Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya
Powered by Blogger.

Visitors

Powered By Blogger

Featured Posts

Like us

ads1

Calon Wagub Riau (2)

Written By lungbisar.blogspot.com on Friday, January 20, 2017 | 2:48 PM

Topik yang paling banyak diperbincangkan oleh masyarakat Riau saat ini  adalah soal calon wakil Gubernur Riau. Andi Rahman selaku pemegang terjau kuasa dari Partai Golkar di Riau yang juga Gubernur Riau, telah mengusulkan dua nama “Ahmad Kuadrat” yang satu Ansar Ahmad dan satunya lagi Ahmad Syah Harrofie.

Pengajuan nama tersebut tentu sudah melalui berbagai pertimbangan, Golkar sebagai satu-satunya partai yang berhak mengajukan nama calon wagub, tentu sudah mempertimbangkan buruk baik, dan untung ruginya mengajukan nama-nama tersebut. Buruk baik bagi masyarakat tempatan dan untung ruginya bagi Partai itu sendiri. Ansar Ahmad kini menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Kepri, mantan Bupati Bintan serta pernah mencalonkan diri sebagai Wagub Kepri namun kalah.

Sementara Ahmad Syah Harofie adalah mantan ketua Ketua DPD KNPI Riau yang kini menjabat sebagai Asisten I Setda Prov, dan sebelumnya beliau juga pernah dipercaya sebagai PJ  Bupati Bengkalis. Munculnya nama Ansar Ahmad ini sungguh menjadi sebuah tanda Tanya besar bagi masyarakat Riau, statusnya sebagai mantan Bupati Bintan dan ketua DPD Golkar di Kepulauan Riau membuat masyarakat Riau mempertanyakan apakah sudah tidak ada lagi tokoh yang layak di Riau ini sehingga Golkar memandang perlu mendatangkan orang dari tempat lain.

Jika yang didatangkan ke Riau itu adalah tokoh dengan kwalitas diatas rata-rata, barangkali masyarakat akan menerimanya dengan lapang dada dan tangan terbuka. Orang Riau, dari dulu memang sudah terbiasa menerima pemimpin dari daerah lain, dan itu berlangsung dengan damai. Akan halnya nama Ansar Ahmad, menjadi sebuah catatan tersendiri bagi masyarakat Riau, dia bukan tokoh tempatan, kwalitasnya juga tidak terlalu melebihi tokoh yang ada di Riau, meskipun menjadi ketua DPD Golkar di Kepri tapi dalam pemilukada yang lalu, beliau kalah sebagai calon wagub.

Kekakalahan Ansar dalam pemilukada itu telah menjadi catatan penting bagi masyarakat Riau, dimana tokoh yang tidak terpilih ditempatnya sendiri, diberikan oleh DPP Golkar sebagai Cawagub diprovinsi Riau. Apakah dengan pengusulan namanya ini, Golkar ingin menjadikan Riau sebagai tempat penampungan ?


Bagaimanapun, keputusan akhirnya berada ditangan wakil rakyat yang ada di DPRD Provinsi Riau, merekalah nantinya yang akan menentukan pilihan, siapa diantara calon itu yang layak dipilih, semoga saja wakil rakyat Riau itu mau menggunakan menggunakan hati nuraninya, mampu menolak loby politik dari berbagai pihak, dan kuat menahan tekanan dari pusat Partai yang memiliki kepentingan lain terhadap negeri ini.
2:48 PM | 0 comments | Read More

Calon Wagub Riau (1)

Setelah Andi Rahman dilantik sebagai Gubernur Riau, maka pekerjaan yang tersisa adalah menentukan figure yang akan mendampingi beliau sebagai wakil gubernur, aturan perundang-undangan menegaskan bahwa penetapan wakil gubernur harus dilakukan selambat-lambatnya 14 hari setelah gubernur defenitif dilantik.

Lowongnya kursi wakil gubernur ini telah menjadi topik perbincangan hangat bagi masyarakat Riau, mulai dari gedung bertingkat sampai kewarung kopi. Sejumlah namapun mulai bermunculan, dan dengan dalih ingin membangunan Riau kedepan, nama-nama itu berkibar bak bendera ditiup angin.

Adalah seorang Kordias Pasaribu yang secara terang-terangan mengaku berharap bisa menjadi pendamping Arsyadjulian Rachman, menjadi Wakil Gubernur Riau. “Lumrahkan, partai politik mengincar posisi kekuasaan. Karena itu memang menjadi target kegiatan politik. Demikian juga dengan PDIP, kalau memang memungkinkan, kami akan sangat senang jika digandeng Pak Gubernur untuk bersama-sama membangun Riau,” ujar ketua DPD PDIP Propinsi Riau itu, sebagaimana diberitakan oleh riauterkini.com di Pekanbaru, Kamis (26/5/16). 

Meskipun demikian, Kordias sadar sesadar-sadarnya bahwasanya kursi Wagub itu sepenuhnya milik Golkar, Partai dengan lambang Pohon Beringin inilah yang berhak menentukan siapa tokoh yang diajukan sebagai calon Wagub Riau. Karena pada saat mencalonkan Anas dan Andi sebagai pasangan Cagub dan Cawagub dulu, Golkar tidak berkoalisi dengan partai manapun.

Didalam tubuh Golkar sendiri tidak kekurangan tokoh, banyak kadernya yang cakap dan layak untuk diajukan sebagai calon wagub, dari kalangan politisi ada Ruspan Aman, Erizal Muluk, dan lain-lain, kemudian dari kalangan birokrat ada Ahmadsyah Harropi, mantan ketua DPD KNPI yang juga pernah berkiprah di Golkar, dan masih banyak lagi nama lain yang bila diukur dari segi kemampun dan jam terbangnya, juga tidak kalah dari tokoh partai lain.

Mengingat banyaknya figure yang mumpuni ditubuh Golkar, maka akan menjadi sesuatu yang aneh bila Golkar mengajukan nama tokoh dari partai lain sebagai calon.  Ini merupakan sesuatu yang tak lazim bagi Golkar, bahkan berpotensi menimbulkan perpecahan ditubuh Golkar itu sendir Sebagai sebuah partai besar yang meraup kemenangan pada setiap pemilu di Riau ini,


Golkar pasti sudah menghitung dengan cermat akan untung ruginya secara politik. Golkar tentu tidak ingin kehilangan peluang untuk meraih sukses pada pemilu yang akan datang.  Bagi Golkar, kepercayaan masyarakat pemilih dan semangat juang kadernya adalah sesuatu yang harus dijaga, dengan baik dan tidak akan mereka rusak dengan sikap keliru dalam menentukan calon Wagub kali ini. Selamat berpikir
2:42 PM | 0 comments | Read More

Dibawah Pohon Rindang

Mundurnya Ade Komarudin sebagai calon ketua umum Golkar telah melapangkan jalan untuk Setya Novanto, dengan alasan menjaga sikap persahabatan Akom (begitu dia biasa dipanggil) menarik pencalonan dirinya dan pada saat dilakukan pemilihan Setnov unggul dengan meraih  277 suara dari 544 peserta munaslub.

Dulu, seorang calon ketua umum disamping harus mendapat dukungan dari kader golkar juga harus mendapat restu dari ketua dewan Pembina, restu tersebut merupakan syarat “MUTLAK” yang harus dimiliki calon, itulah sebabnya ketua umum Golkar pada zaman itu selalu dipegang oleh orang-orang yang dikenal setia kepada sang ketua Dewan Pembina.

Pada munaslub Golkar kali ini, kewenangan ketua Dewan Pembina sudah tidak terdengar bunyinya lagi, tapi sungguhpun demikian, disinyalir ada juga kabar bahwa calon ketua umum menyebut dirinya mendapat dukungan dari presiden, dan diujung Munaslub Golkar memutuskan bergabung kedalam koalisi partai pendukung pemerintah.

Bergabungnya Golkar kedalam Koalisi partai pendukung pemerintah, bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena sepanjang sejarahnya Golkar memang tidak terbiasa menjadi oposisi. Partai yang besar dizaman Orde baru ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kekuasaan.

Mencermati sikap Golkar yang memilih bergabung dengan koalisi partai pendukung pemerintah saat ini bukanlah merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja, ada harga yang harus dibayar oleh presiden. Harus diingat Golkar sudah lama malang melintang dalam percaturan politik tanah air, partai ini memiliki kader yang militant dan mahir dan sigap dalam bermanufer.

Tidak tertutup kemungkin presiden harus membayarnya dengan menyediakan jatah kursi kabinet untuk kader Golkar yang memang berpotensi untuk itu, dan tidak mustahil pula kebijakan pemerintah kedepannya akan banyak dipengaruhi oleh partai yang berlambang pohon Beringin ini.

Masuknya Golkar ini bisa pula menjadi beban tersendiri bagi presiden Jokowi, karena Setya Novanto yang terpilih memimpin partai ini masih dikait-kaitkan dengan berbagai kasus hukum, dan yang paling menghebohkan adalah kasus papa minta saham yang telah menjungkirkan beliau dari kursi ketua DPR.

Selain itu, nama Setnov juga disebut-sebut dalam kasus korupsi pembangunan sarana Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau dan pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode Muhammad Syarief mengatakan KPK belum berhenti mengembangkan pengusutan kedua kasus tersebut. "Semua masih berjalan," kata Laode pada Selasa 17 Mei 2016.

Dalam kasus pembangunan venue PON XVIII Riau, KPK sempat menggeledah dan memeriksa Setya dalam dugaan adanya aliran dana sebesar Rp 900 juta ke Dewan Perwakilan Rakyat untuk memuluskan anggaran PON Riau di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Namanya juga disebut dalam putusan terhadap terdakwa Rusli Zainal, mantan Gubernur Riau yang dipidana 14 tahun penjara.

Demikian juga dengan kasus eKTP, tudingan terhadap Setya datang dari mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Menurut Nazaruddin, Setya terlibat dalam penggelembungan anggaran sebesar Rp 2,5 triliun dalam proyek berbiaya Rp 5,9 triliun tersebut.
Jatah menteri dan kasus yang melibatkan nama Ketua Umum Partai Golkar inilah yang membuat kita ingin melihat perkembangan selanjutnya, bagaimana Setya Novanto memainkan perannya sebagai pemimpin partai bersar yang berlambang pohon Beringin ini.


Selamat buat Setya Novanto, semoga saja Pohon Beringin yang rindang itu bisa menjadi tempat berteduh bagi bangsa ini. 
2:32 PM | 0 comments | Read More

Badu Atai, Pahlawan Kesiangan

Written By lungbisar.blogspot.com on Thursday, January 19, 2017 | 1:03 PM

Diceritakan oleh guru saya, bahwa pada masa dahulu kala ada seorang lelaki yang bernama BADU ATAI, kerjanya suka menjadi Pahlawan Kesiangan yang terkadang dalam istilah lain disebut suka menari diladang orang.
Merasa diri paling hebat, membual kian kemari yang dalam istilah kekinian disebut melakukan pencitraan, itulah perangainya. Suatu ketika dikampung tempat tinggalnya, ada seekor Harimau berkeliaran kesana kemari, memangsa hewan piaraan dan membuat orang sekampung menjadi resah dan ketakutan.
Pasar menjadi lengang dan suasananya makin mencekam bila malam tiba, kampung menjadi sunyi bagaikan tak berpenghuni. Parahnya lagi, Harimau ganas itu bermain-main disekitar rumah Badu Atai, berjalan mengitari dan sekali-kali melintas dibawah kolong rumahnya, hal ini mebuat Badu Atai semakin kecut nyalinya, menggigil ketakutan dan bersembunyi dibalik kelambu.
Harimau itu terus mengaum, gemuruh suaranya membuat jantung orang mendengarnya berdenyut lebih cepat, mondar mandir dibawah kolong rumah Badu Atai.  Isteri Badu Atai memasang strategi, menyiapkan air panas mendidih ditungku dapur rumahnya, ketika Harimau itu melintas dia langsung menyiramkan air tersebut, Harimau itu kaget dan kepanasan, melompat seketika dan kepalanya membentur batang Kelapa,  lalu mati tak berdaya.
Mendengar kabar dari isterinya bahwa sang Harimau sudah mati, Badu Atai bergegas keluar dari dalam kelambunya, lalu dengan lagak gayanya mengumumkan kepada halayak ramai bahwa Harimau yang menakutkan itu sudah mati ditangannya, dan seluruh penduduk kampung merasa terkagum-kagum kepada dirinya. Itulah sekelumit kisah  yang dulu pernah dikisahkan oleh guru saya, dan kini sepenggalan kisah itu seakan muncul kembali.
Manakala kita melihat sepak terjang dan tingkah laku para politisi dan Birokrat kita saat ini, maka kisah ini kembali bermain dilaman ingatan, meskipun dunia makin canggih, ternyata tipu daya pencitraan ala Badu Atai masih tetap saja dipergunakan orang yang senantiasa tampil sebagai pahlawan kesiangan. 
Tertumpang Salam buat guru H. Muhammad Khutbah Arrafie di Kec. Mandau Duri
1:03 PM | 0 comments | Read More

Mungkinkah Ahok Terlibat

Komisi Pemberantasan Korupsi sudah menetapkan Sanusi, Ariesman, dan Trinanada Prihantoro, personal assistant PT APL. sebagai tersangka dalam kasus suap reklamasi Teluk Jakarta. Komisi Anti Rasuah itu juga mencekal Sunny Tanuwijaya, Aguan, dan, Richard Halim Kusuma, anak kandung Aguan yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Agung Sedayu

Akar suap Sanusi ini berasal dari pembahasan Raperda tentang Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Provinsi Jakarta 2015-2035 dan Raperda tentang Rencana Kawasan Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Jakarta Utara.

Dari sekian nama yang terkait dengan kasus ini yang menarik adalah nama Suny Tanuwijaya, konon yang bersangkutan memiliki kedekatan khusus dengan Gubernur DKI Basuki T. Purnama, alias Ahok. Suny kadang disebut sebagai anak MAGANG, yang mangkal dikantor AHOK untuk menulis disertasi doctoral tentang sepak terjang AHOK dalam pemerintahan. Terkadang pula disebut sebagai Staff Gubernur DKI, dan AHOK sendiri juga mengakui Suny sudah mengenalnya sejak tahun 2010 yang lalu.

Kedekatan personal anatar Suny dan AHOK ini membuat orang ingin melihat sejauh mana pengaruh Suny terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh AHOK terutama tentang hal yang  menyangkut Ranperda Reklamasi yang bermasalah itu.

Menurut Krisna Murthi, Sunny berperan sebagai penghubung antara pemerintah daerah, pihak dewan, dan pengusaha, hari-hari sibuk dalam pembahasan ranperda itu peran Suny dinilai cukup besar, tapi tidak dijelaskan untuk kepentingan siapa Suny bekerja, mengingat ranperda itu merupakan keputusan bersama antara eksekutif dan legislative dan menyangkut kepentingan pengusaha. Suny  kabarnya pernah menghubungi Sugianto Kusuma alias Aguan, bos raksasa properti Agung Sedayu Group yang kini juga dicekal KPK.

Mereka membicarakan kewajiban pengembang membayar kontribusi tambahan dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta. Aguan menanyakan peluang menurunkan kontribusi tambahan jadi lima persen. “Ada indikasi Sunny menjanjikan sesuatu kepada Aguan,” katanya.

Selama pembahasan Raperda, Sanusi beberapa kali menghubungi Sunny, untuk menanyakan apakah AHOK sudah setuju soal penurunan kewajiban kontribusi tambahan bagi pengembang. Komunikasi itu dibangun karena Suny dianggap orang yang paling dekat dengan AHOK sebagai pihak Eksekutif.
Dalam salah satu keterangannya kepada Majalah Tempo, Sunny juga mengakui pernah berbicara dengan Aguan beberapa kali. “Kadang di kantor, kadang sambil makan pempek,” katanya.

Pada kesempatan, Aguan juga meminta agar kontribusi tambahan diatur dalam Peraturan Gubernur saja agar pembahasan Raperda tak berlarut-larut. “Saya bilang nanti saya atur,” kata lulusan ilmu politik Northern Illinois University, Amerika Serikat, itu. Ia lalu meneruskan pesan Aguan kepada Ahok. “Gubernur bilang terserah, asalkan 15 persen tetap masuk.”  Ujar Suny waktu itu.

Dalam Raperda itu, Ahok meminta pengembang untuk menyerahkan minimal 15 persen lahan pulau buatan di proyek reklamasi. Sementara DPRD DKI bertahan di angka 5 persen. Soal angka 5 persen ini yang diduga keluar karena lobi pengembang. Dan Sanusi, kabarnya hanya salah satu anggota DPRD DKI yang mendapat 'lobi' untuk angka 5 persen.


Walaupun kedekatan personal antara Ahok dan Suny sudah berlangsung lama dan terjalin akrab Namun Ahok tetap menampik bahwa, stafnya yang bernama SUNY itu tak akan bisa mempengaruhi kebijakannya. “Jangankan dia Emak aja enggak gue dengerin,” kata Ahok. Ah yang benar Hok ?
12:12 PM | 0 comments | Read More

Melawan Koruptor Lewat Pilkada Serentak

Pemilihan umum tahun lalu telah menghasilkan wakil rakyat yang hari ini duduk di Senayan, mereka sudah satu tahun lebih mewakili kita yang katanya bekerja dan berbakti untuk kepentingan rakyat. Maka sesuai dengan janji-janji manis mereka sewaktu kampanye dulu kini giliran kita menuntut untuk mewujudkannya. 

Tuntutan kita tidaklah muluk-muluk, hanya berharap agar mereka berpikir dan berbuat untuk kepentingan rakyat  yang telah bersusah payah memilihnya, bukan berpikir untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya, bukan memamerkan kontroversi perebutan kursi dan kelengkapan DPR, dan bukan pula untuk melemahkan KPK

Dalam kurun waktu setahun ini , hampir tiap bulan ada usulan dan gagasan yang aneh-aneh, yang tidak ada relevansinya dengan  kepentingan rakyat, padahal mereka sadar bahwa mereka itu dipilih langsung oleh rakyat dan bekerja untuk rakyat. Mereka berantam dalam sidang pleno, melakukan kunjungan kerja yang mewah, memperjuangkan proyek gedung mewah yang menakjubkan, mengajukan proyek kasur empuk, usulan kenaikan gaji dan tunjangan yang terpaksa harus ditolak oleh pemerintah, dan  yang terakhir upaya melindungi diri dengan jalan mematikan KPK yang berfungsi melindungi kekayaan negara dan uang rakyat. 

Rangkuman cerita diatas membuat rakyat merasa miris dan hilang kepercayaan kepada wakilnya. Sepak terjang wakil rakyat yang memuakan ini diyakini tidak merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, berkait kelindan dengan Partai Politik yang semestinya bertanggung jawab terhadap kadernya. 

Bisa jadi pola rekrutmen yang salah sehingga Parpol salah dalam menempatkan kadernya  sebagai wakil rakyat, dan tidak tertutup pula kemungkinan, bahwa apa yang dilakukan wakil rakyat hari ini adalah perintah partai politik yang harus dijalankannya. Kemungkinan – kemungkinan itu mencerminkan betapa tidak siapnya Parpol dalam menopang usaha menumbuhkembangkan kehidupan demokrasi. Kekuasaan yang diraih lewat PEMILU tidak mereka manfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat, tetapi untuk kepentingan partai dan golongannya. 

Belajar dari peristiwa diatas, hari ini rakyat seharusnya mengevaluasi kembali akan pilihannya dimasa lalu agar tidak terjebak untuk kedua kalinya dalam Pemilukada serentak yang akan berlangsung pada Desember mendatang. Pemilu yang sudah kita ikuti berkali-kali menghasilkan sesuatu yang mengecewakan dan kita tidak mau kekecewaan itu muncul kembali dalam PEMILUKADA kali ini. 

Hiruk pikuk soal pengajuan revisi Undang-Undang KPK yang berkembang pada akhir-akhir ini cukup membuat kita kecewa, dalam materi yang mereka usulkan itu terdapat unsur-unsur yang melemahkan KPK,  padahal mereka tau bahwa rakyat masih sangat membutuhkan KPK sebagai lembaga yang melindungi segenap harta dan kekayaan negara dari tangan penjarah yang bernama KORUPTOR. Partai yang berusaha melemahkan KPK itu dengan sengaja bersikap melawan kehendak rakyat dan oleh karenanya mari kita lawan dengan cara TIDAK MEMILIH Kepala Daerah yang dicalonkannya.
12:03 PM | 0 comments | Read More

Reshufle Kabinet

Written By lungbisar.blogspot.com on Tuesday, February 16, 2016 | 4:11 PM

Pertumbuhan ekonomi kina melambat, nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin melorot, daya beli masyarakat juga terus melemah dihantam harga kebutuhan bahan pokok yang merangkak naik. Beban rakyat kian berat lagi oleh keputusan pemerintah yang mencabut subsidi bagi rakyat pengguna listrik daya rendah dibawah 900 KWH.

Keadaan ini diperparah pula oleh sikap wakil rakyat di Senayan yang bersikeras meminta dana aspirasi, minta dana parpol ditingkatkan, dan recok soal revisi UU KPK, kesemuanya itu menimbulkan kegaduhan politik yang tentu saja menguras energi bangsa ini.

Presiden juga terlihat berpacu dengan waktu, sampai harus turun ke Tg. Priok melihat kondisi ril dilapangan, bagaimana roda perekonomian diputar oleh pelaksana ditingkat bawah. Presiden memilih pelabuhan, karena diyakini benar bahwa pelabuhan merupakan pintu gerbang masuknya devisa, dari sinilah bermulanya lalu lintas perdagangan dari dan keluar negeri.

Ditengah keadaan perekonomian yang semakin tak jelas ini terdengar laungan agar presiden segera memperbaiki keadaan, jangan sampai negeri ini terpuruk dan mengalami krisis total seperti masa lalu. Diyakini bahwa salah satu jalan yang harus ditempuh adalah melakukan perombakan kabinet, terutama menteri dibawah koordinator perekonomian.

Namun demikian presiden harus berhati-hati, jangan sampai desakan perombakan kabinet yang semula dimaksudkan untuk memperbaiki keadaan ini beralih menjadi lahan perebutan kekuasaan. Para elite poitik dan partai pendukung pemerintah sudah ada yang bersuara lantang meminta tambahan jatah menteri dan mendesak presiden agar mengurangi jumlah menteri dari kalangan profesional.

Pembagian jatah kursi yang selama ini seakan belum usai, banyak pihak merasa belum kebagian sesuai dengan sumbangannya dalam pilpres yang lalu. Terdengar pula kegaduhan sesama anggota kabinet. Adalah Mendagri Cahyo Kumolo yang juga pentolan PDIP mengungkapkan adanya menteri yang menghina presiden, ucapan Cahyo itu diamini oleh rekan separtainya Masinton dan didukung oleh Akbar Faisal dari Partai Nasdem dengan transkrip percakapan masenggernya.

Secara tersirat disebutkan menteri yang dimaksudkan itu adalah Rini Sumarno, meneg BUMN yang berasal dari kalangan profesional. Keriuhan itu meledak keruang publik, dan tak ayal lagi ditafsirkan sebagai ledakan perseteruan antara anggota kabinet yang berasal dari parpol dengan kalangan profesional.

Kesemuanya ini tentu membuat beban pikiran bagi presiden, kita berharap semoga para pemimpin negeri ini selalu bijak dan arif dalam menyikapi keadaan ini, reshufle kabinet memang sudah sangat mendesak, perombakan harus dilakukan demi menyelamatkan keadaan ekonomi negara yang kian terpuruk. Presiden harus segera menggunakan hak prerogatifnya dengan baik dan tidak terpengaruh oleh apapun yang ada disekelingnya. Karena sasaran perombakan kabinet itu adalah menteri dibidang ekonomi, maka presiden harus bersikap hati-hati.

Bidang ini sangat menggiurkan, banyak orang yang mengincarnya, terutama menteri BUMN yang dibawahnya ada ratusan usaha negara dan memiliki aset triliyuanan rupiah. Jika presiden salah pilih dan salah menempatkan orang, akibatnya akan fatal, tujuan merombak kabinet yang semula dimaksudkan untuk memperbaiki keadaan malah sebaliknya menjadi semakin runyam, dan bila itu yang terjadi maka siap-siaplah presiden untuk ditinggalkan oleh rakyat yang dulu memilihnya.

Justeru itu kita berharap, bahwa reshufle kabinet yang mungkin sebentar lagi akan dilakukan oleh presiden benar-benar meletakan kepentingan banga dan negara diatas segala-galanya. Menteri yang tidak becus diganti dengan figur yang lebih kompeten, tidak menerima personal titipan parpol yang hanya bergantung pada dukungan politik semata tetapi tidak memiliki kecakapan yang cukup dalam mengelola negara.

Dan satu hal yang lebih penting presiden harus bisa memastikan bahwa anggota kabinetnya benar-benar bebas dari keterikatannya dengan partai politik karena sesungguhnya seorang menteri itu adalah penyelenggara negara, dia bukan petugas partai, tetapi seorang warga negara yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan bangsa dan negara.
4:11 PM | 0 comments | Read More

Umar dan Bakri

Dengan langkah gontai Umar dan Bakri memasuki sebuah warung kopi, kemudian dengan matanya yang berlapis kaca menyisir ruangan, mencari tempat duduk yang masih kosong. Mak Sumiati , pemilik warung menyapanya dengan nada sedikit genit.

“Mau sarapan Pak ?” “Ya,” jawab Umar dan Bakri serentak. “Kopi secangkir, buat kental-kental kopinya tapi jangan pahit,” kata Umar dengan mimik serius, kemudian disambung oleh Bakri memesan sepiring lontong, “pisahkan lontong dan sayurnya dalam piring yang berbeda,” kata Bakri pula, seakan tak mau kalah dengan Umar.

Umar dan Bakri adalah guru disebuah sekolah dasar, umur mereka sudah mendekati setengah abad, menjadi guru karena tuntutan hidup dan panggilan jiwa. Lima belas tahun yang lalu mereka pulang kampung dngan membawa ijazah sarjana, lowongan kerja yang sesuai dengan disiplin ilmunya tidak ada, sementara sekolah didusun tempat tinggalnya kekurangan guru.
Kedua sarjana yang baru menenteng Ijazah dari kampus ini bertemu dengan keadaan sekolah yang kurang guru. Kenyataan sekolah yang seperti ini membuat keduanya merasa terpanggil untuk memberikan sumbangan tenaga dan ilmunya, dan lama kelamaan mereka diikat oleh sepucuk surat keputusan pejabat setempat yang mengangkat mereka sebagai Guru Bantu.

Kopi kental dan lontong yang mereka pesan terhidang sudah, semua mata yang ada diwarung itu memandang keduanya dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Kedua lelaki yang dihormati masyarakat sekampung itu memesan makanan dan minuman dengan cara yang aneh. “Pinjam gelas kosong,” kata Umar kepada pelayan warung, dan sejenak kemudian Bakri buka mulut menyambung ucapan Umar dengan meminjam sendok.

Ucapan keduanya memancing keinginan orang yang ada disekitar itu untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang akan mereka lakukan. Setelah gelas kosong dan sebuah sendok diantarkan oleh pelayan warung itu, mulailah Umar beraksi, membagi secangkir kopi kental tadi menjadi dua gelas, kemudian dengan tanpa menoleh kiri dan kanan keduanya langsung menambah air hangat kedalam cangkir kopi mereka masing-masing, maka secangkir kopi kental itu kini sudah menjadi dua cangkir kopi yang siap diseruput.

Dan sama seperti Kopi kental itu, Lontong yang berpisah piring dengan sayur itupun mereka olah bagi menjadi dua piring lontong. Mak Sumiati, pemilik warung itu geleng-geleng kepala melihat ulah dua guru tersebut, dan orang-orang yang berada didalam warung itupun hanya terdiam, tidak sanggup berkomentar karena bagaimanapun keadaannya, kedua orang tersebut merupakan orang yang sangat dihormati oleh masyarakat didusun itu, mereka adalah pendidik yang sudah banyak melahirkan generasi cerdas didusunnya.
Sejenak kemudian Lung Bisar masuk kedalam warung, lelaki tua yang menjadi pelanggan setia Mak Sumiati itu datang dan langsung mengambil tempat duduk semeja dengan kedua guru tersebut, lalu ketiga orang ini terlibat pembicaraan yang diiringi dengan derai tawa, susanapun mencair.

“Perut kami lapar Lung,” kata Umar disela canda dan tawanya.

“Tapi kalian tak punya cukup uang untuk memesan Kopi dan Lontong,” sambung Lung Bisar.

“Lha ........ koq tau Lung ?” “Ya, saya baru saja baca berita, gaji Guru Bantu belum dibayarkan sementara uang sertifikasi yang semestinya kalian terima hari ini dipotong habis dengan alasan tidak memenuhi standar kehadiran dalam mengajar.” Jawab Lung Bisar.

“Itulah Lung, itulah nasib kami,” Honor belum keluar, utang sudah menumpuk, uang sertifikasi terpotong pula.” Jawab Umar.

“Ini bukan nasib kalian, tapi nasib negeri ini.” Jawab Lung Bisar dengan nada serius. “Ini negeri sudah kacau balau, yang mengabdi tak dihargai, orang yang tunggang langgang berbakti untuk kepentingan bangsa gajinya selalu terlambat dibayar, sementara orang-orang yang duduk tenang dikursi empuk diberi dana milyaran rupiah.” Lanjutnya lagi.

Kemudian Lung Bisar bercerita panjang lebar, memuntahkan rasa muak dan jengkelnya terhadap penyelenggara negara yang seakan tak memikirkan nasib para pendidik. Padahal peran mereka dalam mencerdaskan anak bangsa sangat besar. Merekalah yang bersetungkus lumus membebaskan anak negeri ini dari keterbelangkan berpikir.

“Terima kasih Lung,” jawab Umar.

“Ya, terima kasih Lung,” sambung Bakri pula.

Ungkapan prihatin dan rasa keberpihakan yang barusan kami dengar itu sudah membuat kami merasa bangga dan puas dengan keadaan nasib kami Lung, kami bangga jadi pendidik, kami jadi tetap semangat menjadi guru, langkah kami digugu dan ditiru, meskipun suap kami kadang terganggu,” katanya lagi.
“Tidak ada yang perlu dirisaukan, akan kami jalani lakon hidup ini dengan penuh canda dan tawa Lung,” sambung Umar pula, lalu keduanya berdiri, beranjak dari duduknya untuk kembali kesekolah tempat mereka mengajar, sementara dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara Iwan Fals mendendangkan lagu “Oemar Bakri”.
4:08 PM | 0 comments | Read More

Terkecoh Oleh Si Dungu

Sore, menjelang mentari tenggelam diufuk Barat, pak Erte didatangi seseorang yang melaporkan bahwa diujung kampung ada dua orang warga yang sedang ribut berparang-parangan. Pelapor tersebut meminta agar pak Erte segera turun tangan untuk melerai pertengkaran, karena dikhawatirkan akan berakibat fatal jika dibiarkan berlarut-larut.
Dengan tidak berpikir panjang lagi pak Erte bergegas bangkit dari duduknya, dan langsung bergerak menuju lokasi. “Dari pada terjadi pertumpahan darah lebih baik secepatnya dilerai,” desis pak Erte dalam hatinya. Seketika hampir sampai dilokasi, dari kejauhan dia melihat sosok dua lelaki gempal, keduanya sedang sejadi-jadinya adu mulut sambil mengacung-acungkan tangan, sesekali terlihat pula mengacungkan parang panjangnya.
Pak Erte mempercepat langkahnya dan tak berapa lama kemudian dia tiba dilokasi tersebut. Kedua lelaki yang terlihat gaduh itu adalah Karyo dan Karmin, keduanya merupakan orang upahan Lek Salekan sebagai pencari rumput makanan ternak.
“Stop, stop ....... ! terdengar lantang suara pak Erte menghentikan aksi keduanya. Dan suara pak Erte itu membuat Karyo dan Karmin terdiam sambil bertatapan.
“Ada apa ini ? Tanya pak Erte dengan degup jantung yang bergemuruh. “Ini pak, gara – gara Karyo yang lancang membabat kaki Kambing piaraan saya,” jawab Karmin dengan mimik serius.
“Patah dua Kaki Kambing saya dipukul Karyo pakai kayu,”
“Dia sendiri yang salah pak, punya Kambing dilepas berkeliaran, tidak dipelihara dengan baik,” potong Karmin pula sambil menuding Karmin dengan tangannya. “Kambingnya masuk kedalam kebun saya, tanaman saya rusak semua, pucuk dedaunan dan sayur mayur dikebun saya dimakan oleh Kambing Karmin,” sambungnya lagi.
“Salah dia sendiri pak, potong Karmin dengan nada yang lebih tinggi. “Punya kebun, tapi tak berpagar,” sambungnya lagi.
“tidak bisa pak, ..... wa...
“Sudah, ........ sudah, kalian ini bisa diam nggak?” sergah pak Erte.
“Bisa pak,” jawab Karyo dan Karmin serentak.
“Mau didamaikan nggak ? Tanya pak Erte lagi “Mau pak,” jawab keduanya dengan nada yang agak gemetar.
Karyo dan Karmin terdiam, tak sepatah katapun kata yang keluar dari mulutnya, pak Erte juga terdiam sambil memutar otaknya mencari solusi untuk mendamaikan dua warga yang rusuh itu. Sementara senja semakin larut jua, semburat mentari dengan warna kemerah-merahan kian meredup, pertanda sebentar lagi waktu maghrib akan masuk.
“Sekarang mana Kambing kamu yang patah itu Min ?” Tanya pak Erte. Karmin makin terdiam, dia nampak kebingungan mencari kata untuk menjawab pertanyaan pak Erte itu.
“Kamu juga Yo, mana kebunmu itu, berapa banyak yang dirusak Kambing Karmin ?”
Karmin dan Karyo saling berpandangan, keduanya diam dan kebingungan membuat pak Erte merasa tak sabar melihatnya, beberapa saat kemudian pertanyaan yang sama dia ulangi kembali, namun tetap tidak mendapat jawaban dari Karmin dan Karyo.
“Begini asal mulanya pak Erte, jawab Karmin memulai penjelasan. Pak Erte mendengarkannya dengan khusuk. “Tadi kami mendapatkan suatu benda berwarna Kuning, kami kira emas tapi ternyata sebungkah tanah liat yang keras,” sambungnya lagi.
“Terus ? Tanya pak Erte dengan sedikit penasaran.
“Terus saya bilang sama Karmin,” potong Karyo pula. “Kalau itu benar-benar emas mau kami jual kepasar, hasilnya bisa dijadikan modal usaha” sambungnya lagi. “Nah Karyo maunya uang itu buat beli kebun, sementara saya maunya untuk membeli kambing, dari sinilah mulainya, kami tak sepakat dalam hal menggunakan uang itu,” jawab Karmin pula.
“Akhirnya uang itu kami bagi dua,” jawab Karyo pula. Bagian saya buat beli kebun dan bagian Karmin untuk membeli Kambing,” ujarnya lagi.
“Jadi Kambing dan kebun yang ada dalam hayalan kalian itulah yang membuat kalian ribut sampai mau bunuh-bunuhan ?” tanya pak Erte dengan geram.
“Iya pak,” jawab Karyo dan Karmin serentak, “kami hanya mencoba melakoni hidup seperti pengusaha kaya,” jawab Karmin. “Tetapi entah kenapa kegaduhan itu berlanjut, menjadi sesuatu yang nampak serius, seolah-olah kami betul-betul sedang bertengkar soal Kambing dan Kebun,” jawabnya lagi.
“Jadi .............” tanya pak Erte dengan nada kesal.
“Iya pak, kami hanya berhayal.”
“Dasar kalian ini manusia dungu,” bentak pak Erte dengan nada suara yang tinggi dan dia bergegas melangkah pulang kerumah, dalam perjalanan pulang itu dia bergumam dalam hatinya, “siapa sebenarnya diantara kami yang dungu ?” Pertanyaan itu dia simpan baik-baik dikepalanya agar warga yang lain tidak tau bahwa sebagai orang yang mengaku pintar dia pernah terkecoh oleh ulah orang dungu.
3:28 PM | 0 comments | Read More

Sri Mulyani Melempar Bola Panas

Hiruk pikuk suara yang mengarah pada keterlibatan Sri Mulyani dalam kasus korupsi penjualan kondensat kepada PT. TPPI menjadi sunyi senyap. Wanita cerdas yang juga mantan menteri keuangan era SBY itu tidak hanya sekedar memberikan keterangan kepada pemeriksa di Bareskrim Polri tetapi juga memuntahkan peluru yang mengarah kepada Jusuf Kala.
Menurut Sri Mulyani, Jusuf Kalla yang pada waktu itu menjabat sebagai wapres adalah pihak yang memegang kendali dalam penjualan kondensat tersebut. Tak ayal pernyataan Mulyani itu menjadi bola panas yang membuat Kepala Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Victor Simanjuntak menjadi tunggang langgang memberikan keterangan yang menyebutkan bahwa JK tidak bersalah.
Sikap keras dan perlawanan terbuka yang dilakukan Mulyani terhadap Jusuf Kalla bukan kali ini saja, pada tahun 2007 yang lalu dia pernah menolak rencana Jusuf Kalla dalam proyek pembangkit listrik 10 ribu megawatt, proyek yang dibiayai oleh dana asing itu, rencananya akan diserahkan kepada perusahaan dibawah holding company Kalla Group, sebagai pelaksananya.
Meskipun waktu itu Kalla menjawab bahwa resiko yang timbul dikemudian hari bukan tanggung jawab menteri tetapi menjadi tanggung jawab presiden dan wakil presiden, namun Mulyani tetap menolaknya, hingga rencana pembangunan pembangkita listrik itu menjadi gagal.
Setahun sebelumnya, Mulyani juga pernah bersinggungan dengan JK, dia memerintahkan Dirjen Bea dan Cukai untuk menahan dan menyegel 12 unit Hlikopter yang diimpor oleh PT. Air Transport Service milik Achnad Kalla, karena belum melunasi Bea masuk dan pajak-pajak terhutang yang jumlahnya Rp. 2 milyar lebih. Meskipun dia tau bahwa impor helikopter itu atas permintaan Jusuf Kalla namun Mulyani tetap bersikeras untuk menyegelnya sampai kewajiban importir terhadap negara dipenuhi.
Sewaktu Jusuf Kalla melontarkan rencana akan membuat peraturan tentang pengalihan konsesi jalan Tol bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu pembangunannya selesai juga ditentang oleh Sri Mulyani dengan alasan akan menyebabkan jual beli konsesi menjadi tak beraturan.
Kini, meskipun dirinya tidak lagi berada dilingkungan kekuasaan, namun Sri Mulyani tetap melakukan perlawanan. Sesaat setelah usai diperiksa oleh bareskrim Polri dia memberikan keterangan pers, isinya bagaikan bola panas yang bergulir kearah Jusuf Kalla. Seperti biasanya jika sudah berhadapan dengan Mulyani, JK nampaknya lebih memilih diam. Entah itu diam karena tergoda oleh pribahasa yang menyebutkan “Diam itu Emas”, atau diam sebagai tanda setuju, waktu jualah yang akan menjawabnya.
3:22 PM | 0 comments | Read More