Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya
Powered by Blogger.

Visitors

Powered By Blogger

Featured Posts

Like us

ads1

Manfaat Gerakan Sholat Untuk Kesehatan

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, August 30, 2014 | 12:54 AM

Dikutip dari blognya DR. OZ INDONESIA

Takbiratul Ikhram

Manfaat solat bagi kesehatan  yang pertama adalah gerakan takbiratul ikhram. Manfaat gerakan shalat untuk kesehatan dari takbiratul ikhram ini adalah untuk melancarkan aliran darah , limfe dan untuk kekuatan otot pada lengan. Manfaat gerakan sholat takbir ini juga bisa menghindari dari gangguan pada sendi  tubuh bagian atas.

Gerakan sholat Rukuk

Manfaat gerakan shalat bagi kesehatan yang kedua adalah rukuk, manfaat gerakan sholat bagi tubuhnya adalah agar terjaga posisi dan fungsi tulang belakang yaitu untuk menyangga tubuh juga sebagai pusat dari saraf. Gerakan sholat bagi kesehatan pada posisi ruku ini juga sarana menjaga kemih dari penyakit prostat.

I'tidal

Manfaat sholat 5 waktu bagi kesehatan kita semua pasti memahaminya dengan baik, nah pada gerakan i'tidal ini manfaat sholat secara medisnya adalah untuk melatih organ pencernaan juga mempunyai efek sebagai melatih organ pencernaan agar lancar dan baik dan ini merupakan nilai lebih dari manfaat sholat untuk kesehatan.

Gerakan Sholat Untuk Kesehatan Sujud

Filosofi gerakan sholat dari sujud adalah sebagai alat untuk memompa getah bening menuju ke leher dan ketiak juga gerakan sholat rasulullah ini mengandung darah yang sangat kaya akan oksigen dari jantung menuju otak. Jika gerakan sholat yg benar ini kita laksanakan dengan baik, maka keajaiban gerakan sholat ini sangat bermanfaat untuk kesehatan kita hanya dengan melakukan gerakan-gerakan sholat saja.

Hikmah Gerakan Shalat Duduk di Antara Sujud

Hikmah shalat jika ditinjau dari hikmah shalat dari berbagai aspek sebenarnya mempunyai manfaat untuk mengurangi dan menghindari pangkal paha yang sering nyeri dan akibatnya tidak bisa berjalan.  Duduk tawarru hikmah gerakan shalatnya bagi laki-laki bisa mencegah impotensi karena pada posisi ini tumit menekan saluran uretra atau kandung kemih dan saluran vas deferens. Inilah hikmah ibadah shalat yang bisa menjaga kekuatan tubuh dan menjaga elastisitas tubuh kita dengan hikmah-hikmah shalat.

Manfaat Gerakan Sholat Salam

Untuk manfaat salam bagi kesehatan yaitu sebagai relaksasi pada otot leher juga kepala. Selain itu manfaatnya adalah menyempurnakan proses aliran darah pada kepala dan ini merupakan cara alami agar sakit kepala berkurang.  Bagi anda para wanita sista semua, gerakan solat salam bisa untuk mempertahankan dan menjaga kulit wajah menjadi kencang.Ok penggemar setia DR. OZ INDONESIA dimanapun anda berada itulah tadi ulasan ringkas tentang manfaat gerakan sholat, manfaat gerakan shalat bagi kesehatan, keajaiban gerakan sholat dan semoga informasi ini bisa menambah wawasan kita. Terimakasih dan salam sehat indonesia.
12:54 AM | 0 comments | Read More

Biang Kerusuhan

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, August 23, 2014 | 10:31 PM

Lung Bisar berangkat menghadap Tuan Paduka Raja Tanah Pekaitan, ketika tiba dijembatan Pedamaran dia diahadang oleh Hulu Balang Raja dengan alasan tak seorangpun yang dibolehkan melintas disitu.

"Mengapa ?" tanya Lung Bisar

"Raja  sedang  menerima  tamu-tamu  agung  dari  seluruh  negeri.  Saat  ini  sedang berlangsung pembicaraan penting yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak, Pergilah !"

"Aneh kalian ni, bicara soal nasib rakyat, tapi rakyat disuruh menjauh ?" Kata Lung Bisar

"Kami  hanya  menjalankan perintah, menjaga agar  tidak  ada PERUSUH yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !" Bentak Hulu Balang itu dengan bengisnya

"Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?" kata Lung Bisar sambil balik kanan, hulu balang yang angkuh itu terdiam sambil hati kecilnya berkata "jangan-jangan KERUSUHAN itu memang dari dalam sana biangnya.
10:31 PM | 0 comments | Read More

Budul Berdasi

Written By lungbisar.blogspot.com on Tuesday, August 19, 2014 | 11:41 PM

Wakil rakyat itu selayaknya menjadi orang yang terhormat, mereka dipilih lewat sebuah pemilu yang diselenggarakan dengan biaya yang tidak murah. Mereka terpilih diantara sekian banyak orang yang mencalonkan diri tapi tidak terpilih.

Proses dari awal sampai dilantik menjadi wakil rakyat adalah sebuah perjalanan panjang yang harus mereka lalui untuk menjemput sebuah prediket wakil rakyat yang terhormat. Prediket itu tersemat didada mereka jika para wakil rakyat ini mampu menjalankan amanah yang dipikulkan dipundaknya.

Jika para wakil rakyat ini mengkhianati amanah yang diberikan rakyat, dan mereka gagal menyuarakan kepentingan rakyat bahkan lebih cenderung mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompoknya, maka gelar terhormat itu dengan sendirinya akan tercoreng.

Jika kedudukannya itu mereka gunakan untuk mengeruk uang negara dalam bentuk bagi-bagi jatah proyek dan lain sebagainya, sehingga ada asas kepatutan yang dilanggar, ada aturan hukum yang mereka kangkangi dan fungsinya  sebagai pengawas penyelenggara negara bergeser menjadi penggarong uang rakyat, maka tidaklah berlebihan jika mereka kita sebut sebagai perampok berdasi.

Perampok, dalam ingatan masyarakat Rokan Hilir identik dengan seorang tokoh yang bernama BUDUL, namanya amat fenomenal dan ditakuti oleh masyarakat. Nah itu dia, jika saat ini ada tokoh yang kerjanya menilap uang rakyat tetapi disegani dan ditakuti maka tidaklah berlebihan jika beliau disebut sebagai “BUDUL BERDASI”.

Selamat berpikir. 
11:41 PM | 0 comments | Read More

Na'uzubillah

Written By lungbisar.blogspot.com on Monday, August 11, 2014 | 11:55 PM

(karena hari sudah hampir maghrib Lung Bisar dan kawan-kawannya bubar dan beranjak pulang kerumahnya masing-masing, beberapa diantara mereka berpikir sambil didalam hatinya mengulangi kata-kata “Na’uzubillah.”)

Pulang dari melaut, Lung Bisar mampir diwarung kopi Pak Bual, warung yang menjadi tempat nongkrong para pembual dinegeri itu. Ditempat ini, mereka berbincang sekenanya, tanpa topik yang jelas tanpa agenda yang diatur, mereka menyebutnya dengan  istilah Bincang Lepas, maksudnya berbincang santai sambil melepas lelah.
Berbagai hal mereka perbincangkan disore itu, dimulai dari cerita masa lalu tentang Budul yang merampok diperairan Sungai Rokan sampai kepada para koruptor yang ditangkap  KPK. Kemudian dilanjut dengan kisah gigi palsu Pak Guru yang copot waktu memberikan pelajaran di Sekolah, hingga sampai kisah pejabat yang dicopot gara-gara diduga menggunakan ijazah palsu.
Cerita merekapun berlanjut tentang nonton di Bioskop Ria, bioskop yang dulu menjadi kebanggan negeri itu kini sudah tinggal kenangan, tak ada yang dapat dilihat lagi, bioskop sudah jadi abu dilalap api. Kini dusun mereka dipenuhi gedung-gedung berkubah, menjulang tinggi kelangit,  setinggi lenggang para pejabat negeri yang hedonis dengan jubah kebesarannya sementara kesejahteraan anak negeri tinggal abadi dalam angan-angan.
Makin sore hari semakin asik mereka berbual, dan sampailah topik perbincangan mereka kepada pembangunan jembatan Pedamaran yang membelah Sungai Rokan, merangkai negeri sampai ke Tanah Pekaitan. Lalu perbincangan mereka merambat ke Jembatan Siak III yang berlokasi di Rumbai Pekanbaru. Jembatan yang cukup dua tahun digunakan itu kini ditutup karena kondisinya yang tak jelas dan bisa membahayakan keselamatan warga.
Pembangunan Jembatan yang dibiayai dengan uang rakyat itu diduga penuh misteri, tidak jelas siapa yang salah, apakah pelaksananya atau pejabat yang mengawasi pembangunannya, masing-masing pihak berlepas tangan dan saling melempar tudingan, tapi tak pernah ada penyelsaian siapa yang harus bertanggung jawab. Jembatan itu ditutup karena besi penyangga lantainya itu melengkung seperti mau patah.
Jembatan yang diberi nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah, raja ke 5 dari kerajaan Siak, maksudnya ingin memberi penghargaan kepada sang Raja yang telah bersusah payah berbakti membuka hutan belantara menjadi sebuah kota yang kemudian diberi nama Pekanbaru.
“Tapi sayangnya jembatan itu tak segagah nama dan gelar yang disandangnya,” celetuk Cu Busu ditengah perbincangan mereka.
“Nah itu dia,” sambung Lung Bisar pula.“ Dulukan setiap petinggi negeri ini diberi gelar oleh Lembaga Adat, seperti Imam Munandar bergelar Datuk Sri Lelawangsa, Rusli Zainal dengan gelar Datuk Setia Amanah, kemudian Wali kota Pekanbaru Herman Abdullah bergelar Datuk Bandar,” lanjut Lung Bisar lagi sambil menyeruput kopi pahit hidangan Pak Bual.
“Kebetulan pemangku negeri yang sekarang ini belum diberi gelar oleh lembaga adat, padahal semestinya sudah ada pemikiran kearah itu, bagaimanapun dia adalah putera terbaik yang bertuah mendapat kepercayaan dari rakyat untuk memimpin negeri ini, segeralah kita usulkan agar beliau diberi gelar.” Kata rekan mereka yang lain pula

“Saya usulkan beliau diberi gelarnya Tameng Sari.”
“Itu nama Keris Hang Tuah Cu,” sergah Lung Bisar
 “Syarif Hidayatullah,” sambung yang lainnya
“Gelar itu sudah dipakai untuk Universitas negeri di jakarta.”Jawab Lung Bisar
“Panglima Ali Muhtadibillah,”
“Oooooo , tak bisa Cu, itu mirip dengan gelar Pangeran Brunai Darussalam.”
“Al mari meja kursi,”
“Jangan bercanda,” potong Cu Busu sambil melototkan matanya pada Duan Gintil yang tiba-tiba iseng mengusulkan nama bergaya Arab, suasanapun hening sejenak, Lung Bisar memutar otaknya mencari gelar yang cocok untuk paduka.
“Na’uzubillahi Min Zaliq, itu gelar yang saya usulkan,”  tiba-tiba terdengar suara Tuan Bachtiar dari celah jendela, ternyata perbincangan mereka soal gelar paduka diraja yang dipertuan negeri itu sudah sejak tadi diikuti oleh Tuan Bachtiar, dan ketika Bincang Lepas itu buntu mendapatkan kata yang cocok, maka diapun ikut nimbrung.
Tidak ada yang tau, apakah usulan itu diterima atau ditolak, namun  karena hari sudah hampir maghrib Lung Bisar dan kawan-kawannya bubar dan beranjak pulang kerumahnya masing-masing, beberapa diantara mereka berpikir sambil didalam hatinya mengulangi kata-kata “Na’uzubillah.” 
11:55 PM | 0 comments | Read More

Lung Bisar dan Kudanya

Written By lungbisar.blogspot.com on Monday, July 21, 2014 | 12:46 AM

Lepas waktu Ashar, Lung Bisar mengitari kota Bagan dengan menunggang Kuda, keluar masuk gang dan berkeliling dengan penuh semangat. Sebagai orang yang baru  mahir menunggang Kuda ia ingin  memamerkan keahliannya, termasuk juga ingin membuktikan kepada halayak ramai bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagi seorang Lung Bisar. Tidak sekolah bukan berarti tidak bisa punya ijazah, termasuk Ijazah MENUNGGANG KUDA.

Sore itu Lung Bisar menjadi pusat perhatian, ribuan pasang mata penduduk kota menatapnya dengan iringan decak kagum. Semua mulut memujinya, semua orang menyebut namanya sebagai pemuda dengan berbagai keahlian. Lung Bisar makin bersemangat dan dia benar-benar merasa puas dengan mainannya yang baru, Penunggang Kuda.

Makin sore makin banyak orang yang menonton aksinya, Lung Bisar kian bersemangat, namun dia lupa bahwa Kudanya mulai merasa gerah karena terlalu lama berkeliling didalam kota. Dia lupa bahwa sifat Kuda lebih cenderung menempuh jarak jauh ketimbang  berulang-ulang dijalan yang sama.

Kudanya berlari semakin cepat, makin sore semakin tak terkendalikan, Lung Bisar menjadi bingung untuk menghentikannya, dan disaat yang sama tiba – tiba terdengar suara Kelipah Bachtiar menyapanya.

“Mau kemana Lung ?” Tanya Khalifah Bachtiar.

“Entahlah,”  jawab Lung Bisar singkat, dan jawaban itu membuat Khalifah Bachtiar merasa heran, Lung Bisar sudah buang tabiat sampai bisa tak tau arah tujuannya, namun sayup-sayup dari kejauhan dia kembali mendengar suara Lung Bisar. 

“Kuda inipun tak memberitahu kemana aku akan dibawanya.”


Mendengar jawaban sahabatnya itu Khalifah Bachtiar hanya tersenyum-senyum kecil, “Ternyata bukan Lung Bisar yang menunggang Kuda, tetapi Kuda yang melarikan Lung Bisar, na’uzubillahi min zaliqa, semoga tidak ada lagi orang bodoh belagak pintar yang dilarikan oleh Kuda tunggangannya sendiri,”  ujar Kh Bachtiar dalam hatinya.
12:46 AM | 0 comments | Read More

Alam Terbentang Guru Kehidupan

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, July 19, 2014 | 12:05 AM

Tatkala mentari hampir jatuh diufuk Barat, langit cerah Merah menyala, lewat celah rimbun dedaunan, cahaya mentari senja itu menerangi teras rumah tempat Lung Bisar duduk sendiri menikmati indahnya alam ciptaan Azza wa Jala. 

Aku coba menghampirinya, duduk bersama beliau menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan ceritanya tentang pelajaran hidup yang didapat dari hamparan alam semesta. 

"Dulu aku pernah bertanya pada seorang ulama SUFI, "Siapakah GURU tuan" kata Lung Bisar memulai ceritanya. 

"Ulama Sufi Itu menjawab dengan panjang lebar, dia mengaku memiliki ribuan guru. Menyebut nama mereka satu-persatu akan memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun dan sudah sangat sulit untuk menjelaskannya. Tetapi ada tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu. 

Pertama adalah seorang pencuri. Saat aku tersesat dilarut malam, aku kebingungan mencari tempat menginap, semua tempat telah tutup. 

Tetapi ada seorang pemuda yang sedang melubangi dinding pada sebuah rumah. Aku bertanya kepadanya, "Dimana aku bisa menginap?" lalu dia menjawab "Sulit untuk mencari tempat menginap pada larut malam seperti ini. Tapi, jika engkau bersedia tidur bersama seorang pencuri engkau bisa menginap dirumahku” jawab pemuda itu. 

Akupun menetap bersamanya selama satu bulan! Dan setiap malam ia berkata kepadaku, “Sekarang aku akan pergi bekerja. Engkau beristirahatlah sambil berdoa.” 

Ketika dia telah kembali aku bertanya “apakah engkau mendapatkan sesuatu?” dia menjawab, “Tidak malam ini. Tetapi besok aku akan mencobanya kembali, jika Tuhan berkehendak besok akan terjadi.” Dia tidak pernah patah semangat, dia selalu bahagia. 

Ketika aku mengalami hambatan dan rintangan aku teringat akan si pencuri yang selalu berkata pada malam hari. “Jika Tuhan berkehendak, besok akan terjadi.” Dia itulah guru kehidupanku yang pertama. 

Guruku yang kedua adalah seekor anjing. Tatkala rasa haus melanda kerongkongan ku aku pergi kesungai, bersamaan dengan itu ada seekor anjing yang juga sedang kehausan. 

Pada saat ia melihat ke air nampak olehnya “bayangannya sendiri”, dan ia pun ketakutan. Anjing itu kemudian menggonggong dan berlari menjauh. Namun karena rasa haus yang mendahaga ia kembali lagi. Akhirnya, terlepas dari rasa takutnya, ia langsung melompat ke air, dan hilanglah bayangannya itu tadi. Pada saat itulah aku menyadari sebuah pesan datang dari Tuhan: "ketakutanmu hanyalah bayangan, ceburkan dirimu ke dalamnya dan bayangan rasa takutmu itu akan hilang". 

Guruku yang ketiga adalah seorang anak kecil. Tatkala aku memasuki sebuah kota dan aku melihat seorang anak kecil membawa sebatang liling yang menyala. Dia sedang menuju mesjid untuk meletakkan lilinnya disana. 

“Sekedar bercanda”, kataku kepadanya, “Apakah engkau sendiri yang menyalakan lilinnya?” Dia menjawab, “Ya tuan.” Kemudian aku bertanya kembali, “Ada suatu waktu dimana lilinnya belum menyala, lalu ada suatu waktu dimana lilinnya menyala. Bisakah engkau tunjukkan kepadaku darimana datangnya sumber cahaya pada lilin itu? 

Anak kecil itu tertawa, lalu dengan sekali hembus lilinnya padam, dan dia berkata, “Sekarang tuan telah melihat cahayanya pergi. Bisakah tuan jelaskan Kemana perginya cahaya itu?” 

Aku tersentak pertanyaannya membuat aku sadar akan  kebodohanku sendiri, dan anak kecil ini sudah mengajari aku untuk tidak bersikap sombong atas segala ilmu pengetahuan yang kumiliki. 

Adalah benar bahwa aku tidak memiliki guru. Tetapi tidak berarti aku bukan seorang murid, aku jadikan segala peristiwa dalam kehidupanku sebagai guru. Aku belajar dari kehidupan. Aku tidak memiliki seorang guru karena aku memiliki jutaan guru yang aku dapati dari berbagai sumber. 

Aku Menjadi seorang murid dan belajar sepanjang hayatku, belajar atas apa yang diajarkan oleh kehidupan. Itulah sebuah keharusan di jalan sufi  "Sang guru adalah sebuah kolam dimana engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang. Dan tatkala engkau telah mahir berenang, seluruh Samudera adalah milikmu." Kata Lung Bisar mengakhiri ceritanya
12:05 AM | 0 comments | Read More

Jenderal ! Berhentilah Berdebat

Written By lungbisar.blogspot.com on Thursday, June 26, 2014 | 12:39 AM

(Jangan buang waktu dan energimu untuk sesuatu yang tak berguna).

Pemilihan presiden kali ini seakan bergeser dari persaiangan antar capres menjadi ajang debat melelahkan antar jenderal purna bhakti.  Para jenderal yang dulunya masih aktif dan memegang jabatan penting di tubuh ABRI (sekarang TNI) pada saat – saat terakhir dari kekuasan Soeharto itu kini berdebat soal keterlibatan Prabowo dalam penculikan para aktivis.

Dalam wawancara dengan Metro TV pada 8 Juni yang lalu, Fachrul Razi, menyebutkan bahwa Prabowo terlibat dalam kasus penculikan para aktivis. Mantan wakil ketua Dewan Kehormatan Perwira (DKP)  itu menegaskan bahwa DKP telah merekomendasikan agar Prabowo diberhentikan dari dinas ketentaraan.

Atas dasar surat dari DKP itu pulalah, Wiranto selaku Menhankam/Pangab waktu itu  mengirim surat surat usulan kepada presiden. Hasilnya sama – sama kita ketahui bahwa Presiden  Habibie memutuskan  Prabowo diberhentikan dengan hormat dan mendapat hak pensiun.

Penculikan, Itulah kata yang kerap muncul dan menjadi bahan perdebatan yang tak berkesudahan ini. Kubu Prabowo tetap beranggapan bahwa dirinya bersih dan tidak bersalah dalam kasus penculikan yang dituduhkan kepadanya, justeru karena tidak bersalah itu pulalah presiden memberhentikannya dengan hormat dan mendapat hak Pensiun.

Tapi Wiranto dengan retorikanya yang khas menyebutkan bahwa seorang tentara aktif itu hanya diberhentikan dengan hormat jika sudah masuk usia pensiun atau atas permintaan sendiri karena alasan sakit. “Selain dari itu anda terjemahkan sendiri,” kata Wiranto seakan ingin berteka teki.

Prabowo dalam debat capres beberapa hari yang lalu dengan jantan mengakui tindakan penculikan tersebut, tapi itu dilakukannya sebagai seorang tentara yang taat pada perintah atasan. Tidak ada penjelasan lebih lanjut siapa atasan yang dimaksudkan Prabowo itu,tetapi kalau dirunut saat  terjadinya penculikan dimaksud atasan Prabowo selaku Danjen Kopasus pada saat itu adalah Subayo HS selaku Kasad dan Wiranto sebagai Pangab.

Jika Prabowo dipersalahkan melakukan tindakan atas perintah atasannya, tentu tidak pada tempatnya bila kesalahan tersebut dipikulkan kepada dirinya sendiri, Kasad dan Pangab waktu itu juga harus  bertanggung jawab, sama seperti yang dilakukan Prabowo mengambil alih tanggung jawab anak buahnya dari Kopasus.

Tudingan terhadap Prabowo yang melakukan penculikan atas inisiatifnya sendiri selaku Danjen Kopasus, bertolak belakang dengan keputusan DKP yang hanya merekomendasikan agar Prabowo diberhentikan, padahal sesuai dengan kesalahan yang dituduhkan kepadanya adalah pelanggaran HAM berat , hukuman yang setimpal untuk Prabowo seharusnya DIPECAT  dan diadili di Mahkamah Militer, tetapi ternyata itu tak dilakukan dan oleh karenanya publik menjadi bingung dengan apa yang diributkan oleh para jenderal purnawirawan diseputar kasus penculikan itu.

Semakin diikuti perkembangan tentang kasus penculikan itu semakin tidak jelas siapa yang harus bertanggung jawab, para jenderal terus berdebat membuat publik semakin bingung mendengarkannya, sementara perasaan keluarga korban semakin teriris, pilu  dalam penantian yang tak berujung. 


Agar masalah ini tidak semakin kabur, sebaiknya seluruh anggota DKP duduk bersama memberikan penjelasan secara lengkap kepada masyarakat, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan berbicara dengan niat yang tulus untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan.  Jika tidak Jenderal, berhentilah berdebat, jangan buang waktu dan energimu untuk sesuatu yang tak berguna.
12:39 AM | 0 comments | Read More

Wimar Menghina Muhammadiyah

Wimar Witular mengunggah gambar yang menampilkan  salah satu pasangan capres – cawapres di akun jejaring sosialnya. Dalam gambar tersebut capres – cawapres didampingi oleh elit partai pendukung dan tokoh agama Islam. 

Dibagian bawahnya terdapat lambang partai pendukung dan lambang beberapa organisasi Islam termasuk salah satunya  lambang Muhammadiyah. Dilatar belakangnya dijajarkan gambar beberapa teroris yang sudah dihukum mati, dan postingan gambar tersebut diberi judu Gallery Of Rogues, atau pajangan gambar bajingan.

Mungkin saja Wimar ingin menyatakan pendapatnya bahwa Capres – cawapres dan para pendukungnya ini terdiri dari para bajingan dan oleh karenanya rakyat pemilih perlu diingatkan jangan sampai pemilihan presiden mendatang menjadi era kebangkitan orang jahat.

Terlepas dari benar tidaknya dugaan diatas, ada satu hal yang menyayat hati saya sebagai seorang Muslim, yakni dicantumkannya lambang MUHAMMADIYAH dalam galery bajingan tersebut. Tidak  bisa dipungkiri bahwa pencantuman lambang organisasi Islam itu merupakan bentuk pelecehan terhadap ummat Islam, khususnya terhadap warga Muhammadiyah.

Mungkin Wimar lupa bahwa  Muhammadiyah bukanlah partai politik, tetapi organisasi sosial kemasyarakatan yang tidak ikut campur dalam urusan pilpres, meskipun dijajaran pendukungnya ada pentolan Muhammadiyah seperti Amien Rais dan tokoh lainnya.
Muhammadiyah bersikap Netral, tidak berpihak kesalah satu calon, bahkan selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dengan tegas menyatakan bahwa secara pribadi beliau tidak mendukung salah satu capres.

Tindakan Wimar ini disamping keliru secara politik, juga menghina warga Muhammadiyah dengan menampilkan postingan yang berjudul Gallery Of Rogues yang berarti pajangan gambar BAJINGAN. Apapun alasannya, gambar tersebut akan menimbulkan penafsiran bahwa menurut Wimar Muhammadiyah termasuk dalam kelompok atau sama prilakunya dengan organisasi para bajingan, untuk itu warga Muhammadiyah perlu menuntut penjelasan dari Wimar, apa yang menjadi dasar pemikirannya.

Wimar Witoelar memang sudah minta maaf atas foto dan status yang ia unggah di akun medsos pada Ahad (15/6). Ia mengaku tak berniat untuk menghina Muhammadiyah atau pun organisasi Islam lainnya. 
"Saya ini tak ada apa-apanya dibanding Muhammadiyah," ungkap Wimar sebagaimana dikutip oleh beberapa media, dan dia juga mengaku sangat dekat dengan beberapa tokoh Muhammadiyah seperti Syafi’i Maarif, Din Syamsuddin dan Amien Rais. “Mereka itu semuanya mitra saya, ujarnya lebih lanjut.

Tetapi permintaan maaf didepan media seperti itu tidaklah akan mengobati luka hati warga Muhammadiyah, kedekatannya dengan beberapa tokoh Muhammadiyah bukanlah jaminan dia tidak berniat jahat terhadap Muhammadiyah.

Jika Wimar benar tidak bermaksud ingin menghina Muhammadiyah, hanya sekedar untuk lucu-lucuan saja, maka seharusnya Wimar datang ke Muhammadiyah, menyatakan penyesalannya dan minta maaf atas kekeliruan yang telah dilakukannya, bukan minta maaf didepan awak media.  


Jika hanya sekedar mengumbar kata “mohon maaf” didepan media lalu menganggap persoalannya jadi selesai maka patut dipertanyakan siapa sebenarnya yang bersikap seperti BAJINGAN.
12:34 AM | 0 comments | Read More

Bualan Pendukung Capres

Lung Bisar dan Cu Busu adalah dua sahabat yang memutuskan pilihan berbeda dalam pilpres mendatang. Cu Busu dengan berbagai pertimbangan menjatuhkan pilihannya untuk mendukung Prabowo sementara Lung Bisar berpihak kepada Jokowi.

Cu Busu tertarik pada pemikiran dan cita-cita Prabowo yang ingin membangun Indonesia, agar bisa bangkit kembali mengaum sebagai Macan Asia. Sedangkan Lung Bisar bersimpati kepada gaya hidup Jokowi yang merakyat dan suka blusukan.

Sambil memangkas rambut pelangannya, Cu Busu bercerita tentang kebaikan Prabowo, orangnya cerdas, menguasai berbagai bahasa asing, karir militernya cemerlang, kalaupun akhirnya dia dipecat dari dinas kemiliteran itu bukan disebabkan karena dia melakukan kesalahan, tetapi karena tekanan dan pengaruh tertentu dalam situasi politik yang tidak tidak menentu.

Cu Busu juga dengan sigap menangkis tuduhan Penculik terhadap Prabowo, dia menjelaskan bahwa itu adalah bagian dari tugasnya sebagai alat negara, patuh pada perintah atasan. “Untuk apa kita sibuk mengungkit-ungkitnya, sementara orang-orang yang diculik itu kini berdiri dibarisan depan sebagai pelapis dada Prabowo.” Kata Cu Busu seakan-akan menantang lawan bicaranya.

“Sebut saja Pius, Harjanto Taslam, dan beberapa aktivis lainnya yang dulu kabarnya pernah diculik, kini aktif di Partai Gerindra, mereka yang diculik saja diam dan tidak ribut lalu kenapa kita malah yang kasak kusuk. Isu itu selalu dimunculkan saat mau pemilu terlebih-lebih saat Prabowo menjadi Capres ?” Tanya Cu Busu dengan gaya berapi-api.

Jika terpilih menjadi presiden Prabowo tidak akan meminta kenaikkan gaji, dibayar separuh dari gaji SBY juga sudah cukup baginya. Belanja dapurnya tidak terlalu mahal, dia hanya butuh belanja untuk makan satu orang saja,  dia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk beli make up, bedak dan lipstik karena dia tidak memiliki isteri.

Sama seperti Cu Busu, Lung Bisar yang kesehariannya bekerja sebagai Tukang Beca, juga memanfaatkan tiap kesempatan untuk bercerita betapa rendah hatinya seorang Jokowi, dia pemimpin yang merakyat , sejarah mencatat bahwa dialah satu-satunya walikota dinegeri ini yang tak pernah mengambil gajinya.

Waktu di Solo dulu dia cukup belanja di Pasar Klewer, bukan di Grand mall atau Solo Square, dan kalau mau lebaran nanti tidak perlu beli baju baru, cukup pakai baju kotak-kotak yang harganya tidak mahal dan bisa dibeli di Tanah Abang.

Kesehariannya juga tidak membutuhkan biaya hidup yang tinggi, Jokowi makan lebih sedikit dari orang lain, kendatipun hal itu menyebabkan tubuhnya jadi kerempeng, tetapi dari segi biaya dia lebih irit.
Jika terpilih menjadi presiden nantinya orang Aceh bisa berkunjung ke Papua  dengan naik Esemka (begitu juga sebaliknya),  karena sebelum masa jabatannya berakhir dia akan merangkai pulau-pulau besar di Indonesia ini dengan jembatan, sekaligus menghidupkan kembali produksi mobil anak sekolah yang dulu ditungganginya.

Sakingkan gigihnya kedua sahabat ini bicara soal capres dukungannya masing-masing, maka berkembanglah pengikut Lung Bisar yang mendukung Jokowi dan pengikut Cu Busu yang mendukung Prabowo, dengan jumlah yang lumayan besar.

Suatu ketika Lung Bisar mampir kewarung Mak Sumiati, dan tanpa diduga ternyata Cu Busu sudah duluan duduk diwarung itu, alhasil bil husal keduanya duduk semeja sambil memesan PECAL (makanan favourite bersama), sebuah kebersamaan yang sudah lama mereka tinggalkan.

Sambil menunggu Mak Sumiati mengulek pecal, mereka berbincang hal ikhwal pemilihan presiden. Keduanya bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing, capres yang didukungnyalah yang terbaik, capres yang lain tidak.

“Usai Pemilihan Presiden ini  nantinya, kalian berdua ini dapat apa ?” Tiba-tiba terdengar suara Mak sumiati disela pembicaraan mereka. Pertanyaan itu membuat Lung Bisar dan Cu Busu terdiam bagaikan kehabisan kata, tidak mampu beragumen lagi dan tidak bisa memberikan jawaban. Mereka berdua sadar akan dirinya bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah sebuah kesia-siaan.

Sia-sia karena mereka bukanlah anggota tim sukses, bukan anggota parpol pendukung, hanya sebatas simapati saja. Hak mereka sama dengan hak orang lainnya, boleh memilih salah satu calon dan boleh tidak memilih keduanya, tidak lebih dari itu.

Kedua capres itu sama sebangun, sama-sama punya kelebihan dan kekurangan, tiap-tiap orang bebas menentukan pilihan sesuai dengan hati nuraninya masing-masing, tidak perlu dibujuk-bujuk karena pemilih bukanlah anak kecil lagi, tidak boleh diintervensi karena pemilihan ini bebas dan rahasia, kecuali.

“Kecuali  jika kita punya kepentingan,” Kata Lung Bisar,


“Betul, Politik itu memang sarat dengan kepentingan, paling tidak, kepentingan untuk meraih kedudukan,”  Kata Cu Busu sambil beranjak dari tempat duduknya.
12:24 AM | 0 comments | Read More

Pemimpin Kencing Berdiri, Rakyat Kencing Menari

Makin dekat dengan hari pemilihan presiden makin riuh pula suara para pendukung masing-masing calon, semakin sering para capres dan cawapres datang kedaerah semakin terkotak-kotak pula masyarakat ditingkat bawah.

Gaduh dan terkotak-kotak dibumbui dengan berbagai ungkapan kasar dan serang menyerang antara kelompok pendukung capres yang satu dengan yang lainnya inilah yang menjadi kecemasan kita. Pilpres ini seakan sudah bergeser dari pesta demokrasi untuk melahirkan pemimpin yang mempersatukan bangsa menjadi perang yang meluluh lantakkan sendi-sendi persaudaraan

Memang hingga hari ini belum ada korban yang berjatuhan secara pisik, tetapi secara moral kita ditolak mundur kezaman purba yang prilaku manusianya tak mengenal etika, mengumbar umpatan secara berlebihan dan menganggap lawan dalam kompetisi sebagai musuh digelanggang.

Mula-mula perang dengan menggunakan kata dalam bait-bait puisi, yang satu menulis puisi bernada mengejek  lalu yang satunya lagi membalasnya dengan meminjam sajak Wiji Thukul. Dilanjut dengan umpatan lewat media cetak dan televisi, lalu diramaikan oleh masing-masing pendukung dengan akun palsu dijejaring sosial. Sungguh memprihatinkan.

Persaiangan antar capres seyogyanya dilakukan secara santun dan menjunjung adat ketimuran, saling menghargai dan saling menghormati.  Pemilihan presiden ini bukanlah perang tanding antara dua pendekar dalam dunia persilatan, dimana pendekar yang menang bisa melanjutkan hidupnya dengan damai sampai ada penantang berikutnya sementara yang kalah terkapar lana bersimbah darah, mati terkubur dengan dendam kesumat.

Tanpa disadari, pemilihan presiden kali ini telah melahirkan perseteruan antar elite yang menjalar keakar rumput, perang kata-kata antar tokoh dicontoh oleh para pendukungnya ditingkat bawah. Inilah yang membuat kita menjadi khawatir.

Kekhawatiran itu dipicu oleh realita yang berkembang ditengah masyarakat saat ini yang sudah mulai terkotak-kotak, masing-masing bersitegang urat leher membela calon yang didukungnya. Perbincangan ditempat-tempat umum hingga diwarung-warung kopi saat ini penuh dengan perdebatan antar masing-masing pendukung kandidat presiden.

Debat antar mereka terkadang berisi saling hujat dan membuka aib, seperti air tumpah kelantai berserak tanpa arah, mengalir sekenanya menurut penafsiran mereka sendiri akan ucapan elite yang diekspos oeh media.

Bagi kedua kandidat (Jokowi dan Prabowo) semua persaingan itu akan berakhir seiring dengan diumumkannya hasil pilpres mendatang, kalaupun diperpanjang masalahnya, paling hanya sampai ke Mahkamah Konstitusi. Setelah itu mereka bersalaman atau duduk bersanding secara damai, tetapi ditingkat bawah urusannya bisa runyam, sikap permusuhan diantara kedua kelompok pendukung itu akan berlangsung lama. Usaia Pilpres nanti, para elite pendukung capres akan saling berangkulan sambil melirik kemungknan mendekati lawan yang menang, tetapi diakar rumput akan seperti piring retak yang sangat susah untuk merekatkannya kembali.


Pemilihan presiden ini bertujuan untuk memilih seorang pemimpin yang terbaik bagi negeri ini, bukan untuk memecah belah dan mencabik-cabik rasa persaudaraan kita sesama bangsa Indonesia. Justeru itulah para tokoh negeri ini dihimbau agar tidak mempertontonkan sikap permusuhan dihadapan publik, karena masyarakat awam memiliki kecenderung sikap meniru kelakuan para pemimpinnya. Pemimpin Kencing Berdiri, Rakyat Kencing sambil Menari
12:13 AM | 0 comments | Read More