Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya
Powered by Blogger.

Visitors

Powered By Blogger

Featured Posts

Like us

ads1

Ibas Harus Segera Diperiksa

Written By lungbisar.blogspot.com on Sunday, March 17, 2013 | 11:03 PM


“dikhawatirkan publik akan mengambil  kesimpulan sendiri bahwa apa yang diungkapkan oleh Yulianis itu benar adanya.”

SAAT diperiksa sebagai saksi kasus Hambalang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kamis (14/3) lalu. Yulianis mengatakan bahwa ada dana US$200 ribu (Rp1,94 miliar) yang dialirkannya ke Ibas.
Kesaksia Yulianis itu belum tentu salah atau benarnya, itu baru sebatas tuduhan dan masih harus diuji kebenaranya.  Bisa saja kesaksiannya itu bermuatan lain dari fakta hukum, disusupi oleh kepentingan politik atau ada penumpang gelap yang dengan sengaja ingin merusak nama baik sekjen PD yang juga putera presiden itu.
Tetapi, tidak tertutup pula kemungknan bahwa Yulianis memang sedang mengungkapkan fakta hukum yang sebenarnya, tidak main tuduh dan tidak asal ucap, tetapi benar-benar mengungkapkan fakta secara apa adanya, tanpa memandang apakah yang diungkapkannya itu menyangkut orang penting dinegeri ini.
Ibas sendiri dalam suatu kesempatan  telah menyampaikan bantahan terhadap kesaksian Yulianis itu.  Diluar persidangan terjadi silang pendapat, ada yang beranggapan Yulianis berdusta dan ada pula yang menilai Ibsa berbohong. Tudingan Yulianis dan bantahan Ibas merupakan dua hal yang diperdebatkan banyak orang diluar persidangan sehingga  membuat rakyat menjadi bingung sambil bertanya, siapakah  diantara mereka yang berdusta.
Justeru itulah, agar tidak terdapat Silang sengkarut dalam kasus yang amat menyita perhatian ini,   kita berharap KPK  segera mengambil sikap.  Memanggil Ibas untuk diminta keterangannya dan hasilnya diumumkan kekhalayak ramai.
Kita percaya bahwa KPK adalah sebuah lembaga indpenden yang tidak pernah merasa takut dan sungkan terhadap siapapun meskipun dia seorang anak presiden, tidak bisa diintervensi oleh lembaga apapun termasuk oleh sekjen partai berkuasa.  Kita masih menaruh kepercayaan terhadap  KPK  akan mampu bersikap tegas dan adil.  Atas kepercayaan yang sedemikian besar  itulah kita menunggu langkah KPK memanggil Ibas untuk diperiksa.
Pemeriksaan terhadap Ibas perlu dilakukan agar publik tau apakah dia benar-benar terlibat atau bersih dalam kasus Hambalang. Tanpa ada kejelasan secara hukum,  dikhawatirkan publik akan mengambil kesimpulan sendiri bahwa apa yang diungkapkan oleh Yulianis itu benar adanya, jika ini yang terjadi maka yang dirugikan tentulah Ibas sendiri dan bukan tidak mungkin pula  kepercayaan rakyat terhadap KPK akan melorot karena  dinilai TAKUT memeriksa anak presiden.
11:03 PM | 0 comments | Read More

Pendekar Bawang

Written By lungbisar.blogspot.com on Friday, March 15, 2013 | 11:09 PM


Pendekar menguasai gelanggang dengan pencak silat, sementara Pendekar Bawang amat mahir bersilat lidah.
Harga bawang melonjak, rakyat  berteriak, dan presidenpun bereaksi dengan meminta para pembantunya untuk mencari solusi, membuat langkah yang lebih serius dan nyata  agar masalah BAWANG ini jangan sampai meresahkan rakyat secara terus menerus.
"Jangan bersilat lidah di depan pers. Cari solusi. Itu yang ingin saya sampaikan. Saya akan ikuti terus," kata Presiden saat membuka rapat kabinet terbatas dikantor presiden Kamis 14 Maret 2013.
Heboh soal naiknya harga Bawang dan kata “Bersilat Lidah” dalam ungkapan presiden ini mengingatkan saya pada cerita sederhana tentang dunia persilatan, dimana  sebuah gelanggang persilatan akan melahirkan ahli pencak silat, dan ahli pencak silat ini sering disebut sebagai pendekar.
Dalam dunia persilatan jumlah pendekar itu tidak terlalu banyak,  seratus murid yang belajar Silat digelanggang satu diantaranya belum tentu mampu meraih prediket pendekar. Diperlukan kesungguhan dalam berlatih, harus tekun  belajar, bersikap ksatria dan istiqomah serta memegang teguh pantang larang yang diajarkan oleh sang guru.
Lain halnya dalam dunia politik, kesungguhan barangkali bisa dinomor duakan karena yang perlu dinomor satukan itu adalah kedekatan, tidak perlu pintar yang penting pintar-pintar  menempatkan diri.  Tidak perlu Istiqomah, yang penting Isi dan Kemas, dan dalam kondisi seperti ini lahirlah pendekar bawang. Pendekar yang tidak mementingkan keahlian pencak silat tetapi mahir bersilat lidah.
Presiden memang sudah mengingatkan para pembantunya agar jangan bersilat lidah, jangan saling menyalahkan, tetapi melakukan langkah kongkret untuk menyelesaikan masalah, namun bukan berarti  reaksi keras presiden itu serta merta membuat harga Bawang menjadi turun.  Pasar tidak bisa diintervensi dengan hanya sekedar memberi peringatan, tetapi  harus dengan aksi, dengan tindakan yang mengatur keseimbangan antara Supply  dan demand.
Para Menteri terkait dengan urusan harga Bawang ini tentunya sudah mahfum bagaimana caranya menjaga  agar ketersediaan  dan permintaan terhadap Bawang dipasar tetap seimbang.  Kitapun yakin bahwa mereka ini adalah orang-orang pilihan, dan presiden tentunya tidak sembarangan mengangkat pembantunya, tetapi jika kemudian kita mendengar ada Menteri  yang  mengajak rakyat menanam Bawang dihalaman rumahnya sambil terus menghimbau agar rakyat mengurangi konsumsi Bawang, maka pantaslah para menteri ini diberi prediket sebagai pendekar bawang.
11:09 PM | 0 comments | Read More

KLB , Kata Lung Bisar

Written By lungbisar.blogspot.com on Thursday, March 14, 2013 | 9:32 PM

Ibarat seorang Sopir, Anas berhenti ditengah perjalanan, dia harus turun dari kenderaannya untuk menyelesaikan tilang, sementara itu kenderaan yang bernama Partai Demokrat itu harus melanjutkan perjalanannya menuju pemilu 2014. Maka tidak ada pilihan lain kecuali menunjuk seorang kader untuk menjadi pemimpin sementara, yang belakangan ini dikenal dengan istilah PLT.
Sayangnya istilah PLT itu tidak dikenal dalam AD/ART partai , agaknya SBY lupa bahwa partai besutannya itu tidak pernah memberi wewenang kepada siapapun ( termasuk dirina sendiri) , untuk menetapkan seseorang sebagai pelaksana tugas pengganti ketua umum yang berhenti ditengah jalan. Istilah PLT itu sendiri hanya dikenal dalam mengisi kekosongan jabatan dalam pemerintahan, yang secara tersirat mengandung makna ditunjuk dari atas. Justeru karenanya menjadi ganjil bila diterapkan pada partai politik yang pada dasarnya mensyaratkan pemilihan.
Lowongnya jabatan ketua umum Partai menyebabkan PD kesulitan mengajukan daftar calon anggota legislatif sementara atau yang biasa disebut dengan DCS. KPU seakan memberi sinyal penoakan bila usulan daftar calon sementara yang diajukan oleh PD itu ditandatangani oleh seorang PLT. Lembaga yang diberi amanah untuk menyelenggarakan Pemilu itu hanya bisa menerima usulan DCS yang ditandatangani oleh Ketua Umum partai atau sebutan lainnya.
Terkait dengan ketentuan tersebut akhirnya PD mempersiapkan diri untuk melaksanakan Kongres Luar Biasa, guna memilih kader terbaiknya menjadi ketua umum menggantikan Anas Urbaningrum. Perhelatan besar ini membuka kesempatan bagi elite partai untuk uji kemampuan, apakah mereka layak dan dipercaya untuk dipilih menjadi pemimpin partai. Beberapa nama dari kalangan internal partai santer disebut sebagai kandidat kuat, diantaranya adalah Marzuki Alie dan Saan Mustopa.
Dalam Kongres yang lalu, Marzuki Alie merupakan seorang rival Anas, sementara Saan Mustopa dikenal sebagai orang dekatnya Anas Urbaningrum. Keduanya merupakan kader militan, potensial dan memiliki peluang yang sama besarnya untuk maju sebagai calon ketua umum.
Beredar kabar bahwa majelis tinggi telah menetapkan syarat bagi yang terpilih sebagai ketua umum tidak bileh rangkap jabatan dan tidak dibenarkan maju sebagai capres dalam pemilihan presiden yang akan datang. Ketua umum terpilih harus bekerja full timer untuk menyelesaikan problem partai, utamanya dalam hal melakukan konsolidasi dan meningkatkan elektabilitas partai.
Bagi Marzuki Alie dan Saan Mustopa , kerja keras untuk kepentingan partai mungkin bisa mereka lakukan, tapi mundur dari jabatan sebagai ketua DPR dan Sekretaris Fraksi PD tentulah sesuatu yang berat, ditambah lagi sayarat berikutnya menyebutkan tidak boleh jadi Capres, seakan ketua umum partai hanya diminta untuk bekerja keras dengan keringat dan tulang bersilang, tetapi tidak diberi peluang untuk mencapai karir politiknya yang lebih baik.
Melihat kondisi yang sedemikian rupa ini, sayapun jadi teringat pada ungkapan Lung Bisar yang menyebutkan kongres luar biasa itu sudah selesai sebelum dimulai.
“KLB yang seyogyanya menjadi ajang pertarungan sehat antar kandidat itu akan berubah menjadi sesuatu yang hambar dan tak bermakna,” Kata Lung Bisar memulai percakapannya. “Tidak akan ada kader potensial yang berani maju sebagai kandidat, karena mereka enggan meninggalkan kursi jabatannya dan dilarang menjadi capres, akhirnya dari pada deadlock majelis tinggi mengajukan satu nama calon untuk dipilih secara aklamasi, itu sudah diatur sedemikian rupa jauh sebelum kongres dilaksanakan,” sambungnya lagi.
Saya biasanya tidak pernah menanggapi bualan Lung Bisar secara serius, tapi kali ini prediksi sahabat saya ini hampir mendekati kenyataan, dan jika itu benar maka KLB yang akan berlangsung itu akan berubah menjadi “Kata Lung Bisar”, disingkat menjadi “KLB.”
9:32 PM | 0 comments | Read More

Koes Plus (Bermula dari hati)

Written By lungbisar.blogspot.com on Wednesday, March 13, 2013 | 1:48 AM


“Missa Solemnis”, sebuah kata yang ditulis dan dipajang oleh seorang komikus terkenal Jan Mintaraga  disebuah pentas, tempat dimana Koesplus manggung. Saat itu barangkali tidak banyak yang tau apa makna dari tulisan tersebut. Para penggemar musik yang menyaksikan penampilan Koesplus saat itu barangkali juga tidak terlalu memperhatikannya kecuali menganggapnya sekedar belaka.

Tulisan itu dikutip dari karya komponis ternama Beethoven, dengan makna “Bermula dari hati, akan mendapat tempat dihati” ,  dan ternyata dalam perjalanan sejarah musik Indonesia Koesplus memang benar-benar mendapat tempat dihati publik, kelompok musik ini melegenda dan mendunia, dikenal dan digandrungi oleh tua dan muda, termasuk anak-anak yang belum lahir saat Koesplus masih jaya-jayanya.

Sejarah panjang Koesplus bermula dari band Teen Ager’s Voice pada tahun 1952, group musik bentukan Tony Koeswoyo (alm) ini kemudian berganti nama dengan Irama Remaja, dimana seorang aktor kawakan, Sophan Sopian tercatat sebagai salah satu anggotanya, kemudian mengalami perubahan lagi menjadi Koes & Bros, diawaki oleh Tony dan 4 saudaranya yang lain, plus Jan Mintaraga.
Tidak banyak yang dapat diungkap tentang Teen Voice , Irama Remaja sampai ke Koes & Bros, hingga akhirnya pada tahun 1960 dengan bekal peralatan Band yang dibeli oleh saudaranya Koesdjono Koeswoyo, Tony membentuk group musik yang baru dengan nama Koes Bersaudara, dengan personelnya terdiri dari Koesjono Koeswoyo (DJon), Koestono Koeswoyo (Tony), Koesnomo Koeswoyo (Nomo), Koesyono (Yon) , dan Koesroyo Koeswoyo ( Yok).
Kemudian pada tahun 1963 Karena sesuatu dan lain-lain hal Koesdjono keluar dari kelompok musik tersebut dan diteruskan oleh Tony dengan adik-adiknya, yang kemudian dikenal dengan nama Tony, Nomo, Yon dan Yok.
Beberapa tahun kemudian kelompok ini makin menampakkan dirinya, lagu-lagunya mulai mendapat tempat dihati para penikmat musik ditanah air, maka jadilah lagu-lagu Koes Bersaudara seperti Dara manisku, Telaga Sunyi, Bis Sekolah, Kuduslah cintaku, Pagi yang Indah, dan lain-lain memenuhi ruang dan waktu dinegeri ini, stasion radio baik-RRI maupun radio swasta seakan berlomba-lomba memutar lagu mereka.
Ketenaran itu kemudian berbuah pahit, oleh pemerintah yang waktu itu sangat anti Barat menuding lagu-lagu Koes Bersaudara berbau Nekolim (Neo Kolonial dan Imprealis), dianggap berbahaya karena bisa meracuni jiwa generasi muda, diejek sebagai musik Ngak Ngik Ngok dan akhirnya pada hari Kamis 1 Juli 1965, mereka ditangkap oleh Komando Operasi Tertinggi (KOTI) dan ditahan dipenjara Glodok.
Anehnya lagi ketika penangkapan itu Nomo yang disamping bermusik, juga berbisnis tidak ikut ditangkap tetapi datang menyerahkan diri, sepertinya Nomo ingin mengatakan lebih baik sengsara bersama-sama dari pada senang sendirian, mangan ora mangan ngumpul.
Tony Koeswoyo dan adik-adiknya dibebaskan pada 29 September 1965, sehari sebelum meletusnya peristiwa subuh berdarah G 30 S-PKI, mereka ditahan dan dibebaskan tanpa keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum.  Misteri penahanan mereka sedikit terkuak pada akhir 2008, saat hadir diacara talkshow KICK ANDY (Metro TV) Yok Koeswoyo mewakili saudara-saudaranya bercerita bahwa ada sesuatu yang tersembunyi  di balik penangkapan mereka, pemerintahan Soekarno menugaskan mereka untuk melakukan operasi Kontra Intelejen guna mendukung gerakan Ganyang Malaysia.
Keluar dari penjara mereka terus berkarya, lagu-lagu yang mereka ciptakan sewaktu berada dalam penjara masing dengan judul Mengapa Hari Telah Gelap, Balada Kamar 15, Didalam Bui, Jadikan aku Dombamu,  dan lainnya direkam dalam plat ebonite, dan laku keras dipasaran. Namun itu tidak bertahan lama, produktivitas Koes Bersauadara kemudian melemah kembali pada penghujung tahun 60 an atau tepatnya pada era 1968 hingga 1969.

Selentingan kabar angin bahwa menyebutkan bahwa ada perbedaan pandangan antara Nomo dengan Tony, Nomo berpandangan bahwa harus ada usaha yang jelas untuk kelangsungan hidup disamping bermain musik, sementara bagi Tony musik bukanlah ekerjaan sambilan, tetapi sesuatu yang harus ditekuni dengan serius. Tony lebih memilih Musik sebagai  tempat bergantungnya harapan dan oleh karenana dia bertekad hidup mati dengan musik, dan konon kengototan Tony inilah yang membuat Nomo hengkang dari Koes Bersaudara dan kedudukannya digantian oleh Murry. Seiring dengan itu pula nama Koes Bersaudara berubah menjadi Koesplus.

Setelah pergantian personil tersebut nama group musik pimpinan Tonny Koeswojo ini mulai melejit kembali. Lagu-lagunya merakyat, gampang dinyanyikan dan mudah diingat, dekat dengan keseharian kita membuat  Koesplus semakin digandrungi oleh para penggemarnya. Sejumlah lagu-lagunya menjadi hit, sebut saja Kolam Susu,   Nusantara I s/d VI, Layang-layang, Kapan-Kapan, Diana dan banyak lagi sederetan lagu lainnya yang sejak mereka nyanyikan hingga kini masih lengket dibenak para penggemarnya.
Tahun 1972 hingga akhir 1976 merupakan masa jayanya, barangkali tidak ada penikmat musik dinegeri ini yang tidak mengenal Koesplus. Masa-masa ini mereka dikenal sangat productive, tercatat sepanjang tahun 1974 mereka mengeluar 22 album, hampir 2 album dalam setiap bulannya, tahun 1975 sebanyak 6 album dan tahun 1976 ada 10 album.
Menurut harian Kompas, Koes Plus telah melahirkan sebanyak 750 lagu dalam 72 album (Kompas 13 Sept 2001). Dan penting dicatat bahwa lagu-lagu mereka benar-benar enak didengar dan bermutu, menjadi sesuatu yang akrab ditelinga pencinta musik tanah air, menjadi lagu yang sering diputar dalam siaran radio dan banyak dinyanyikan dalam berbagai acara pesta.
Hal ini tentunya merupakan sesuatu yang sulit dicapai oleh kelompok musik lain, baik bagi pemusik dizamannya maupun oleh pemusik zaman sekarang. Dan prestasi ini dicapai oleh Koesplus barangkali karena karya cipta mereka “Bersumber dari hati, dan hasilnya mendapat tempat dihati para penggemarnya
1:48 AM | 0 comments | Read More

Sabah, Siapa yang Punya

Written By lungbisar.blogspot.com on Wednesday, March 6, 2013 | 10:05 PM




Konflik bersenjata di Sabah, Malaysia yang saat ini sedang berlangsung merupakan api dalam sekam yang sudah lama tak terpadamkan.  Sabah yang dulunya dikenal sebagai North Borneo (Borneo Utara) merupakan wilayah kekuasaan dari Kesultanan Brunei .  Wilayah ini diserahkan kepada Sultan Sulu pada tahun 1658, sebagai balas jasa  atas bantuan Sultan Sulu dalam menghadapi pemberontak didalam negeri Brunei. Kepemilikan inilah yang dituntut oleh Jamalul Kiram III yang mengklaim dirinya sebagai pewaris Kesultanan Sulu.
Dalam sejarahnya, Sabah pernah dijadikan  Inggeris sebagai Pos perdagangan, hal ini termaktub dalam perjanjian sewa menyewa antara Bristish East India Company yang diwakili oleh Alexander  Dalrymple dengan Sultan Sulu Pada tahun 1761. Kesepakatan tersebut juga termasuk dalam hal penyediaan tentara oleh Kesultanan Sulu untuk mengusir Sepanyol.
Selanjutnya pata tahun 1878, Sabah disewa oleh perusahaan British North Borneo. Dengan nilai kontrak yang diterima oleh pewaris Kesultanan Sulu sebesar US$ 1,600 pertahun, dalam kontrak tersebut dijelaskan bahwa uang sewa akan terus dibayar selama Sabah masih dalam kekuasaan perusahaan itu.
Ketika Inggris memerdekakan Malaysia, Sabah dicantumkan sebagai bagian dari wilayah negara Malaysia, namun pemerintah Malaysia masih tetap terus membayar sewa atas Sabah dengan nilai  5.000 ringgit Malaysia per tahun kepada pewaris Kesultanan Sulu.
Disinilah mulai kaburnya kepemilikan atas wilayah Sabah ini, disatu sisi Malaysia menerima penyerahan negeri itu sebagai wilayah negaranya yang dimerdekakan Inggeris, tetapi masih tetap membayar uang sewa kepada ahli waris kesultanan Sulu.
Inggeris menyerahkan wilayah Sabah kepada Malaysia adalah atas kehendak rakyat Sabah sendiri, karena sebelum memutuskan  Inggeris terlebih dahulu melakukan pemungutan suara untuk menentukan apakah rakyat Sabah memilih bergabung dengan Malaysia atau kembali ke Kesultanan Sulu. Dan hasilnya, rakyat Sabah lebih memilih bergabung ke Malaysia daripada kembali ke Sulu. Hasil pemungutan suara inilah yang dijadikan Inggeris sebagai dasar menyerahkan wilayah tersebut kepada Malaysia.
Sebaliknya,  tuntutan ahli waris Kesultanan Sulu atas Sabah tersebut tidak hanya didasarkan pada perjanjian sewa antara Kesultanan dengan North Borneo Company yang dibentuk British. Namun, juga didasarkan pada keputusan Mahkamah Tinggi North Borneo pada 1939, yang menyebutkan wilayah Sabah merupakan milik Sultan Sulu, keputusan  ini dianggap lebih memiliki kekuatan hukum karena dikeluarkan oleh sebuah institusi hukum dan terjadi jauh sebelum Malaysia Merdeka.
Jadi siapakah sebenarnya pemilik syah dari tanah Sabah tersebut ?  Sebuah pertanyaan yang tak mudah ditemukan jawabannya, kecuali jika ada kebesaran hati antara pihak-pihak yang bertikai, duduk bersama dimeja perundingan, meletakkan senjata dan menghentikan pembunuhan antara sesama bangsa serumpun. Bak kata  Raja Ali Haji, “seribu pedang yang terhunus akan tersarung kembali oleh sepatah kata DAMAI.”  Semoga
10:05 PM | 0 comments | Read More

Kubu SBY

Written By lungbisar.blogspot.com on Tuesday, March 5, 2013 | 10:21 PM

Keputusan SBY mengambil alih kendali partai dan meminta Anas untuk fokus pada masalah hukum di KPK semakin menguatkan dugaan tentang adanya kubu dalam Partai Demokrat, sedikitnya ada kubu Anas dan kubu SBY.
Namun dugaan ini dibantah oleh Ulil Abshar Abdalla, Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat itu menegaskan, setelah seluruh pengurus menandatangani pakta integritas. tidak ada lagi kubu seperti yang dibicarakan banyak pihak, Demokrat hanya memiliki kubu Susilo Bambang Yudhoyono
“Mereka meneken pakta integritas. Artinya, menurut saya, saat ini Demokrat hanya ada satu kubu, kubu SBY,” ujarnya seusai diskusi “Pemulihan Partai Demokrat” di Jakarta, Jumat (15/2/2013).
Yang terlihat kepermukaan memang seperti itu, sebanyak 33 DPD, DPC, dan seluruh anggota fraksi sudah menandatangani pakta integritas. Namun bukan berarti mereka sehati dan sepemikiran dengan Majelis tinggi. Ikut menandatangani Pakta Integritas belum tentu menyetujui isinya, itu hal yang nampak diluar saja, didalam hatinya siapa yang tau. Ulil lupa pribaha yang menyebutkan dalamnya laut bisa diduga, dalamnya hati siapa yang tau.
PD sendiri memiliki pengalaman buruk, Ingat sebuah Iklan, Angelina Sondakh yang dikenal dengan ucapannya “Katakan tidak pada Korupsi”, kini malah tersangkut perkara korupsi, itu artinya bersikap manis dan lain dimulut lain dihati dalam tubuh Demokrat biasa dilakukan.
Baru saja Ruhut Sitompul berteriak lantang, mengingatkan orang-orang Anas agar berdo’a, entah berdo’a apa yang dimaksudkannya ? Tapi ucapannya itu menyiratkan bahwa Anas masih punya pengaruh dan pengikut yang setia.
Satu – satunya yang bisa meredam isu perkubuan dalam tubuh Partai Demokrat adalah dengan cara mendorong KPK bekerja secepatnya untuk menentukan status Anas, apakah dia terlibat dalam kasus Hambalang atau tidak.
Jika KPK sudah memutuskan bahwa Anas tidak terlibat, maka PD akan berjalan normal dibawah pimpinan seorang ketua umumnya yang tidak cacat hukum, dan jika Anas dinyatakan sebagai tersangka maka PD bisa dengan bebas melengserkan Anas tanpa ada sanggahan dari para pendukungnya.
Dengan status Anas yang masih mengambang seperti sekarang ini, maka sulit bagi PD untuk menentukan sikap. Mencopot atau membiarkan Anas tetap memimpin PD sama buruknya. Sementara itu dalam tubuh PD sendiri, kelompok yang inginan melengserkan dan mempertahankan Anas sama-sama terdengar suaranya. Perseteruan dua kelompok inilah yang dinilai oleh publik sebagai dua kubu yang berbeda.
10:21 PM | 0 comments | Read More

Mencari Hang Jebat

Written By lungbisar.blogspot.com on Monday, March 4, 2013 | 11:05 PM

Dalam perbincangan kami di Bandara Sultan Syarif Kasim II terungkap bahwa keberangkatan Lung Bisar kali ini bertujuan untuk mencari Hang Jebat. Saya tertegun mendengarnya, tokoh legenda itu sudah lama mangkat. Dia mati sebagai seorang pendurhaka, melakukan amuk besar melawan penguasa, menuntut bela atas kematian sahabatnya Hang Tuah yang dihukum mati oleh raja.
Hang Jebat tak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu, Tuah dihukum karena fitnah dari Patih Kermawijaya, bukan atas kesalahan yang dilakukannya. Oleh karena itulah Jebat bereaksi keras, menghunus keris menuntut bela.

Ternyata hukuman mati yang dijatuhkan kepada Hang Tuah tidak dijalankan sebagaimana mestinya, Datuk Bendahara sang eksekutor hanya menyembunyikan Tuah didalam hutan, dan dipanggil kembali mengabdi ketika Amuk Jebat sudah sampai pada tingkat mengancam keselamatan Sultan.

“Tokoh sekaliber Hang Jebat itu perlu dihadirkan di Riau ini,” katanya lagi, seakan dia ingin menegaskan bahwa kepergiannya itu memang serius untuk mencari Hang Jebat.

Karena terbatasnya waktu dan Lung Bisar buru-buru harus menuju keruang tunggu, maka tinggallah saya tertegun menebak-nebak maksud ucapan Lung Bisar itu tadi.

Mungkin dia sudah jenuh melihat sikap para pemimpin dan elite politik yang ada di Riau ini, sehingga diperlukan tokoh yang berani berkata tidak pada penguasa, berani menegur dan mengoreksi kebijakan pemimpin yang merugikan rakyat, bersikap tegas atas ketidak adilan.

Dua mantan gubernur di Riau ini secara berturut-turut tersangkut perkara korupsi. Dimulai dari Soeripto yang tersangkut kasus reklamasi pantai. Penggantinya Saleh Djasit tersangkut perkara Korupsi Alat Pemadam Kebakaran dan dilanjutkan oleh Rusli Zainal yang tersangka kasus PON.

Selain ketiga pemimpin itu ada pula sederet nama wakil rakyat yang digaruk oleh KPK, dan tidak tertutup kemungkinan jumlahnya bakal bertambah lagi, mengingat kesaksian dari tersangka sebelumnya menyebut beberapa nama yang kini masih bebas melenggang dan duduk dikursi Dewan.
Selain Gubernur dan anggota DPRD Provinsi, sejumlah Bupati di Riau ini juga meringkuk dibalik terali besi, mereka itu diantaranya mantan Bupati Pelalawan, mantan Bupati Siak dan mantan Bupati Kampar, kesemuanya didakwa melakukan kesalahan yang sama yakni tindak pidana korupsi.

Tapi mengapa bukan Hang Tuah yang dipilih oleh Lung Bisar ?

Tuah memang lebih perkasa, tapi dia lebih setia kepada penguasa dibanding kepada sahabat karibnya sendiri. Hang Tuah itu hanya berani terhadap rakyat, tapi tunduk pada penguasa, dia lebih setia pada Sultan meskipun dia tau Raja Alim Raja disembah, Raja Zalim Raja disanggah. Sebalikna Jebat orang tegas, berani menegur penguasa, menentang keputusan Sultan yang keliru. Kesetiaannya terhadap kawan senasib (rakyat) tidak berbelah bagi dan keputusannya mendurhaka pada sultan karena ingin membela Hang Tuah yang diperlakukan dengan semena-mena.

Jadi, melihat kondisi Riau saat ini, dimana para elite dan pemimpinnya banyak tersandung masalah hukum maka diperlukan orang yang berani bicara lantang seperti Hang Jebat, untuk mengoreksi keputusan penguasa yang keliru dan merugikan rakyat, itu lebih baik dari pada para pemimpin dan penguasa di Riau ini terlanjur melakukan tindak pidana korupsi dan akhirnya digaruk oleh KPK.
Untuk itulah barangkali Lung Bisar mencari Hang Jebat, meskipun dia sendiri tau bahwa pencariannya itu ibarat melangkah diawang-awang.
11:05 PM | 0 comments | Read More

Lung Bisar dan Gubernur Riau

Written By lungbisar.blogspot.com on Sunday, March 3, 2013 | 9:09 PM

“Menetes air mata saya,” kata Lung Bisar memulai percakapannya. Raut wajahnya mencerminkan kelelahan yang teramat sangat, lalu menyeruput seteguk kopi yang sudah disiapkan oleh Pak Bual.
“Dari mana tadi Lung ?” Tanya ku.
“Dari kantor Gubernur,” jawabnya singkat. Kemudian sambil menghela nafas ia membetulkan letak peci dikepalanya iapun mulai bercerita panjang lebar tentang apa saja yang baru dialaminya dikantor Gubernur.
“Bermula dari undangan lisan Gubernur Riau lewat berbagai media agar rakyat datang kekantornya pada hari Senin guna mendengarkan pidatonya, maka setelah sholat subuh tadi saya tidak tidur lagi, bersiap-siap untuk memenuhi undangan sang Gubernur. Saya merasa tersanjung, karena seumur-umur saya baru kali inilah saya diundang oleh seorang gubernur untuk datang kekantormya.”
“Oooooo ………, jadi ceritanya tadi ikut upacara dikantor Gubernur ?” Tanya ku lagi dan dia menjawab dengan singkat “Ya, katanya sambil menyeringai.
“Apa isi pidato Gubenur itu tadi Lung ?”
“Entahlah, kurang begitu jelas bagi saya, banyak hal yang dia sampaikan cuman satu kata yang melekat diotak saya.”
“Apa itu Lung ?”
“Musibah,” jawabnya singkat.
“Oooooo ………………. , jadi karena cerita musibah itu anda menangis ?”
“Tidak juga.”
“Lalu kenapa ?”
“Karena saat pak Gubernur pidato, sepeda ontel saya dicuri orang, saya mau teriak tak bisa, takut dianggap mengganggu gubernur yang sedang menyampaikan pesan pentingnya, saya terpaksa berdiam diri sambil meneteskan air mata menyaksikan sepeda saya dilarikan orang, jadi isi pidato Gubernur itu setali tiga uang dengan nasib saya, sama-sama mendapat musibah.” Jawab Lung Bisar menutup ceritanya, saya merasa terenuh mendengarnya dan tak sanggup lagi meneruskan perbincangan.
9:09 PM | 0 comments | Read More