Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya
Powered by Blogger.

Visitors

Powered By Blogger

Featured Posts

Like us

ads1

Lung Bisar dan Kudanya

Written By lungbisar.blogspot.com on Monday, July 21, 2014 | 12:46 AM

Lepas waktu Ashar, Lung Bisar mengitari kota Bagan dengan menunggang Kuda, keluar masuk gang dan berkeliling dengan penuh semangat. Sebagai orang yang baru  mahir menunggang Kuda ia ingin  memamerkan keahliannya, termasuk juga ingin membuktikan kepada halayak ramai bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagi seorang Lung Bisar. Tidak sekolah bukan berarti tidak bisa punya ijazah, termasuk Ijazah MENUNGGANG KUDA.

Sore itu Lung Bisar menjadi pusat perhatian, ribuan pasang mata penduduk kota menatapnya dengan iringan decak kagum. Semua mulut memujinya, semua orang menyebut namanya sebagai pemuda dengan berbagai keahlian. Lung Bisar makin bersemangat dan dia benar-benar merasa puas dengan mainannya yang baru, Penunggang Kuda.

Makin sore makin banyak orang yang menonton aksinya, Lung Bisar kian bersemangat, namun dia lupa bahwa Kudanya mulai merasa gerah karena terlalu lama berkeliling didalam kota. Dia lupa bahwa sifat Kuda lebih cenderung menempuh jarak jauh ketimbang  berulang-ulang dijalan yang sama.

Kudanya berlari semakin cepat, makin sore semakin tak terkendalikan, Lung Bisar menjadi bingung untuk menghentikannya, dan disaat yang sama tiba – tiba terdengar suara Kelipah Bachtiar menyapanya.

“Mau kemana Lung ?” Tanya Khalifah Bachtiar.

“Entahlah,”  jawab Lung Bisar singkat, dan jawaban itu membuat Khalifah Bachtiar merasa heran, Lung Bisar sudah buang tabiat sampai bisa tak tau arah tujuannya, namun sayup-sayup dari kejauhan dia kembali mendengar suara Lung Bisar. 

“Kuda inipun tak memberitahu kemana aku akan dibawanya.”


Mendengar jawaban sahabatnya itu Khalifah Bachtiar hanya tersenyum-senyum kecil, “Ternyata bukan Lung Bisar yang menunggang Kuda, tetapi Kuda yang melarikan Lung Bisar, na’uzubillahi min zaliqa, semoga tidak ada lagi orang bodoh belagak pintar yang dilarikan oleh Kuda tunggangannya sendiri,”  ujar Kh Bachtiar dalam hatinya.
12:46 AM | 0 comments | Read More

Alam Terbentang Guru Kehidupan

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, July 19, 2014 | 12:05 AM

Tatkala mentari hampir jatuh diufuk Barat, langit cerah Merah menyala, lewat celah rimbun dedaunan, cahaya mentari senja itu menerangi teras rumah tempat Lung Bisar duduk sendiri menikmati indahnya alam ciptaan Azza wa Jala. 

Aku coba menghampirinya, duduk bersama beliau menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan ceritanya tentang pelajaran hidup yang didapat dari hamparan alam semesta. 

"Dulu aku pernah bertanya pada seorang ulama SUFI, "Siapakah GURU tuan" kata Lung Bisar memulai ceritanya. 

"Ulama Sufi Itu menjawab dengan panjang lebar, dia mengaku memiliki ribuan guru. Menyebut nama mereka satu-persatu akan memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun dan sudah sangat sulit untuk menjelaskannya. Tetapi ada tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu. 

Pertama adalah seorang pencuri. Saat aku tersesat dilarut malam, aku kebingungan mencari tempat menginap, semua tempat telah tutup. 

Tetapi ada seorang pemuda yang sedang melubangi dinding pada sebuah rumah. Aku bertanya kepadanya, "Dimana aku bisa menginap?" lalu dia menjawab "Sulit untuk mencari tempat menginap pada larut malam seperti ini. Tapi, jika engkau bersedia tidur bersama seorang pencuri engkau bisa menginap dirumahku” jawab pemuda itu. 

Akupun menetap bersamanya selama satu bulan! Dan setiap malam ia berkata kepadaku, “Sekarang aku akan pergi bekerja. Engkau beristirahatlah sambil berdoa.” 

Ketika dia telah kembali aku bertanya “apakah engkau mendapatkan sesuatu?” dia menjawab, “Tidak malam ini. Tetapi besok aku akan mencobanya kembali, jika Tuhan berkehendak besok akan terjadi.” Dia tidak pernah patah semangat, dia selalu bahagia. 

Ketika aku mengalami hambatan dan rintangan aku teringat akan si pencuri yang selalu berkata pada malam hari. “Jika Tuhan berkehendak, besok akan terjadi.” Dia itulah guru kehidupanku yang pertama. 

Guruku yang kedua adalah seekor anjing. Tatkala rasa haus melanda kerongkongan ku aku pergi kesungai, bersamaan dengan itu ada seekor anjing yang juga sedang kehausan. 

Pada saat ia melihat ke air nampak olehnya “bayangannya sendiri”, dan ia pun ketakutan. Anjing itu kemudian menggonggong dan berlari menjauh. Namun karena rasa haus yang mendahaga ia kembali lagi. Akhirnya, terlepas dari rasa takutnya, ia langsung melompat ke air, dan hilanglah bayangannya itu tadi. Pada saat itulah aku menyadari sebuah pesan datang dari Tuhan: "ketakutanmu hanyalah bayangan, ceburkan dirimu ke dalamnya dan bayangan rasa takutmu itu akan hilang". 

Guruku yang ketiga adalah seorang anak kecil. Tatkala aku memasuki sebuah kota dan aku melihat seorang anak kecil membawa sebatang liling yang menyala. Dia sedang menuju mesjid untuk meletakkan lilinnya disana. 

“Sekedar bercanda”, kataku kepadanya, “Apakah engkau sendiri yang menyalakan lilinnya?” Dia menjawab, “Ya tuan.” Kemudian aku bertanya kembali, “Ada suatu waktu dimana lilinnya belum menyala, lalu ada suatu waktu dimana lilinnya menyala. Bisakah engkau tunjukkan kepadaku darimana datangnya sumber cahaya pada lilin itu? 

Anak kecil itu tertawa, lalu dengan sekali hembus lilinnya padam, dan dia berkata, “Sekarang tuan telah melihat cahayanya pergi. Bisakah tuan jelaskan Kemana perginya cahaya itu?” 

Aku tersentak pertanyaannya membuat aku sadar akan  kebodohanku sendiri, dan anak kecil ini sudah mengajari aku untuk tidak bersikap sombong atas segala ilmu pengetahuan yang kumiliki. 

Adalah benar bahwa aku tidak memiliki guru. Tetapi tidak berarti aku bukan seorang murid, aku jadikan segala peristiwa dalam kehidupanku sebagai guru. Aku belajar dari kehidupan. Aku tidak memiliki seorang guru karena aku memiliki jutaan guru yang aku dapati dari berbagai sumber. 

Aku Menjadi seorang murid dan belajar sepanjang hayatku, belajar atas apa yang diajarkan oleh kehidupan. Itulah sebuah keharusan di jalan sufi  "Sang guru adalah sebuah kolam dimana engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang. Dan tatkala engkau telah mahir berenang, seluruh Samudera adalah milikmu." Kata Lung Bisar mengakhiri ceritanya
12:05 AM | 0 comments | Read More

Jenderal ! Berhentilah Berdebat

Written By lungbisar.blogspot.com on Thursday, June 26, 2014 | 12:39 AM

(Jangan buang waktu dan energimu untuk sesuatu yang tak berguna).

Pemilihan presiden kali ini seakan bergeser dari persaiangan antar capres menjadi ajang debat melelahkan antar jenderal purna bhakti.  Para jenderal yang dulunya masih aktif dan memegang jabatan penting di tubuh ABRI (sekarang TNI) pada saat – saat terakhir dari kekuasan Soeharto itu kini berdebat soal keterlibatan Prabowo dalam penculikan para aktivis.

Dalam wawancara dengan Metro TV pada 8 Juni yang lalu, Fachrul Razi, menyebutkan bahwa Prabowo terlibat dalam kasus penculikan para aktivis. Mantan wakil ketua Dewan Kehormatan Perwira (DKP)  itu menegaskan bahwa DKP telah merekomendasikan agar Prabowo diberhentikan dari dinas ketentaraan.

Atas dasar surat dari DKP itu pulalah, Wiranto selaku Menhankam/Pangab waktu itu  mengirim surat surat usulan kepada presiden. Hasilnya sama – sama kita ketahui bahwa Presiden  Habibie memutuskan  Prabowo diberhentikan dengan hormat dan mendapat hak pensiun.

Penculikan, Itulah kata yang kerap muncul dan menjadi bahan perdebatan yang tak berkesudahan ini. Kubu Prabowo tetap beranggapan bahwa dirinya bersih dan tidak bersalah dalam kasus penculikan yang dituduhkan kepadanya, justeru karena tidak bersalah itu pulalah presiden memberhentikannya dengan hormat dan mendapat hak Pensiun.

Tapi Wiranto dengan retorikanya yang khas menyebutkan bahwa seorang tentara aktif itu hanya diberhentikan dengan hormat jika sudah masuk usia pensiun atau atas permintaan sendiri karena alasan sakit. “Selain dari itu anda terjemahkan sendiri,” kata Wiranto seakan ingin berteka teki.

Prabowo dalam debat capres beberapa hari yang lalu dengan jantan mengakui tindakan penculikan tersebut, tapi itu dilakukannya sebagai seorang tentara yang taat pada perintah atasan. Tidak ada penjelasan lebih lanjut siapa atasan yang dimaksudkan Prabowo itu,tetapi kalau dirunut saat  terjadinya penculikan dimaksud atasan Prabowo selaku Danjen Kopasus pada saat itu adalah Subayo HS selaku Kasad dan Wiranto sebagai Pangab.

Jika Prabowo dipersalahkan melakukan tindakan atas perintah atasannya, tentu tidak pada tempatnya bila kesalahan tersebut dipikulkan kepada dirinya sendiri, Kasad dan Pangab waktu itu juga harus  bertanggung jawab, sama seperti yang dilakukan Prabowo mengambil alih tanggung jawab anak buahnya dari Kopasus.

Tudingan terhadap Prabowo yang melakukan penculikan atas inisiatifnya sendiri selaku Danjen Kopasus, bertolak belakang dengan keputusan DKP yang hanya merekomendasikan agar Prabowo diberhentikan, padahal sesuai dengan kesalahan yang dituduhkan kepadanya adalah pelanggaran HAM berat , hukuman yang setimpal untuk Prabowo seharusnya DIPECAT  dan diadili di Mahkamah Militer, tetapi ternyata itu tak dilakukan dan oleh karenanya publik menjadi bingung dengan apa yang diributkan oleh para jenderal purnawirawan diseputar kasus penculikan itu.

Semakin diikuti perkembangan tentang kasus penculikan itu semakin tidak jelas siapa yang harus bertanggung jawab, para jenderal terus berdebat membuat publik semakin bingung mendengarkannya, sementara perasaan keluarga korban semakin teriris, pilu  dalam penantian yang tak berujung. 


Agar masalah ini tidak semakin kabur, sebaiknya seluruh anggota DKP duduk bersama memberikan penjelasan secara lengkap kepada masyarakat, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan berbicara dengan niat yang tulus untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan.  Jika tidak Jenderal, berhentilah berdebat, jangan buang waktu dan energimu untuk sesuatu yang tak berguna.
12:39 AM | 0 comments | Read More

Wimar Menghina Muhammadiyah

Wimar Witular mengunggah gambar yang menampilkan  salah satu pasangan capres – cawapres di akun jejaring sosialnya. Dalam gambar tersebut capres – cawapres didampingi oleh elit partai pendukung dan tokoh agama Islam. 

Dibagian bawahnya terdapat lambang partai pendukung dan lambang beberapa organisasi Islam termasuk salah satunya  lambang Muhammadiyah. Dilatar belakangnya dijajarkan gambar beberapa teroris yang sudah dihukum mati, dan postingan gambar tersebut diberi judu Gallery Of Rogues, atau pajangan gambar bajingan.

Mungkin saja Wimar ingin menyatakan pendapatnya bahwa Capres – cawapres dan para pendukungnya ini terdiri dari para bajingan dan oleh karenanya rakyat pemilih perlu diingatkan jangan sampai pemilihan presiden mendatang menjadi era kebangkitan orang jahat.

Terlepas dari benar tidaknya dugaan diatas, ada satu hal yang menyayat hati saya sebagai seorang Muslim, yakni dicantumkannya lambang MUHAMMADIYAH dalam galery bajingan tersebut. Tidak  bisa dipungkiri bahwa pencantuman lambang organisasi Islam itu merupakan bentuk pelecehan terhadap ummat Islam, khususnya terhadap warga Muhammadiyah.

Mungkin Wimar lupa bahwa  Muhammadiyah bukanlah partai politik, tetapi organisasi sosial kemasyarakatan yang tidak ikut campur dalam urusan pilpres, meskipun dijajaran pendukungnya ada pentolan Muhammadiyah seperti Amien Rais dan tokoh lainnya.
Muhammadiyah bersikap Netral, tidak berpihak kesalah satu calon, bahkan selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dengan tegas menyatakan bahwa secara pribadi beliau tidak mendukung salah satu capres.

Tindakan Wimar ini disamping keliru secara politik, juga menghina warga Muhammadiyah dengan menampilkan postingan yang berjudul Gallery Of Rogues yang berarti pajangan gambar BAJINGAN. Apapun alasannya, gambar tersebut akan menimbulkan penafsiran bahwa menurut Wimar Muhammadiyah termasuk dalam kelompok atau sama prilakunya dengan organisasi para bajingan, untuk itu warga Muhammadiyah perlu menuntut penjelasan dari Wimar, apa yang menjadi dasar pemikirannya.

Wimar Witoelar memang sudah minta maaf atas foto dan status yang ia unggah di akun medsos pada Ahad (15/6). Ia mengaku tak berniat untuk menghina Muhammadiyah atau pun organisasi Islam lainnya. 
"Saya ini tak ada apa-apanya dibanding Muhammadiyah," ungkap Wimar sebagaimana dikutip oleh beberapa media, dan dia juga mengaku sangat dekat dengan beberapa tokoh Muhammadiyah seperti Syafi’i Maarif, Din Syamsuddin dan Amien Rais. “Mereka itu semuanya mitra saya, ujarnya lebih lanjut.

Tetapi permintaan maaf didepan media seperti itu tidaklah akan mengobati luka hati warga Muhammadiyah, kedekatannya dengan beberapa tokoh Muhammadiyah bukanlah jaminan dia tidak berniat jahat terhadap Muhammadiyah.

Jika Wimar benar tidak bermaksud ingin menghina Muhammadiyah, hanya sekedar untuk lucu-lucuan saja, maka seharusnya Wimar datang ke Muhammadiyah, menyatakan penyesalannya dan minta maaf atas kekeliruan yang telah dilakukannya, bukan minta maaf didepan awak media.  


Jika hanya sekedar mengumbar kata “mohon maaf” didepan media lalu menganggap persoalannya jadi selesai maka patut dipertanyakan siapa sebenarnya yang bersikap seperti BAJINGAN.
12:34 AM | 0 comments | Read More

Bualan Pendukung Capres

Lung Bisar dan Cu Busu adalah dua sahabat yang memutuskan pilihan berbeda dalam pilpres mendatang. Cu Busu dengan berbagai pertimbangan menjatuhkan pilihannya untuk mendukung Prabowo sementara Lung Bisar berpihak kepada Jokowi.

Cu Busu tertarik pada pemikiran dan cita-cita Prabowo yang ingin membangun Indonesia, agar bisa bangkit kembali mengaum sebagai Macan Asia. Sedangkan Lung Bisar bersimpati kepada gaya hidup Jokowi yang merakyat dan suka blusukan.

Sambil memangkas rambut pelangannya, Cu Busu bercerita tentang kebaikan Prabowo, orangnya cerdas, menguasai berbagai bahasa asing, karir militernya cemerlang, kalaupun akhirnya dia dipecat dari dinas kemiliteran itu bukan disebabkan karena dia melakukan kesalahan, tetapi karena tekanan dan pengaruh tertentu dalam situasi politik yang tidak tidak menentu.

Cu Busu juga dengan sigap menangkis tuduhan Penculik terhadap Prabowo, dia menjelaskan bahwa itu adalah bagian dari tugasnya sebagai alat negara, patuh pada perintah atasan. “Untuk apa kita sibuk mengungkit-ungkitnya, sementara orang-orang yang diculik itu kini berdiri dibarisan depan sebagai pelapis dada Prabowo.” Kata Cu Busu seakan-akan menantang lawan bicaranya.

“Sebut saja Pius, Harjanto Taslam, dan beberapa aktivis lainnya yang dulu kabarnya pernah diculik, kini aktif di Partai Gerindra, mereka yang diculik saja diam dan tidak ribut lalu kenapa kita malah yang kasak kusuk. Isu itu selalu dimunculkan saat mau pemilu terlebih-lebih saat Prabowo menjadi Capres ?” Tanya Cu Busu dengan gaya berapi-api.

Jika terpilih menjadi presiden Prabowo tidak akan meminta kenaikkan gaji, dibayar separuh dari gaji SBY juga sudah cukup baginya. Belanja dapurnya tidak terlalu mahal, dia hanya butuh belanja untuk makan satu orang saja,  dia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk beli make up, bedak dan lipstik karena dia tidak memiliki isteri.

Sama seperti Cu Busu, Lung Bisar yang kesehariannya bekerja sebagai Tukang Beca, juga memanfaatkan tiap kesempatan untuk bercerita betapa rendah hatinya seorang Jokowi, dia pemimpin yang merakyat , sejarah mencatat bahwa dialah satu-satunya walikota dinegeri ini yang tak pernah mengambil gajinya.

Waktu di Solo dulu dia cukup belanja di Pasar Klewer, bukan di Grand mall atau Solo Square, dan kalau mau lebaran nanti tidak perlu beli baju baru, cukup pakai baju kotak-kotak yang harganya tidak mahal dan bisa dibeli di Tanah Abang.

Kesehariannya juga tidak membutuhkan biaya hidup yang tinggi, Jokowi makan lebih sedikit dari orang lain, kendatipun hal itu menyebabkan tubuhnya jadi kerempeng, tetapi dari segi biaya dia lebih irit.
Jika terpilih menjadi presiden nantinya orang Aceh bisa berkunjung ke Papua  dengan naik Esemka (begitu juga sebaliknya),  karena sebelum masa jabatannya berakhir dia akan merangkai pulau-pulau besar di Indonesia ini dengan jembatan, sekaligus menghidupkan kembali produksi mobil anak sekolah yang dulu ditungganginya.

Sakingkan gigihnya kedua sahabat ini bicara soal capres dukungannya masing-masing, maka berkembanglah pengikut Lung Bisar yang mendukung Jokowi dan pengikut Cu Busu yang mendukung Prabowo, dengan jumlah yang lumayan besar.

Suatu ketika Lung Bisar mampir kewarung Mak Sumiati, dan tanpa diduga ternyata Cu Busu sudah duluan duduk diwarung itu, alhasil bil husal keduanya duduk semeja sambil memesan PECAL (makanan favourite bersama), sebuah kebersamaan yang sudah lama mereka tinggalkan.

Sambil menunggu Mak Sumiati mengulek pecal, mereka berbincang hal ikhwal pemilihan presiden. Keduanya bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing, capres yang didukungnyalah yang terbaik, capres yang lain tidak.

“Usai Pemilihan Presiden ini  nantinya, kalian berdua ini dapat apa ?” Tiba-tiba terdengar suara Mak sumiati disela pembicaraan mereka. Pertanyaan itu membuat Lung Bisar dan Cu Busu terdiam bagaikan kehabisan kata, tidak mampu beragumen lagi dan tidak bisa memberikan jawaban. Mereka berdua sadar akan dirinya bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah sebuah kesia-siaan.

Sia-sia karena mereka bukanlah anggota tim sukses, bukan anggota parpol pendukung, hanya sebatas simapati saja. Hak mereka sama dengan hak orang lainnya, boleh memilih salah satu calon dan boleh tidak memilih keduanya, tidak lebih dari itu.

Kedua capres itu sama sebangun, sama-sama punya kelebihan dan kekurangan, tiap-tiap orang bebas menentukan pilihan sesuai dengan hati nuraninya masing-masing, tidak perlu dibujuk-bujuk karena pemilih bukanlah anak kecil lagi, tidak boleh diintervensi karena pemilihan ini bebas dan rahasia, kecuali.

“Kecuali  jika kita punya kepentingan,” Kata Lung Bisar,


“Betul, Politik itu memang sarat dengan kepentingan, paling tidak, kepentingan untuk meraih kedudukan,”  Kata Cu Busu sambil beranjak dari tempat duduknya.
12:24 AM | 0 comments | Read More

Pemimpin Kencing Berdiri, Rakyat Kencing Menari

Makin dekat dengan hari pemilihan presiden makin riuh pula suara para pendukung masing-masing calon, semakin sering para capres dan cawapres datang kedaerah semakin terkotak-kotak pula masyarakat ditingkat bawah.

Gaduh dan terkotak-kotak dibumbui dengan berbagai ungkapan kasar dan serang menyerang antara kelompok pendukung capres yang satu dengan yang lainnya inilah yang menjadi kecemasan kita. Pilpres ini seakan sudah bergeser dari pesta demokrasi untuk melahirkan pemimpin yang mempersatukan bangsa menjadi perang yang meluluh lantakkan sendi-sendi persaudaraan

Memang hingga hari ini belum ada korban yang berjatuhan secara pisik, tetapi secara moral kita ditolak mundur kezaman purba yang prilaku manusianya tak mengenal etika, mengumbar umpatan secara berlebihan dan menganggap lawan dalam kompetisi sebagai musuh digelanggang.

Mula-mula perang dengan menggunakan kata dalam bait-bait puisi, yang satu menulis puisi bernada mengejek  lalu yang satunya lagi membalasnya dengan meminjam sajak Wiji Thukul. Dilanjut dengan umpatan lewat media cetak dan televisi, lalu diramaikan oleh masing-masing pendukung dengan akun palsu dijejaring sosial. Sungguh memprihatinkan.

Persaiangan antar capres seyogyanya dilakukan secara santun dan menjunjung adat ketimuran, saling menghargai dan saling menghormati.  Pemilihan presiden ini bukanlah perang tanding antara dua pendekar dalam dunia persilatan, dimana pendekar yang menang bisa melanjutkan hidupnya dengan damai sampai ada penantang berikutnya sementara yang kalah terkapar lana bersimbah darah, mati terkubur dengan dendam kesumat.

Tanpa disadari, pemilihan presiden kali ini telah melahirkan perseteruan antar elite yang menjalar keakar rumput, perang kata-kata antar tokoh dicontoh oleh para pendukungnya ditingkat bawah. Inilah yang membuat kita menjadi khawatir.

Kekhawatiran itu dipicu oleh realita yang berkembang ditengah masyarakat saat ini yang sudah mulai terkotak-kotak, masing-masing bersitegang urat leher membela calon yang didukungnya. Perbincangan ditempat-tempat umum hingga diwarung-warung kopi saat ini penuh dengan perdebatan antar masing-masing pendukung kandidat presiden.

Debat antar mereka terkadang berisi saling hujat dan membuka aib, seperti air tumpah kelantai berserak tanpa arah, mengalir sekenanya menurut penafsiran mereka sendiri akan ucapan elite yang diekspos oeh media.

Bagi kedua kandidat (Jokowi dan Prabowo) semua persaingan itu akan berakhir seiring dengan diumumkannya hasil pilpres mendatang, kalaupun diperpanjang masalahnya, paling hanya sampai ke Mahkamah Konstitusi. Setelah itu mereka bersalaman atau duduk bersanding secara damai, tetapi ditingkat bawah urusannya bisa runyam, sikap permusuhan diantara kedua kelompok pendukung itu akan berlangsung lama. Usaia Pilpres nanti, para elite pendukung capres akan saling berangkulan sambil melirik kemungknan mendekati lawan yang menang, tetapi diakar rumput akan seperti piring retak yang sangat susah untuk merekatkannya kembali.


Pemilihan presiden ini bertujuan untuk memilih seorang pemimpin yang terbaik bagi negeri ini, bukan untuk memecah belah dan mencabik-cabik rasa persaudaraan kita sesama bangsa Indonesia. Justeru itulah para tokoh negeri ini dihimbau agar tidak mempertontonkan sikap permusuhan dihadapan publik, karena masyarakat awam memiliki kecenderung sikap meniru kelakuan para pemimpinnya. Pemimpin Kencing Berdiri, Rakyat Kencing sambil Menari
12:13 AM | 0 comments | Read More

Ulama dan Kursi

"Bahkan saya berani menjamin, jika Jokowi-JK menang, menteri agamanya pasti dari kalangan Nahdatul Ulama (NU)," kata Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, di forum silaturahim ulama di Surabaya, Minggu (25/5/2014).

Sepintas, ucapan Muhaimin ini merupakan angin segar bagi warga NU, pemilihan presiden belum dilaksanakan jatah kursi kabinet untuk warga NU sudah disediakan. Ini menandakan bahwa NU merupakan sebuah organisasi yang selalu diutamakan dan diperhitungkan oleh siapapun yang memimpin dinegeri ini.

Namun karena ucapan ini disampaikan saat mendekati masa pemilihan presiden maka maknanya  bisa melenceng  jadi pelecehan terhadap NU. Apalagi ucapan itu disampaikan didepan para ulama Jatim yang pada umumnya adalah warga Nahdliyin.

Sadar atau tidak, ucapan Muhaimin itu seakan-akan memperlakukan para ulama seperti anak kecil yang bisa diiming-imingi dengan permen. Dengan janji jabatan menteri Agama,  Muhaimin mungkin berharap para Ulama akan mengajak pengikutnya untuk memilih pasangan Jokowi – JK sebagai presiden.

Ulama yang dihadapinya itu bukanlah orang bodoh, bukan pula kumpulan orang-orang yang haus jabatan. Mereka semuanya terdiri dari orang-orang berilmu dan berdedikasi, menentukan sikap pilihan bukan karena iming-iming jabatan, tetapi tergantung pada pribadi calon yang kita sodorkan. Lagi pula kursi menteri Agama itu hanya satu, sementara warga NU jumlahnya jutaan.

Bagi para Ulama, calon pemimpin itu jelas kreterianya, berakhlak, menjadi panutan bagi pengikutnya, arif dan bijaksana, berilmu  dan istiqomah, Amanah dan Fathonah, jujur serta berkeadilan dan beberapa syarat lainnya sesuai dengan tuntunan Rosul. Kesemua persyaratan pemimpin yang diyakini oleh para Ulama itu tidak bisa ditukar dengan sebuah kursi Menteri.

Sejatinya dalam pertemuan itu Muhaimin  bisa menjelaskan kepada para ulama tentang alasannya mendukung Jokowi – JK. Dia kewajiban untuk menyampaikan sedetail mungkin tentang profile Jokowi – JK, apa kelebihannya, apa untungnya bagi ummat dan apa ruginya jika ummat tidak memilih pasangan ini. Sehingga dengan penjelasan itu Ulama akan berkeyakinan bahwa memang Jokowi – JK lah pasangan pimpinan terbaik untuk dipilih.

Sebagai seorang pemimpin partai politik seharusnya Muhaimin ikut menumbuh suburkan faham Demokrasi yang kita anut. Siapapun yang terpilih menjadi presiden itulah yang terbaik untuk bangsa ini, tidak perduli apakah dia dari kelompok kita atau bukan, yang terpenting ukhwah Islamiyah tetap terjaga dengan baik, ummat tidak terkotak-kotak dalam kelompok kecil, tetapi bersatu padu dalam wadah besar yang bernama Indonesia.


Siapapun nantinya yang terpilih menjadi presiden maka dialah yang berwenang mengangkat menteri Agama. Dalam sejarah negeri ini telah mencatat bahwa sejak era reformasi, semua Menteri Agama itu berasal dari kalangan NU, cuma masalahnya adalah dua diantaranya telah menoreh catatan kelam,  tersandung kasus Korupsi dan digaruk oleh KPK. Dan kedua mantan menteri agama itu sudah bisa dipastikan telah merugikan nama baik NU.
12:07 AM | 0 comments | Read More

Benny dan Panbers Dalam Kenangan

Terakhir kali saya bertemu dengan Benny Panjaitan di Bandara Soekarno Hatta pada pernghujung 2012 silam, waktu itu pria yang saya kagumi ini bersama adik-adiknya yang tergabung dalam group musik panbers akan berangkat ke Sumatera Utara untuk sebuah Show.

Tubuhnya terlihat sedikit agak kurus dan karena penyakit yang dideritanya memaksa Benny harus duduk dikursi roda sepanjang hari. Diruang tungu bandara aku menanyakan keadaannya termasuk tentang kegiatannya sehari-hari yang menurut pengakuannya masih tetap bermain musik.

“Sampai kapanpun aku tetap ingin bermain musik,” katanya dengan mimik serius, kemudian dia melanjutkan lagi ceritanya yang mengeaskan bahwa bagi seorang Benny Panjaitan Musik adalah bagian dari hidupnya yang tak pernah bisa dipisahkan, bahkan sampai denyut nadi terakhir dia akan tetap ingin bernyanyi dan bermain musik.

Diakui oleh Benny bahwa dia tidak produktif seperti waktu mudanya dulu, namun dia tidak ingin berhenti berkarya, sesulit apapun keadaannya dia tetap berusaha mempertahankan eksistensi Panbers diblantika musik, justeru itulah meski harus didorong diatas kursi roda dia tetap berangkat ke Sumatera Utara untuk memenuhi permintaan penggemarnya.

Sama halnya dengan Tonny dalam keluarga Koeswojo, Benny menghimpun adik-adiknya seperti Hans, Doan dan Assido dalam sebuah group band yang diberi nama Panbers, akronim dari Panjaitan Bersaudara, sebuah nama yang mengekalkan marga Batak dalam kancah musik negeri ini.

Pembicaraan kami terputus seketika, karena Benny harus masuk kepesawat yang membawanya ke Medan. 
Mataku terus menataap langkah Asido Panjaitan mendorong Benny yang duduk dikursi roda, sambil ingatan surut kebelakang, kemasa-masa jayanya Panbers.

Waktu itu Panbers bersama Koesplus, The Mercys, Bimbo dan Favourite Group masuk dalam the big five group musik Indonesia. Masing-masing group musik ini memiliki ciri khas dan keistimewaan tersendiri,  seperti Panbers yang dikenal dengan Duet mautnya.

Lagu-lagu Hitsnya seperti Akhir Dari Cinta, Gereja Tua, Hidup terkekang dan lainnya hingga kini masih segar dalam ingatan publik. Meskipun lagu-lagu tersebut sudah terbilang lama usianya tetapi masih tetap enak didengar dimasa kini, itulah suatu bukti bahwa lagu dan musik yang kwalitas akan abadi dihati pendengarnya, dan kelompok Panbers memiliki hal itu.

Lama tak terdengar kabarnya, malam ini aku kembali melihat sosok Benny dalam acara televisi yang dipandu oleh Tukul Laptop, dia hadir bersama anak dan keponakannya plus adiknya Assido panjaitan. Penampilannya malam ini membuat hatiku jadi terenyuh, Benny yang kutemui dua tahun lalu sudah diubah oleh penyakit yang menggerogoti tubuhnya, bicaranya sudah terbata-bata dan tentunya sudah tidak bisa bernyanyi lagi. Namun sungguhpun demikian, keinginannya dalam bermusik tidak pernah padam, semangatnya masih menyala-nyala terutama ketika Tukul menanyakan apakah masih menciptakan lagu dengan tegas dia menjawab “Ya.”


Itulah Benny yang sejenak melintas dalam ingatan ku, semoga Panber tetap jaya dan abadi dalam ingatan penggemarnya, mauliate lae, Horas.
12:03 AM | 0 comments | Read More

Politisi Masuk Angin

Written By lungbisar.blogspot.com on Wednesday, June 25, 2014 | 11:47 PM

Pilpres tinggal enam minggu lagi, masing-masing kubu capres bergerak cepat pada siang dan malam hari. Mereka berlari mengejar waktu, membina hubungan dengan berbagai pihak, mendatangi petani dan pemusik, merancang baju seragam sebagai uniform agar mudah dikenali dan menyerang lawan dengan berbagai cara.

Persaingan antara kedua capres nampaknya semakin keras, masing-masing kubu sudah saling melempar tuduhan dan ejekan. Ada dalam bentuk puisi berbalas puisi, ada berbentuk sindiran yang dibalas pula dengan sindiran, dan ada pula yang memanfaatkan media sosial dalam menebar fitnah dan kebencian.

Seyogyanya, masing-masing capres memaparkan kepada publik tentang apa yang ingin mereka lakukan bila kelak terpilih menjadi PRESIDEN. Kemana bangsa dan negara ini mau mereka bawa, dan apa saja langkah kongkrit yang akan mereka lakukan agar kesejahteraan rakyat bisa lebih meningkat.

Seharusnya kedua capres berdiri ditengah publik, menanyakan apa kehendak hati rakyat lalu menyusun sebuah program untuk menjawab keingin rakyat dimaksud.  Mereka berdua seharusnya bisa memaparkan berbagai rencana program yang akan mereka laksanakan.

Rakyat sungguh sudah tidak bodoh lagi, justeru karenanya jangan dijejali dengan berbagai berita miring tentang masing-masing capres, tetapi masing-masing capres cobalah bicara dengan santun tanpa harus bicara tentang keburukan calon yang lain.

Cobalah sajikan kepada rakyat tentang bagaimana nantinya seorang presiden terpilih akan melaksanakan amanat Reformasi yang diputuskan oleh Sidang Umum MPR pada 1998 tentang pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Yang mana empat Presiden sebelumnya belum mampu menunaikan amanat MPR tersebut secara tuntas.

Cobalah paparkan bagaimana langkah kongkrit yang semestinya diambil oleh pemerintahan mendatang untuk mengatasi masalah pendidikan yang sistem Ujian Nasionalnya pada hari ini masih menjadi bahan perdebatan. Atau coba sampaikan kepada rakyat tentang upaya pemberantasan korupsi sehingga KPK tidak hanya sekedar menangkap Koruptor tetapi mampu membatasi langkah orang yang ingin menggarong uang rakyat.

Sistem pelayanan haji yang amburadul dan menjadi keluhan masyarakat muslim setiap musim haji juga perlu pembenahan, masing-masing capres seharusnya mengemukakan konsep bagaimana cara mengatasinya sehingga ummat muslim Indonesia bisa menjalankan ibadah haji dengan nyaman dan aman, tanpa dirasuki oleh syak wasangka terhadap penyelenggaraan haji.

Capres juga harus bisa menjelaskan soal tindakannya kedepan untuk mengatasi lonjakan jumlah tenaga kerja, apa upaya mereka untuk menciptakan lapangan kerja dan bagaiamana caranya agar jumlah TKI / TKW setiap tahunnya bisa berkurang.

Untuk Indonesia diwilayah Timur bagaimana pula cara pengembangannya, sehingga percepatan pembangunan bisa dilakukan tanpa harus menimbulkan rasa iri bagi saudaranya yang di Barat. Demikian juga soal daerah perbatasan yang harus dijaga sehingga rakyat disana tidak memilih hijrah kenegara lain, dan atau wilayah RI menjadi berkurang karena dicaplok oleh negara tetangga.


Banyak hal lain lagi yang semestinya mereka pikirkan untuk kepentingan bangsa dan negara ini, dan itu jauh lebih penting dari pada berbicara tentang keburukan lawan. Bicara tentang kejelekan dan keburukan lawan baik ditingkat elite maupun ditingkat pendukung yang paling bawah sama saja artinya menebar kentut kepada rakyat, baunya busuk dan menyengat hidung serta tidak ada manfaatnya, pekerjaan seperti ini hanya dilakukan oleh politisi kampungan yang sedang masuk angin. Dan sebagai rakyat pemilih tentunya tidak ingin dipimpin oleh politisi masuk angin yang kerjanya sepanjang waktu hanya sekedar ,menebar KENTUT.
11:47 PM | 0 comments | Read More

SDA Tersangka, Fahri Hamzah Meradang

Ditetapkannya Suryadharma sebagai tersangka dalam kasus penyelenggaraan haji membuat Fahri Hamzah meradang. Wasekjen PKS yang biasa bicara lantang itu menilai langkah KPK itu kontra produktif dengan upaya kemenag dalam upaya membenahi sistem pelayanan haji.

"Kami sangat sayangkan saat Kemenag membuat sistem pelayanan haji yang transparan, KPK justru mengambil langkah kontra-produktif dengan upaya pembenahan yang bertujuan untuk mencegah berbagai tindak pidana korupsi," ujar Fahri sebagai mana yang dikutip oleh berbagai media.

Saat ini kementerian agama memang sedang membenahi sistem pelayanan haji agar lebih baik dan transparan, upaya ini dimotori oleh Dirjen Haji dan Umroh Abimnyu dan Irjen Kemenag M. Jasin. Namun bukan berarti penetapan Suryadharma sebagai tersangka akan menghentikan langkah kemenag dalam hal pembenahan dimaksud.

Program bersih – bersih urusan haji dimaksud bukan rencana kerja yang mencuat begitu saja, tetapi lahir atas desakan dari masyarakat muslim Indonesia yang sepanjang tahun mengeluhkan buruknya  pelayanan haji.
Penetapan SDA sebagai tersangka bukan atas keinginan dari para komisioner KPK, tetapi sebuah proses yang harus dijalani oleh KPK sebagai lembaga penegak hukum. Jadi, sangat keliru jika Fahri menilai bahwa KPK telah menghalangi langlah kemenag untuk berbenah diri.

Bisa jadi penetapan SDA sebagai tersangka merupakan langkah awal dari pembenahan sistem yang buruk itu, menjadi pelajaran bagi penggantinya agar bekerja lebih baik lagi. Tidak memanfaat kesempatan untuk memboyong sanak famili dan koleganya pergi berhaji, bersikap transparan dalam mengelola dana tabungan haji yang setiap menit jumlahnya bertambah terus.

Kembali pada penilaian Fahri terhadap kinerja KPK, belakangan ini nampaknya memang terkesan ada sesuatu yang tidak beres, apapun langkah KPK selalu dinilai oleh anggota fraksi PKS ini sebagai sesuatu yang buruk, terutama setelah KPK menangkap LHI dan melemparkannya kedalam penjara, Bahkan dalam suatu kesempatan Fahri sempat mengusulkan agar KPK dibubarkan.


Kita tidak tau apakah penilaian Fahri terhadap KPK ini keluar dari hati yang bersih dan pikiran yang jernih, atau ada sesuatu yang membuat dia meradang sepanjang waktu ?
11:43 PM | 0 comments | Read More