapinya dengan penyakit yang sedang dideritanya, saya hanya merasa iba melihatnya. Justeru itu pulalah kiranya muncul ide untuk meringankan beban beliau.
Melalui tulisan singkat ini saya  ingin mengetuk pintu hati pembaca yang budimaan untuk urun rembug. Jika ada yang berkenan saya ingin mengajak rekan-rekan mengumpulkan koin yang nantinya disumbangkan kepada beliau.
Barangkali, sebagai wakil rakyat dan ketua Parlemen, sudah banyak hasil jerih payah dan sumbangan pikirannya yang kita nikmati, namun mungkin kita tidak menyadarinya, dan dengan dasar itu rasanya cukup sudah alasan kita untuk meringankan tangan, menyisihkan sebagian rezeki kita untuk membantu beliau.
Tidak banyak, cukup seribu rupiah perorang, dan bila kita kumpulkan secara bersama hasilnya pasti memuaskan, dan saya juga berkeyakinan Pak Novanto tidak keberatan menerimanya, bahkan mungkin beliau akan sadar bahwa sesungguhnya rakyat Indonesia cukup memperhatikannya.
Saya sadar, bahwa seorang Setnov tidak mengharapkan hal ini. Apa kurangnya beliau, dari segi finansial dia sangat berkecukupan. Jika hanya sekedar untuk biaya perawatan seperti ini sangat kecil artinya bila diukur dengan ketebalan kantong Setnov. Tapi, ya itu tadi, sebagai rakyat yang diwakilinya tentu tidak ada salahnya jika kita turut merasakan deritanya dengan urun rembug membantunya.
Saya tidak mengda-ada, tetapi hanya sekedar ingin turut merasakan kesulitan yang sedang dihadapi oleh seseorang yang sudah bersedia mewakili kita selama bertahun-tahun di Parlemen. Dan semoga koin yang terkumpul itu, akan menjadi bukti bahwa rakyat Indonesia masih ingin melihat beliau bangkit, berdiri gagah tegak lurus menghadapi tuduhan KPK.



10:51 AM | 0 comments | Read More

Demokrasi dan TNI

Reformasi yang digulirkan pada Mei 1998, menjadi awal dari sebuah era baru dalam sejarah Indonesia yang sebelumnya dikungkung oleh rezim Orde Baru yang katanya otoriter. Sejak itu negeri ini melangkah kedepan memasuki gerbang kehidupan baru  yang disebut dengan istilah Era Reformasi.
Era ini dipandang sebagai awal kebangkitan demokrasi dengan system perpolitikan yang lebih terbuka dan liberal, kekuasan Negara diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sipil (civil society). Daerah diberikan kekuasaan (Otonom) yang lebih luas dan tidak lagi sepenuhnya diatur  oleh Pemerintah Pusat (desentralisasi).
Dwifungsi ABRI yang semula memberikan kesempatan kepada TNI untuk memainkan peran politik dan menduduki jabatan sipil ditiadakan dan sejak itu pula TNI dikembalikan kepada fungsinya semula sebagai pertahanan Negara, atau yang lebih dikenal dengan istilah Back to Basic (kembali kebarak).
Bergulirnya Reformasi diharapkan mampu menjawab tuntutan rakyat sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa yakni mencapai masyarakat adil dan makmur. menjauhi prilaku korupsi dan berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.  Justeru itulah peran masyarakat sipil ditingkatkan dan Dwifungsi ABRI ditiadakan.
Setelah hampir dua puluh tahun berlalu, jabatan politik sepenuhnya sudah menjadi hak sipil, TNI sudah benar-benar kembali kebarak, meninggalkan kursi birokrasi, dan TNI bahkan rela tidak diikutsertakan dalam pemilu, maka pertanyaan yang muncul adalah apakah pelaksanaan demokrasi yang dielu-elukan itu sudah berjalan sesuai dengan cita-cita reformasi ?
Kenyataannya kemudian yang terjadi adalah sebatas janji manis penghias bibir, ungkapan muluk saat kampanye, sisanya rakyat menyaksikan korupsi semakin parah. Setengah dari jumlah kepala daerah menjadi tersangka korupsi. Puluhan anggota DPR dan sebagian anggota kabinet tersangkut kasus Korupsi, berbagai pimpinan birokrasi semakin korup, pungli merajalela, sehingga memunculkan istilah kalau dulu pejabat korupsi dibawah meja, kini dikorup sama mejanya sekalian.
Negeri ini seperti sudah kehilangan arah, ibarat  kapal yang terombang ambing dilaut, dipukul ombak badai tanpa pernah mencapai pelabuhan tujuan. Demokrasi yang kita dengungkan sebagai koreksi total terhadap pemerintahan Orba yang Otoriter tidak labih hanya sebuah slogan kosong tanpa isi. Kesejahteraan rakyat dan ketenteraman hidup semakin jauh dari harapan.
Partai Politik yang diharapkan menjadi Pilar Demokrasi ternyata lebih sibuk dengan urusannya sendiri, menyelesaikan masalah internal partai, dualisme kepemimpinan, hiruk pikuk dan cakar-cakaran sesama kader dan pengurus partai.
Ada Partai Politik yang hanya dikuasai oleh trah tertentu, yang pengurus terasnya terdiri dari ayah, anak, ipar dan keluarga dekatnya. Pendidikan kader partai hampir tak pernah kedengaran, sehingga yang maju dan berkuasa disebuah partai tertentu orangnya diseputar itu saja, kader karbitan yang masak dipaksa sesuai dengan kebutuhan sesaat.
Ternyata menyerahkan urusan politik sepenuhnya ketangan sipil bukanlah merupakan jaminan Demokrasi akan berjalan dengan baik, dan campur tangan TNI dalam kekuasaan Negara seperti masa lalu ternyata bukan pula hal yang buruk, dan inilah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri oleh bangsa ini

Tulisan ini bukan bermaksud ingin mendorong TNI untuk kembali berpolitik, dan bahkan saya masih berharap agar itu tidak terjadi, tapi jika keadaan sudah memaksa, dan rakyat tidak bisa berharap lagi pada demokrasi, maka kehadiran tentara dalam politik kita menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi.
10:47 AM | 0 comments | Read More

Negeri Gaduh

Negeri ini nampaknya tidak pernah lepas dari soal kegaduhan, mulai dari sikap pemerintah yang begitu ngotot mengeluarkan Perpu tentang pembubaran Ormas, hingga sampailah kepada urusan dapur, yakni kelangkaan Garam.
Masih soal urusan dapur, baru-baru ini kita dikejutkan oleh hebohnya berita tentang Beras oplosan, yang kemudian menimbulkan polemik tak berkesudahan ditengah masyarakat, disatu pihak polisi menganggap ada pelanggaran hukum sementara dipihak lain muncul pembelaan bahwa apa yang dilakukan oleh pedagang beras murni urusan bisnis.
Urusan Beras ini tidak urung memancing perdebatan, mulai dari pernyataan menteri Sosial, bulog hingga sampai ke Senayan, pokoknya heboh dan gaduh, padahal yang dibutuhkan rakyat bukan kegaduhan yang memuakkan, tapi ketenteraman dan ketersediaan bahan pangan yang cukup dengan harga terjangkau.
Pekerjaan wakil rakyat di Senayan juga masih menimbulkan kegaduhan, Rancangan Undang-Undang Pemilu yang sudah digodok sedemikian lama akhirnya diputuskan dengan cara  vooting, bukan  diselesaikan dengan jalan musyawarah mufakat sebagaimana yang diamanatkan oleh sila keempat dari Pancasila, meskipun sudah disyahkan menjadi Undang-Undang, namun bukan berarti polemik soal UU Pemilu akan berhenti dengan sendirinya, tapi malah tetap gaduh karena pihak yang merasa tidak puas masih memiliki kesempatan menggugat ke Mahkamah Konstitusi.
Diluar mahkamah, terdengar suara para politisi yang saling berbantahan, ketua umum partai Demokrat dan Gerindra menyebut UU itu mencederai Demokrasi dan menzolimi rakyat sementara pemerintah dan partai pendukungnya tersenyum riang sambil menunggu kesempatan untuk melanjutkan langkah berikutnya dalam pencalonan presiden.
Masih diseputar Parlemen, terdengar pula  gaduh antara KPK dengan Pansus Hak Angket, Pansus berdalih ingin menguatkan KPK sementara Publik memandang Parlemen sedang berusaha melemahkan KPK. Masing-masing pihak bersitegang urat leher dalam adu argumentasi, disamping itu tidak pula kalah gaduhnya soal status ketua DPR yang sudah jadi tersangka, dengan alasan demi martabat lembaga perwakilan rakyat, banyak pihak yang meminta agar sang ketua mengundurkan diri, itu lebih baik daripada dimundurkan secara paksa.
Kegaduhan yang sedemikian rupa disusul pula dengan kelangkaan garam yang terjadi di berbagai daerah. Sulitnya mendapatkan Garam menimbulkan harganya jadi melejit, ujung-ujungnya para pedagang kecil yang memproduksi makanan skala rumahan jadi menjerit.
Kelangkaan terjadi di semua jenis garam, mulai dari Garam dapur, Garam halus, hingga garam kasar semuanya langka. Kelangkaan ini membuat harganya naik tinggi, berlipat-lipat, yang tidak langka barangkali hanya rokok merk Gudang Garam yang tentunya tidak sehat bila dicampur dengan bumbu masakan.
Dampak hilangnya Garam dipasaran ini membuat rakyat yang usahanya menggunakan garam untuk pembuatan produk. Usaha Ikan Asin, Telur Asin, dan usaha-usaha kecil lainnya menjadi terpukul, dan lebih terpukul lagi, kelangkaan ini terjadi diluar perhitungan, sebab tidak masuk akal rasanya negeri dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia ini akan mengalami krisis garam, semestinya menjadi produsen Garam terbesar dunia.

Hilangnya Garam dipasaran ini bukan hanya sekedar menimbulkkan kegaduhan, tetapi memunculkan kecurigaan, jangan-jangan ada tangan kotor yang bermain sehingga Garam menjadi hilang dan pemerintah didesak untuk mengatasinya dengan cara mengimpor Garam dari luar, kalau ini yang terjadi tentulah akan membuat keringat petani Garam menjadi lebih asin dan semakin gaduh.
10:36 AM | 0 comments | Read More