Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya
Powered by Blogger.

Visitors

Powered By Blogger

Featured Posts

Like us

ads1

Untukmu Presiden ku

Written By lungbisar.blogspot.com on Friday, February 27, 2015 | 4:13 PM

Kisruh yang terjadi antara KPK dan Polri ini merupakan ujian buat tuan presiden. Inilah saatnya beliau membuktikan bahwa dia adalah pemimpin yang memiliki rasa keberpihakan kepada rakyat, sehingga penyelesaian kusut masai KPK – Polri ini dilakukan dengan cara yang benar-benar mengikuti kehendak rakyat.
Rakyat tau betapa presiden saat ini sedang berada diposisi yang sulit, namun sesulit apapun dia harus mengambil sikap tegas untuk menghentikan perseteruan ini. Untuk itu rakyat kini menanti presiden mengambil keputusan dengan arif dan bijak, tidak merendahkan Polri dan tidak pula membiarkan KPK diobok-obok.
Rakyat maunya negeri ini aman dan tenteram, tidak ada perseteruan antara sesama penyelenggara negara. Polri dan KPK diharapkan bisa bersinergi, bahu membahu dalam penegakan hukum sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Bukan sebaliknya malah ada gesekan yang menimbulkan percikan api.
Gesekan ini muncul akibat keputusan tuan presiden yang tergesa-gesa mengajukan BG sebagai calon tunggal Kapolri. Sementara tuan sendiri tau bahwa menurut catatan PPATK, yang bersangkutan memiliki rekening yang mencurigakan dan KPK sudah memberi tanda merah saat namanya masuk dalam daftar calon anggota kabinet.
Rakyat merasa heran melihat ketergesa-gesaan tuan itu, tidak biasanya tuan seperti itu. Rakyat jadi menduga bahwa ada tangan kuat yang mendorong tuan dari belakang sehingga dalam hitungan jam surat tuan sudah sampai ke DPR untuk meminta dilakukannya fit and proper tes terhadap BG. Sementara dalam waktu yang hampir bersamaan KPK menetapkan BG sebagai tersangka.
Pengajuan nama BG sudah terlanjur disetujui DPR, tapi karena statusya sebagai tersangka pelantikannya sebagai Kapolri tuan tangguhkan  , dan inilah pangkal bala yang menyebabkan timbulnya gesekan itu.
Percik api dari gesekan itu nampak secara kasat mata, bermula dari munculnya photo ketua KPK Abraham Samad bermesum ria dengan seorang wanita cantik, lalu dibumbui dengan cerita rumah kaca Abraham Samad di Komapsiana, dan cerita itu diamini oleh pejabat sekjen PDI-P.
Dihari berikutnya, atas laporan seorang kader PDI-P, wakil ketua KPK Bambang Widjoyanto ditangkap dan dijadikan tersangka. Polri bisa saja berdalih bahwa penangkapan Bambang tidak ada kaitannya dengan status BG, tetapi publik sudah terlanjur curiga dan tidak percaya pada penjelasan Polri.
Kecurigaan publik diperkuat lagi dengan munculnya  nama kader PDI-P dibalik kedua peristiwa itu. Sehingga tidak dapat disalahkan jika publik membuat kesimpulan sendiri bahwa ada kepentingan politik dari kelompok tertentu dalam kemelut ini.
Dan oleh karena itu Presiden ku,
Sebagai rakyat kami berharap, kembalilah kejati diri tuan sebagai seorang Jokowi yang kami kenal merakyat dan teguh pendirian. Bila mengambil keputusan tidak bisa dipengaruhi oleh siapapiun, tidak berpihak pada kepentingan apapun, kecuali untuk dan atas nama kepentingan rakyat.

Salam
4:13 PM | 0 comments | Read More

Sikap Ksatria

Awalnya saya menduga bahwa Bambang Widjayanto akan “minta” perlindungan pada presiden, agar dirinya dibebaskan atau paling tidak minta penangguhan penahanan.
Kemungkinan untuk melakukan hal itu sangat terbuka bagi Bambang karena disamping memiliki kedekatan personil dengan presiden dia juga seorang wakil ketua KPK, sebuah lembaga negara yang sampai hari ini masih dipercayai oleh rakyat.
Namun ternyata Bambang lebih memilih mundur dari jabatannya, dia tidak minta dibela apalagi memelas minta dikasihani, dia lebih memilih taat pada konstitusi yang menyebutkan bahwa seorang komisioner yang sudah ditetapkan sebagai tersangka harus mundur dari jabatannya. Disamping menunjukan dirinya sebagai orang yang taat hukum, sikap Bambang ini juga memberi pelajaran berharga bagi segenap penyelenggara negara.
Mundurnya Bambang boleh jadi akan melemahkan KPK, dan pelemahan KPK itu sudah lama terpendam dalam lubuk hati dari segenap Koruptor dan koleganya. Tapi apa nak dikata, demi tegaknya hukum, Bambang harus menentukan sikap dan rakyat harus ikhlas melepasnya.
Keikhlasan rakyat melepas Bambang mundur dari KPK jangan sampai dimanfaatkan secara salah oleh para elite dan politisi negeri ini untuk melemahkan KPK. Kecurigaan rakyat terhadap pihak-pihak yang bermain politik kotor dalam kisruh KPK dan Polisi ini sudah lama tercium oleh banyak pihak, bahkan sudah semakin kentara.
Polisi dan KPK yang hari ini berseteru hayalah korban dari sikap politisi yang memaksakan kehendaknya pada penyelenggara negara. Pemaksaan itu terdedah dengan jelas dimata publik, saat nama BG diusulkan masuk dalam jajaran kabinet, tetapi gagal karena mendapat tanda Merah dari KPK dan PPATK.
Kemudian, tanpa meminta pendapat KPK dan PPATK presiden bergegas mengirim surat ke DPR untuk melakukan uji kepatutan terhadap calon Kapolri. Padahal sebelumnya presiden pernah berjanji akan menggandeng KPK dan PPATK untuk seleksi awal terhadap calon pejabat negara. Perbedaan Sikap presiden ini membuat publik menaruh curiga, tidak mungkin presiden melanggar janji yang diucapkannya sendiri, kalau tidak ada sesuatu dibaliknya.
Situasi yang sedemikian rupa mendapat sambutan baik dari wakil rakyat di Senayan, komisi III DPR RI yang biasanya sering merecoki calon pejabat negara malah bersikap manis terhadap calon kapolri yang berstatus tersangka. BG melenggang mulus tanpa hambatan yang berarti, satu-satunya fraksi yang menolak hanyalah Partai Demokrat tapi kalah suara di sidang paripurna yang keputusan akhirnya menetapkan BG sebagai Kapolri.
Kisruhpun mulai muncul, DPR menuntut agar keputusannya dihormati, sementara rakyat menuntut aparatur negara yang bersih secara hukum. Presiden membuat penyelesaian dengan membenahi organisasi Polri, mutasi dilakukan dengan cepatnya dan Sutarman dicopot dari jabatanya, pelantikan Budi di “tunda”  dan wakapolri ditunjuk sebagai PLT, sebuah istilah yang tidak pernah ada dalam sejarah Polri.
Langkah penyelamatan yang dilakukan Presiden ternyata berbuntut dengan penangkapan wakil Ketua KPK Bambang Wijayanto, bagaimanapun kuatnya argumen Polri menjelaskan bahwa peristiwa ini tidak berkaitan dengan penetapan BG sebagai tersangka namun publik tetap tidak percaya.
Bambang ditangkap atas laporan  Sugianto Sabran, anggota DPR RI dari fraksi PDI-P, dengan tuduhan menganjurkan orang lain memberikan keterangan palsu disidang MK pada tahun 2010 yang lalu. Sidang MK itu sendiri sudah usai dan sudah mempunyai kekuatan hukum, tetapi baru sekarang muncul tuduhan Bambang memerintahkan orang lain memberikan keterangan palsu.
Pengaduan Sugianto pada waktu yang  hampir bersamaan dengan ditetapkannya BG sebagai tersangka inilah yang menguatkan dugaan bahwa politisi PDI-P ini sedang memanfaatkan situasi, atau mungkin juga Sugianto sedang dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan politik sesaat, dampaknya Polri dan KPK jadi berseteru.

Perseteruan KPK dengan Polri ini mengingatkan kita pada perstiwa terdahulu yang disebut dengan Cicak Vs Buaya, kisruh itu membuat SBY (selaku presiden pada waktu itu) turun tangan, dan masalahnya jadi selesai. Kali ini jalan ceritanya menjadi lain, Bambang tampil dengan sikap ksatrianya, tidak meminta presiden menbela tetapi mengundurkan diri dengan sukarela, sebuah sikap yang perlu diteladani tentunya.
4:13 PM | 0 comments | Read More

Peringatan Untuk Presiden

Jokowi, sejak menjadi walikota Surakarta, hingga dilantik sebagai presiden dikenal sebagai pejabat yang bersih, justeru itulah barangkali dia mau para pembantunya juga bersih dari masalah hukum. Diawal masa pemerintahannya dia terkesan sangat hati-hati dalam menentukan anggota kabinetnya, dengan melibatkan  KPK dan PPATK sebagai filter penyaring agar nama yang tercela tidak terlanjur dilantik menjadi menteri.
Sikap Presiden yang sedemikian rupa mengundang decak kagum dari publik, dan mendapat acungan jempol dari berbagai pihak.  Meskipun terkesan lambat dalam menyusun kabinet tetapi memuaskan hati rakyat karena isi kabinetnya terbebas dari orang-orang yang cacat hukum.
Apa yang dilakukan oleh Jokowi diawal masa pemerintahannya telah menumbuhkan harapan baru untuk negeri ini, yakni harapan akan penyelenggara negara yang bersih dari perbuatan melanggar hukum.
Namun harapan yang tumbuh dengan suburnya itu tiba-tiba menguncup ketika nama Budi Gunawan dimunculkan sebagai calon pengganti Kapolri. Publik yang awalnya berdecak kagum menjadi cemas karena calon pengganti Kapolri itu dulunya pernah dihebohkan sebagai pemilik rekening gendut. Dan konon kabarnya nama Budi Gunawan juga sudah pernah diusulkan Jokowi untuk menjadi menteri dalam kabinetnya, tetapi batal dipilih karena mendapat tanda MERAH dari KPK.
Apa gerangan yang menjadi pertimbangan presiden dalam melakukan pergantian Kapolri saat ini, masa tugas Sutarman sebagai jenderal polisi masih ada hingga Oktober mendatang. Seharusnya Sutarman diberi kesempatan untuk memasuki masa pensiunnya secara terhormat sebagai seorang Kapolri, bukan diturunkan ditengah jalan dan disuruh duduk mengantuk di Mabes menunggu masa pensiun tiba.  Kalaupun Sutarman harus dicopot saat ini, tentu penggantinya harus lebih baik dan tidak punya catatan buram dari KPK.
Pertimbangan apa pula yang membuat presiden kembali mengajukan nama Budi sebagai calon tunggal Kapolri. Faktor apa yang mendorong beliau melakukan hal ini sehingga melenceng dari komitmen awalnya, apakah sikap bersih-bersih yang ditunjukan oleh presiden hanyalah pemanis bibir penyedap bual saja, atau ada kekuatan lain yang mendorong beliau sehingga menjadi ceroboh dalam bertindak ?
Presiden dianggap ceroboh karena telah mengabaikan sanggahan dan kritikan dari berbagai pihak. Tanpa memperhatikan suara-suara yang menolak Budi sebagai Kapolri, presiden langsung mengirim surat ke Senayan, dan sebagian besar wakil rakyat mendukung kebijakan presiden tersebut, sampai akhirnya KPK menentukan sikap dengan menetapkan Budi sebagai tersangka.
Penetapan Status tersangka terhadap Budi Gunawan ini merupakan lonceng peringatan buat presiden, semoga beliau sadar bahwa dinegeri ini masih ada KPK yang siap menjadikan Hukum sebagai Panglima.

Bravo KPK, 
4:11 PM | 0 comments | Read More

Sang Demokrat

Partai Demokrat sebentar lagi akan menyelenggarakan kongres nasional,  salah satu agendanya adalah memilih ketua umum yang akan mekhodai partai tersebut untuk masa lima tahun kedepan. Partai yang pernah besar dan mengantarkan SBY kekursi presiden selama dua priode ini nampaknya tak mau kehilangan tokoh besar sekaliber SBY, justeru itulah jauh-jauh hari santer terdengar bahwa dalam kongres nantinya SBY kembali akan didaulat secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai.
Ditengah riuhnya suara yang ingin mempertahankan SBY ini, terdengar pula kabarnya dari beberapa kader yang ingin bersaing dengan SBY dalam memperebutkan jabatan Ketua Umm tersebut. Diantaranya Max Sopacua, seniman Sys NS, dan I Gde Pasek Suardika. Nama yang terakhir ini adalah Kader Demokrat pentolan Perhimpunan Indonesia yang dikenal sebagai orang dekat Anas Urbaningrum.
Sys NS, seniman yang juga politisi ini adalah salah satu dari deklator PD, mengaku dirinya merasa terpanggil untuk maju sebagai kandidat dengan tujuan untuk membesarkan partai, barangkali dia ingin mengembalikan kejayaan PD seperti awal berdirinya dulu. Demikian jga halnya dengan Max Sopacua dan Pasek, kedua kader ini adalah politisi Senayan yang militansinya tak diragukan lagi.
Adanya nama kader lain selain dari SBY yang mencuat sebelum kongres PD itu membuktikan bahwa PD tidak kekurangan kader pemimpin. Meskipun para kader tersebut terkesan menantang ketuanya dalam pertarungan memperebutkan kursi nomor satu dalam partai, namun untuk sebuah partai yang menjunjung tinggi nilai Demokrasi itu merupakan hal yang syah-syah saja.
Adalah hal yang biasa, jika persaingan itu kian memuncak, dan menimbulkan gesekan, sepanjang tidak menimbulkan perpecahan maka dapat dianggap sebagai sebuah kewajaran yang pada akhirnya nanti bersatu kembali bekerja sama dan setia kepada yang terpilih, itulah dinamika Demokrasi.
Sebagai seorang incumbent, SBY layak mencalonkan diri, namun tidak ada jaminan akan  terpilih kembali, dan kemungkinan itu sudah diperhitungkan oleh SBY, karena dia  sangat memahami makna sebuah Demokrasi, sekaligus menghargai semua hasil dari sebuah proses yang berlangsung secara Demokrasi.
SBY itu seorang demokrat tulen,  dia akan merasa bangga karena ada kader yang mampu mengambil alih beban tugas partai yang sedemikian beratnya itu. Dia akan hidup tenang sebagai bapak bangsa, menikmati masa-masa pensiunnya dengan bercengkerama dengan cucu-cucunya. Tidak perlu memeras otak guna memikirkan nasib Partai lagi, dan satu hal yang lebih penting adalah bahwa terpilih atau tidak, SBY tetap merupakan faktor penentu ditubuh Demokrat.
Jika kondisi ini dipahami oleh semua kadernya, maka Kongres Partai Demokrat yang mendatang akan berlangsung dengan meriah serta memberikan pembelajaran tentang makna sebuah Demokrasi yang sesungguhnya. Namun, jika jauh-jauh hari sudah terdengar ada wacana untuk mempertahankan SBY dengan cara-cara yang tidak Demokrasi, merancang pemilihan secara aklamasi yang hanya ditujukan untuk memberi kesempatan pada SBY seorang, maka sepatutnyalah kita merasa bersedih.

Sedih karena Demokrasi mati dikandangnya sendiri, sedih melihat nasib Sys NS dan kawan-kawan yang sudah mempersiapkan diri untuk mengemban tugas partai namun diabaikan oleh orang-orang yang mempertahankan status quo, bila sudah begini jadinya maka pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah kita masih layak menyebutnya sebagai seorang Demokrat.
4:10 PM | 0 comments | Read More

Ketinggalan Kereta

Semoga terbaca oleh yang amat berhormat Tuan Anis Baswedan.
Nuh membelikan sepatu baru untuk Anis yang akan melanjutkan perjalanan dengan kereta senja menuju medan pengabdian. Awalnya sepatu baru itu untuk dipakainya sendiri agar bisa lebih sukses dalam menjalankan tugas pengabdian, namun nasib berkata lain, dia harus berhenti distasiun itu dan perjalanan dilanjutkan oleh Anis.
Sepatu baru dengan trade mark K 13 itu sudah lama menjadi bahan perbincangan dikalangan sesama abdi, banyak yang menolak dengan alasan sepatu itu belum siap untuk dipakai, kelengkapannya tidak jelas, talinya belum ada dan tapaknya terasa licin, hanya cocok dipakai untuk medan perkotaan, sementara didusun-dusun dan daerah terpencil  membutuhkan tapak sepatu yang pakai ladam.
Karena desakan berbagai pihak, Anis memutuskan untuk menolak pemberian sepatu itu, tetapi Nuh tetap saja ngotot meminta Anis menerimanya, akhirnya Nuh dan Anis berdebat panjang soal sepatu merek K 13 tersebut.
Waktu terus berjalan, perdebatan Nuh dan Anis masih terus berlanjut, bahkan makin melebar ke hal-hal yang lain. Nuh tidak mau hasil kerja kerasnya selama ini ditinggalkan begitu saja, sementara Anis keberatan membawa sepatu itu karena dinilai hanya menambah beban saja.
Makin condong Matahari ke Barat, semakin seru pula debat Nuh dan Anis, hingga akhirnya kereta senjapun tiba distasiun, berhenti sejenak menunggu penumpang yang akan melanjutkan perjalanan masuk kedalam kereta.
Setelah semua penumpang masuk, kereta senjapun berangkat menuju stasiun berikutnya, sementara perdebatan Anis dan Nuh belum jua berkesudahan. Mataharipun sudah benar-benar tenggelam diufuk Barat dan malampun mulai merangkak.

Pedagang yang biasa mangkal distasiun mulai berkemas untuk pulang kerumah, dan para pengemudi beca satu persatu beranjak dari situ, stasiun mulai terasa sepi dan lengang hingga akhirnya petugas jaga malam datang unuk mengunci pintu. Disaat itu pulalah Anis tersentak, sadar bahwa dia sudah ketinggalan kereta. Penumpang lain sudah sampai kemedan pengabdian, sementara dia masih saja melayani Nuh untuk berdebat soal K 13.
4:08 PM | 0 comments | Read More

Menyimpan Sampah

Dulu, (dulu sekali) dizaman  jayanya smokil*),  isi kantung Lung Bisar dipenuhi dengan Ringit. Bukan karena dia tak cinta rupiah, tetapi karena  ringgit sangat mudah didapat dan nilainya tak jauh beda dengan rupiah.
Dulu (masih pada zaman dahulu) dia diajarkan oleh Ustadz Karim agar hidup hemat dan tidak berfoya-foya, menyisihkan sebagian rezekinya untuk disimpan dibawah katil sebagai persiapan dihari tua kelak.
Dulu, orang belum terbiasa menabung di Bank, bahkan didusun tempat tinggal Lung Bisar belum ada Bank yang buka kantor, maka kasur dan katil menjadi salah satu tempat yang dianggap aman untuk menyimpan uang.
Kebiasaan mengantungi ringgit itu kemudian berubah ketika perniagaan antar negara terganggu oleh pergolakan yang dikenal dengan istilah konfrontasi. Sejak itu kejayaan Smokil tinggal menjadi kenangan, dan tabungan ringgit Lung Bisar mulai berkurang.
Sepuluh tahun kemudian, anaknya ingin melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, maka Lung Bisar menguras sisa ringgit yang disimpannya itu, hasilnya lumayan memuaskan, karena nilai tukar ringgit melonjak jauh diatas rupiah. Lung Bisar merasa lega karena upayanya berhemat berbuah manis dan menyenangkan.
Seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan Lung Bisar menyimpan uang dibawah bantal berubah pula dengan menabung ke Bank, yang dengan sendirinya pula uang yang ditabung itu bukan dalam bentuk ringgit tetapi rupiah.
Masa berganti, waktupun berlalu dengan cepatnya, Lung Bisar yang dulunya muda kini sudah menjadi renta, tubuhnya yang dulu kekar dan bugar kini sudah mulai dimakan usia dan digerogoti bergai macam penyakit.
Saat usia tua dengan segenap penyakit yang mendera itu pulalah ia kembali merasakan nikmatnya hidup berhemat dengan cara menabung, kebutuhan hidup dan biaya berobat bisa ditanggulangi dengan tabungan yang tersimpan di Bank.

Tapi alangkah kecewanya Lung Bisar, ketika dia sadar bahwa uang yang disimpannya dengan bersusah payah itu nilainya terpuruk jauh kedasar. Nilainya jatuh sekali, bahkan menurut berita berbagai media, rupiah termasuk salah satu dari uang yang tidak berharga, artinya menyimpan rupiah tak ubahnya seperti menyimpan sampah.
4:07 PM | 0 comments | Read More

SBY dan Jokowi Berbalas Pantun

“ Dalam berbalas pantun itu kedua tokoh ini boleh menyampaikan saran dan kritik secara bebas tanpa harus didengar oleh pihak asing. Adegan itu tentu akan menarik, karena ungkapan yang terucap dari mulut mereka akan terasa segar ditelinga, beretika dan mengandung nilai estetika meskipun sungguhnya yang terjadi adalah perang urat syaraf, saling kritik dan sindir menyindir.”
SBY  menulis dalam akun twiternya  “Petik pelajaran di dunia, pemimpin yang selalu dibenarkan perkataan & tindakannya, tak disadari akan bisa menjadi diktator  atau tiran. *SBY*”
“Setiap pemimpin pastilah ingin berbuat yang terbaik. Tidak ingin jadi diktator atau tiran & kemudian harus jatuh, spt yang kerap terjadi. *SBY*  sambung SBY lagi.
Beberapa jam kemudian terlihat pula Jokowi menulis stat di akun FB nya “ Kepemimpin yang dipercaya diperoleh melalui kesadaran rakyat atas tujuan negara, sementara kepemimpinan tirani adalah membungkam kesadaran rakyat  bisa itu dengan bayonet atau pencitraan tanpa kerja.”
Dibagian lain, Jokowi kembali menjelaskan soal kepemimpinanna, “Dalam hal kepemimpinan saya yang paling penting adalah membangun kepercayaan rakyat dengan kesadaran penuh bahwa ada tujuan-tujuan besar negara ini menuju kemakmuran Indonesia Raya.”
Tidak ada penjelasan bahwa kicauan SBY itu ditujukan secara khusus kepada orang tertentu, sebaliknya status FB Jokowi itu belum pasti pula merupakan jawaban terhadap kicauan SBY itu. Namun publik sudah terlanjur meyakini bahwa SBY sedang menyindir Jokowi lewat cuitannya dan Jokowi membalas sindiran itu lewat status FB. Jadilah SBY dan Jokowi berhadap-hadapan didunia maya, berbalut dengan jubah akun masing-masing dalam media sosial.
Jika kesimpulan publik ini benar, maka “cuitan” SBY itu bisa diartikan bahwa dia menghawatirkan pemujaan terhadap penggantinya melewati batas kewajaran, memberi peringatan agar pemimpin tidak terbuai oleh pemujaan dan pembeoan yang bisa menyebabkan sikap lupa diri dan merasa paling benar, ujung-ujungnya menjadi diktator.
Gayungpun bersambut, Jokowi menjawabnya dengan sebuah keyakinan bahwa dia menjadi seorang pemimpin atas kepercayaan yang diberikan oleh rakyat dengan penuh kesadaran akan tujuan bernegara, justeru itulah dia tidak ingin membungkam rakyat baik dengan bayonet maupun pencitraan, tetapi menunjukan bukti dengan blusukan untuk mencapai kemakmran Indonesia Raya.
Kejadian ini memunculkan banyak komentar, sebagian menilai positif dan banyak pula yang memandangnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Namun, yang pasti adalah bahwa telah terjadi pergeseran sikap diantara tokoh negeri ini yang biasanya lebih sikap bermuka manis didepan publik.
Kritik SBY yang ditanggapi dengan baik oleh Jokowi ini menjadi angin segar untuk alam demokrasi kita, kritik bukanlah hal yang tabu lagi, bisa disampaikan secara terbuka melalui sosial media dan tidak dianggap sebagai pelanggaran hukum, sepanjang penyampaiannya dilakukan dengan cara yang santun dan beretika.
Tetapi, satu hal yang terlupakan adalah bahwa media sosial yang mereka gunakan itu berada di dunia maya.  Penyebarannya melintas tanpa mengenal batas wilayah negara. Sindiran SBY dan jawaban Jokowi itu  tidak hanya dibaca oleh rakyat Indonesia, tetapi juga diketahui oleh pemilik akun sosmed dari negara lain. Artinya, perseteruan kedua tokoh penting negeri ini disaksikan oleh penduduk dunia.
Justeru karena itu pula muncul ide dibenak saya untuk mengundang SBY dan Jokowi berada dalam satu panggung, mengisi ruang dan waktu kita dengan berbalas pantun. SBY menguraikan kisah dan pengalamannya selama sepuluh tahun memimpin negeri ini dan Jokowi menyambutnya sambil bergegas melanjutkan tugas SBY sebagai presiden.
Dalam berbalas pantun itu kedua tokoh ini boleh menyampaikan saran dan kritik secara bebas tanpa harus didengar oleh pihak asing. Adegan itu tentu akan menarik, karena ungkapan yang terucap dari mulut mereka akan terasa segar ditelinga, beretika dan mengandung nilai estetika meskipun sungguhnya yang terjadi adalah perang urat syaraf, saling kritik dan sindir menyindir.

Tapi sayangnya ide membeku, manakala keduanya terlanjur lebih memilih media sosial di dunia maya, maka sindir menyindir antar tokoh ini menyebar dengan cepatnya keseluruh penjuru dunia, bahkan mungkin sambil makan Kwaci, Barack Obama terpingkal-pingkal membacanya.
4:04 PM | 0 comments | Read More

BBM Jadi lambang Kesombongan

Menteri keuangan menjelaskan bahwa  untuk menaikan harga BBM, pemerintah tidak perlu berkonsultasi dengan DPR. Dalam UU APBN  tidak ada aturan yang menyebutkan seperti itu. Dengan kata lain, menkeru ingin menegaskan, pemerintah boleh saja menetapkan harga BBM tanpa harus konsultasi dengan siapapun, termasuk dengan DPR.
Kalau pemerintahan sebelumnya untuk menaikan harga BBM melakukan konsultasi dengan DPR maka itu urusan masa lalu, pemerintah sekarang tidak perlu ikut-ikutan seperti itu, bila perlu cara-cara pemerintahan terdahulu yang sudah kuno dan tak ada dalam aturan harus ditinggalkan, ini pemerintahan Jokowi yang mendapat mandat dari rakyat untuk merubah total segala kebiasaan dimasa lalu,  meskipun hari ini Jusuf kalla yang menjadi wakil presiden itu adalah bagian dari pemerintahan masa lalu.
Zaman SBY, kewajiban konsultasi itu juga tidak ditegaskan dalam APBN, tetapi setiap ada perubahan harga BBM pemerintah tetap berkonsultasi dengan DPR. Karena permasalahannya bukanlah sekedar pada naik turunnya harga BBM, tetapi pada besar kecilnya nilai subsidi yang melekat pada setiap sen harga BBM itu.
Tinggi rendahnya harga BBM menentukan besar kecilnya nilai subsidi yang diperoleh rakyat, jika pemerintah memutuskan harga BBM naik, maka itu berarti terjadi pengurangan nilai subsidi untuk rakyat, dan pengurangan subsidi ini perlu dijelaskan oleh pemerintah, mau dipergunakan untuk keperluan apa, dialihkan kemana dan lain sebagainya.
Pengalihan subsidi inilah yang harus dikonsultasikan dengan wakil rakyat, disitu menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Subsidi itu hak rakyat, hak yang wajib diberikan negara,  jika sebagian dari jumlahnya  dialihkan, maka selayaknya dibicarakan dulu dengan wakil rakyat agar tidak menimbulkan permasalahan baru sebagai dampak dari naiknya harga BBM

Barangkali itulah pertimbangannya, sebelum memutuskan naiknya harga BBM pemerintahan terdahulu selalu melakukan konsultasi dengan DPR. Meskipun tidak ada UU yang mengatur, namun perlu dilakukan agar kenaikan harga BBM  tidak menjadi isu poitik yang bergerak liar kian kemari. Tanpa berkonsultasipun pemerintah bisa saja menetapkan naiknya harga BBM, tetapi sikap itu tidak santun bahkan terkesan mencerminkan kesombongan
3:59 PM | 0 comments | Read More

Tuk Guru Nik Aziz Nik Mat, Telah Pergi Untuk Selamanya

Written By lungbisar.blogspot.com on Friday, February 13, 2015 | 2:27 PM

Mursyidul Am PAS, Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat meninggal dunia pada Kamis Malam jam 9.40 waktu setempat  di kediamannya, Kampung Pulau Melaka, Kota Baharu, Kelantan.
2:27 PM | 0 comments | Read More

Misteri Dibalik Pembangunan Jembatan Pedamaran

Written By lungbisar.blogspot.com on Wednesday, December 10, 2014 | 7:00 PM

Setelah pembangunan Jembatan Siak III menuai masalah, kini muncul pula kasus korupsi Jembatan Pedamaran. Jembatan yang merentang di Muara Sei. Rokan, menghubungkan tanah Pekaitan dengan Bagansiapi-api Rokan Hilir itu dibangun dengan anggaran tahun jamak 2008/2009 dan 2009/2010, dengan nilai anggaran Rp. 529 Milyar.

Jembatan Pedamaran ini merupakan kebanggaan warga Rokan Hilir, menjadi pembuka isolasi desa Pedamaran yang tertinggal sejak Indonesia merdeka. Padahal negeri Pedamaran itu memiliki potensi wisata alam dan budaya serta menyimpan berbagai cerita legenda, seperti  yang sering disebut-sebut dalam hikayat Tanah Pekaitan.

Salah satu cerita yang melegenda adalah Kisah “Alang Anak Durhaka”,  dari sinilah konon seorang lelaki yang bernama “Alang”  bertolak pergi merantau mengadu nasib ketanah seberang yang kemudian pulang dengan isteri  molek dan menjadi orang kaya. Setelah kaya si Alang lupakan diri berlaku durhaka kepada orang tuanya. Atas takdir yang maha kuasa kapal si Alang menjadi pulau, yang kemudian pulau tersebut diberi nama “Pulau Halang” terletak disebelah Barat daya Pedamaran.

Dalam cerita yang lain juga disebut bahwa desa Pedamaran ini pernah memiliki seorang ulama besar yang bergelar Tuan Syeh, sehingga Pulau Padamaran ini juga disebut sebagai Pulau Tuan Syeh yang konon kabanya memiliki banyak Buaya.  Disamping itu disekitar Pulau Pedamaran ini juga terdapat peristiwa alam yang tak dijumpai didaerah lain, yakni BONO yang datang bersamaan dengan waktu pasang air laut.

Jembatan Pedamaran ini dibangun dengan niat yang mulia, disamping untuk membuka isolasi daerah pesisir yang terdapat di Rokan Hilir, pemerintah dan masyarakat Kabupaten bersepakat untuk menjadikan Pulau Pedamaran sebagai objek wisata, yakni wisata Buaya dan Wisata Bono. Menurut  Anas Maamun (Bupati Rohil waktu itu)  sudah banyak investor  asing yang berminat menanamkan modalnya, seperti investor dari  Taiwan, Thailan, China, Korea dan malaysia.

Untuk kepentingan itu semua digesalah pembangunan Jembatan dimaksud dengan anggaran tahun jamak, dimulai dari tahun anggaran 2008 hingga 2010dan direncanakan siap digunakan paling lambat pada Maret 2011 dengan total angaran senilai Rp. 529 Milyar.

Setelah tenggat waktu Maret 2011 terlampaui jembatan belum juga selesai dibangun, jangankan untuk mengundang investor dan menjadikan Pedamaran sebagai objek wisata, mendengar nama Pedamaran saja orang sudah membayangkan sulitnya melintasi daerah itu, bak kata pribahasa jauh panggang dari api.

Untuk melanjutkan pembangunan jembatan yang terbengkalai itu Pemkab Rohil kembali mengucurkan dana dari anggaran tahun 2012/2013. Penambahan anggaran inilah yang menimbulkan pertanyaan, karena sebelumnya dalam APBD tahun jamak 2008 sampai 2010 sudah ditetapkan anggaran pembangunan jembatan Pedamaran I dan pedamaran II senilai Rp. 529 M. Semestinya, pada pertengahan tahun 2011,  jembatan itu sudah selesai dibangun dan bisa dimanfaatkan karena seluruh dana yang dianggarkan sudah dikucurkan oleh pemkab Rohil.

Semasa Anas maamun menjabat Bupati Rohil, anggaran pembangunan Jembatan itu menjadi sebuah misteri yang tidak bisa dijelaskan,  sampai akhirnya Anas terpilih menjadi Gubernur Riau dan akhirnya hijrah ke Jakarta untuk tugas lain yang ditetapkan oleh KPK. Kemudian terdengar kabar penegak hukum mulai mengendus adanya penyelewengan diseputar pembangunan jembatan tersebut, dan menetapkan seseorang berinisial IK, mantan kepala Dinas PU sebagai tersangka.

Semoga saja penetapan IK sebagai tersangka ini merupakan pintu masuk bagi penegak hukum untuk menguak misteri dalam pembangunan jembatan tersebut. Sebagai kepala dinas, dipastikan IK tidak bekerja sendiri, ada Bupai sebagai atasannya dan ada DPRD (priode 2009 – 2014) sebagai mitra kerjanya, selain itu ada pula Kontraktor yang melaksanakan proyek tersebut.

Kerja keras penegak hukum untuk mengungkap kasus ini secara tuntas sangatlah diharapkan, karena menurut  masyarakat  Rohil bahwa selama ini ada tangan penguasa yang lebih kuat dari penegak hukum, dan sipemilik tangan itu akan terungkap dengan jelas jika kasus ini dapat diusut secara tuntas.


7:00 PM | 0 comments | Read More