Motto :

Membaca sebanyak mungkin, Menulis seperlunya
Powered by Blogger.

Visitors

Powered By Blogger

Featured Posts

Like us

ads1

Misteri Dibalik Pembangunan Jembatan Pedamaran

Written By lungbisar.blogspot.com on Wednesday, December 10, 2014 | 7:00 PM

Setelah pembangunan Jembatan Siak III menuai masalah, kini muncul pula kasus korupsi Jembatan Pedamaran. Jembatan yang merentang di Muara Sei. Rokan, menghubungkan tanah Pekaitan dengan Bagansiapi-api Rokan Hilir itu dibangun dengan anggaran tahun jamak 2008/2009 dan 2009/2010, dengan nilai anggaran Rp. 529 Milyar.

Jembatan Pedamaran ini merupakan kebanggaan warga Rokan Hilir, menjadi pembuka isolasi desa Pedamaran yang tertinggal sejak Indonesia merdeka. Padahal negeri Pedamaran itu memiliki potensi wisata alam dan budaya serta menyimpan berbagai cerita legenda, seperti  yang sering disebut-sebut dalam hikayat Tanah Pekaitan.

Salah satu cerita yang melegenda adalah Kisah “Alang Anak Durhaka”,  dari sinilah konon seorang lelaki yang bernama “Alang”  bertolak pergi merantau mengadu nasib ketanah seberang yang kemudian pulang dengan isteri  molek dan menjadi orang kaya. Setelah kaya si Alang lupakan diri berlaku durhaka kepada orang tuanya. Atas takdir yang maha kuasa kapal si Alang menjadi pulau, yang kemudian pulau tersebut diberi nama “Pulau Halang” terletak disebelah Barat daya Pedamaran.

Dalam cerita yang lain juga disebut bahwa desa Pedamaran ini pernah memiliki seorang ulama besar yang bergelar Tuan Syeh, sehingga Pulau Padamaran ini juga disebut sebagai Pulau Tuan Syeh yang konon kabanya memiliki banyak Buaya.  Disamping itu disekitar Pulau Pedamaran ini juga terdapat peristiwa alam yang tak dijumpai didaerah lain, yakni BONO yang datang bersamaan dengan waktu pasang air laut.

Jembatan Pedamaran ini dibangun dengan niat yang mulia, disamping untuk membuka isolasi daerah pesisir yang terdapat di Rokan Hilir, pemerintah dan masyarakat Kabupaten bersepakat untuk menjadikan Pulau Pedamaran sebagai objek wisata, yakni wisata Buaya dan Wisata Bono. Menurut  Anas Maamun (Bupati Rohil waktu itu)  sudah banyak investor  asing yang berminat menanamkan modalnya, seperti investor dari  Taiwan, Thailan, China, Korea dan malaysia.

Untuk kepentingan itu semua digesalah pembangunan Jembatan dimaksud dengan anggaran tahun jamak, dimulai dari tahun anggaran 2008 hingga 2010dan direncanakan siap digunakan paling lambat pada Maret 2011 dengan total angaran senilai Rp. 529 Milyar.

Setelah tenggat waktu Maret 2011 terlampaui jembatan belum juga selesai dibangun, jangankan untuk mengundang investor dan menjadikan Pedamaran sebagai objek wisata, mendengar nama Pedamaran saja orang sudah membayangkan sulitnya melintasi daerah itu, bak kata pribahasa jauh panggang dari api.

Untuk melanjutkan pembangunan jembatan yang terbengkalai itu Pemkab Rohil kembali mengucurkan dana dari anggaran tahun 2012/2013. Penambahan anggaran inilah yang menimbulkan pertanyaan, karena sebelumnya dalam APBD tahun jamak 2008 sampai 2010 sudah ditetapkan anggaran pembangunan jembatan Pedamaran I dan pedamaran II senilai Rp. 529 M. Semestinya, pada pertengahan tahun 2011,  jembatan itu sudah selesai dibangun dan bisa dimanfaatkan karena seluruh dana yang dianggarkan sudah dikucurkan oleh pemkab Rohil.

Semasa Anas maamun menjabat Bupati Rohil, anggaran pembangunan Jembatan itu menjadi sebuah misteri yang tidak bisa dijelaskan,  sampai akhirnya Anas terpilih menjadi Gubernur Riau dan akhirnya hijrah ke Jakarta untuk tugas lain yang ditetapkan oleh KPK. Kemudian terdengar kabar penegak hukum mulai mengendus adanya penyelewengan diseputar pembangunan jembatan tersebut, dan menetapkan seseorang berinisial IK, mantan kepala Dinas PU sebagai tersangka.

Semoga saja penetapan IK sebagai tersangka ini merupakan pintu masuk bagi penegak hukum untuk menguak misteri dalam pembangunan jembatan tersebut. Sebagai kepala dinas, dipastikan IK tidak bekerja sendiri, ada Bupai sebagai atasannya dan ada DPRD (priode 2009 – 2014) sebagai mitra kerjanya, selain itu ada pula Kontraktor yang melaksanakan proyek tersebut.

Kerja keras penegak hukum untuk mengungkap kasus ini secara tuntas sangatlah diharapkan, karena menurut  masyarakat  Rohil bahwa selama ini ada tangan penguasa yang lebih kuat dari penegak hukum, dan sipemilik tangan itu akan terungkap dengan jelas jika kasus ini dapat diusut secara tuntas.


7:00 PM | 0 comments | Read More

BBM Naik, Utang Membengkak

Written By lungbisar.blogspot.com on Wednesday, November 19, 2014 | 9:25 AM

Lung Bisar menatap jauh kedepan, memandang kaki langit yang kemerah – merahan diufuk Barat, haripun dah senja, burung-burung sudah kembali kesarangnya, sementara dia masih saja duduk berdiam diri diujung dermaga, memikirkan utangnya yang tiba-tiba menjadi bengkak akibat keputusan pemerintah yang menaikkan harga BBBM.

Sebagaimana biasanya, setiap akan turun kelaut dia selalu mengambil  Solar ditempat Kucai dengan cara utang dan dibayar semingu kemudian, setelah perhitungan jual beli ikan selesai ditempat pelelangan. Kebiasaan itu sudah berlanjut sejak dulu, dan dia merasa terbantu oleh kebaikan hati Kucai yang memberi fasilitas bon Solar terlebih dahulu.

Urusan utang solar inilah yang membuat Lung Bisar jadi termenung panjang, berpikir bagaimana mungkin antara dirinya dan Kucai berbeda cara menghitungnya, sehingga utang solarnya jadi membengkak, nilainya jauh diatas catatan yang ada pada dirinya.

“Lu punya utangkan 200 liter solar,” kata Kucai menjelaskan perhitungannya kepada Lung Bisar.
“Ya,”  jawab Lung Bisar singkat.
“Nah, 200 liter kali harga sekarangkan jadi sejuta tiga ratus ribu rupiah,” jelas Kucai sambil menunjukan sempoanya.
“Iya, tapi kan wa ambil Solar waktu harganya masih empat ribu lima ratus,”  jawab Lung Bisar.
“Betul, tapi kan lu mau bayar sekarang, ya ikut harga sekaranglah,” jawab Kucai dengan suara agak meninggi.
“Mana bisa begitu.”
“Kenapa tidak,” timpal Kucai pula.
“Wah, lu udah curang Cai.”
“Apanya yang curang, dagangkan mesti seperti itu.” Jawab Kucai dengan suara lantang. Lung Bisar terdiam, dia tak habis pikir melihat sikap  Kucai yang makin licik itu. Hening sejenak, keduanya seperti mengumpulkan tenaga untuk memuntahkan dalil pembenaran.
“Sekarang begini sajalah,” terdengar suara Kucai kembali memulai pembicaraan. “Lu  utang Solar sama gua, sekarang lu kembalikan lagi solar gua itu.” Kata Kucai dengan  nada serius.

Akhirnya terjadilah debat panjang antara dirinya dengan Kucai, keduanya berkutat dengan dalil masing-masing. Lung Bisar tak menerima kalau dia harus membayar utang lama dengan harga solar yang baru ditetapkan pemerintah. Tapi, ketika dia bersikeras untuk membayarnya dengan harga yang lama, Kucai memintanya untuk melunasi utangnya dengan cara mengembalikan sejumlah Solar yang sudah diambilnya.

Pusing Lung Bisar memikirkannya, tak tau dalil apa lagi yang harus dikeluarkanna, akhirnya diapun menyerah pada keadaan, karena terlalu jauh melawan Kucai berdebat bisa berakibat merugikan dirinya sendiri, Kucai bisa saja tidak mau memberikan bon minyak kepadanya lagi.


“Terserah kau lah Cai,” desis Lung Bisar dalam hatinya sambil berjalan menuju dermaga, matanya menatap lurus kedepan memandang laut yang memantulkan sinar mentari senja. Hembusan angin yang bertiup perlahan ditambah dengan kicau burung yang bersahut-sahutan diranting pepohonan seakan membuai Lung Bisar dalam lamunan utang BBM yang kian membengkak. 
9:25 AM | 0 comments | Read More

Kisah Cinta Sumiati dan Berus

Written By lungbisar.blogspot.com on Sunday, October 26, 2014 | 10:25 PM

Derai tawa para pengunjung setia warung Mak Sumiati memecah kesunyian malam, Warung itu menjadi tempat mangkal para pelanggannya untuk berbincang lepas menjelang kantuk tiba. Beragam topik yang mereka perbincangkan, mulai dari kisah hidup para petani di Tanah Putih sampai pada keputusan politik di gedung putih, kesemuanya dibingkai menjadi kabar dan cerita yang tak berjudul.

Diantara sekian ramai pengunjung diwarung itu ada seorang lelaki asing dengan perawakan sedang dan berkulit sawo matang.  Dia duduk sambil memesan secangkir kopi sebagai penghangat tubuh. Lelaki yang belakangan dikenal dengan nama Berus itu  membuat Mak Sumiati merasa gerah, hampir tiap malam dia mampir duduk berlama-lama didalam warung hanya memesan secangkir kopi, tetapi tidak memesan makanan apapun, sampai akhirnya pada suatu malam Mak Sumiati memberanikan diri untuk bertanya.

“Apakah Tuan tidak memesan makanan  ?”
“Oh ...... tidak,”  jawab lelaki itu singkat
“Kenapa ?”

“Saya duduk disini karena ingin melewati waktu malam sambil aroma menikmati goyangan tangan anda saat mengulek bumbu pecal,” jawabnya dengan nada serius. Ternyata gerak tangan dan gaya mak Sumiati yang cekatan plus sedikit goyang pinggul saat menggiling bumbu pecal itu merupakan daya tarik tersendiri bagi Berus, sehingga membuat dia betah untuk  berlama-lama duduk diwarung itu.

“Waw, tuan sudah melakukan kesalahan besar, menikmati goyang tubuh saya tanpa izin,  tuan harus bayar semuanya itu.” Kata Mak sumiati dengan gaya khasnya.
“Berapa yang harus saya bayar,”  jawab Berus sambil merogoh sakunya, kemuadian dia mengeluarkan sejumlah uang, dan setelah itu  “Ting, terdengar bunyi dentingan dari sekeping uang logam Berus yang terjatuh kelantai. Bunyinya dirasakan Mak Sumiati sebagai sesuatu yang merdu, ......... merdua sekali.

“Wah merdu sekali bunyinya, lapang terlingaku mendengarnya,” ujar Mak Sumiati.

“Impas, berarti impaslah sudah,” jawab Berus.

“Apanya yang Impas ?” tanya mak Smiati.

“Aku nikmati goyang tangan dan tubuhmu saat menggiling bumbu Pecal, dan kamu menikmati dentingan uang logamku, kita sama-sama menikmati,” jawab Berus sambil melempar senyum.


Sejak peristiwa malam itu Berus mulai jarang berkunjung kewarung mak sumiati, dia hanya mampir sesekali dan tidak duduk untuk waktu yang terlalu lama. Para pelanggan setia mak Sumiati seakan sudah melupakan peristiwa yang lucu dan menarik itu, mereka tetap ngumpul menghangatkan suasana malam dengan berbagai topik perbincangan, hingga sampailah suatu ketika warung Mak Sumiti tutup tanpa pemberitahuan. Mereka kebingungan, ada apa gerangan yang terjadi, dan setelah ditanya keorang-orang dekatnya ternyata malam itu Mak Sumiati sedang melansungkan pernikahannya dengan Berus dirumah tuan Qadi.
10:25 PM | 0 comments | Read More

Manfaat Gerakan Sholat Untuk Kesehatan

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, August 30, 2014 | 12:54 AM

Dikutip dari blognya DR. OZ INDONESIA

Takbiratul Ikhram

Manfaat solat bagi kesehatan  yang pertama adalah gerakan takbiratul ikhram. Manfaat gerakan shalat untuk kesehatan dari takbiratul ikhram ini adalah untuk melancarkan aliran darah , limfe dan untuk kekuatan otot pada lengan. Manfaat gerakan sholat takbir ini juga bisa menghindari dari gangguan pada sendi  tubuh bagian atas.

Gerakan sholat Rukuk

Manfaat gerakan shalat bagi kesehatan yang kedua adalah rukuk, manfaat gerakan sholat bagi tubuhnya adalah agar terjaga posisi dan fungsi tulang belakang yaitu untuk menyangga tubuh juga sebagai pusat dari saraf. Gerakan sholat bagi kesehatan pada posisi ruku ini juga sarana menjaga kemih dari penyakit prostat.

I'tidal

Manfaat sholat 5 waktu bagi kesehatan kita semua pasti memahaminya dengan baik, nah pada gerakan i'tidal ini manfaat sholat secara medisnya adalah untuk melatih organ pencernaan juga mempunyai efek sebagai melatih organ pencernaan agar lancar dan baik dan ini merupakan nilai lebih dari manfaat sholat untuk kesehatan.

Gerakan Sholat Untuk Kesehatan Sujud

Filosofi gerakan sholat dari sujud adalah sebagai alat untuk memompa getah bening menuju ke leher dan ketiak juga gerakan sholat rasulullah ini mengandung darah yang sangat kaya akan oksigen dari jantung menuju otak. Jika gerakan sholat yg benar ini kita laksanakan dengan baik, maka keajaiban gerakan sholat ini sangat bermanfaat untuk kesehatan kita hanya dengan melakukan gerakan-gerakan sholat saja.

Hikmah Gerakan Shalat Duduk di Antara Sujud

Hikmah shalat jika ditinjau dari hikmah shalat dari berbagai aspek sebenarnya mempunyai manfaat untuk mengurangi dan menghindari pangkal paha yang sering nyeri dan akibatnya tidak bisa berjalan.  Duduk tawarru hikmah gerakan shalatnya bagi laki-laki bisa mencegah impotensi karena pada posisi ini tumit menekan saluran uretra atau kandung kemih dan saluran vas deferens. Inilah hikmah ibadah shalat yang bisa menjaga kekuatan tubuh dan menjaga elastisitas tubuh kita dengan hikmah-hikmah shalat.

Manfaat Gerakan Sholat Salam

Untuk manfaat salam bagi kesehatan yaitu sebagai relaksasi pada otot leher juga kepala. Selain itu manfaatnya adalah menyempurnakan proses aliran darah pada kepala dan ini merupakan cara alami agar sakit kepala berkurang.  Bagi anda para wanita sista semua, gerakan solat salam bisa untuk mempertahankan dan menjaga kulit wajah menjadi kencang.Ok penggemar setia DR. OZ INDONESIA dimanapun anda berada itulah tadi ulasan ringkas tentang manfaat gerakan sholat, manfaat gerakan shalat bagi kesehatan, keajaiban gerakan sholat dan semoga informasi ini bisa menambah wawasan kita. Terimakasih dan salam sehat indonesia.
12:54 AM | 0 comments | Read More

Biang Kerusuhan

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, August 23, 2014 | 10:31 PM

Lung Bisar berangkat menghadap Tuan Paduka Raja Tanah Pekaitan, ketika tiba dijembatan Pedamaran dia diahadang oleh Hulu Balang Raja dengan alasan tak seorangpun yang dibolehkan melintas disitu.

"Mengapa ?" tanya Lung Bisar

"Raja  sedang  menerima  tamu-tamu  agung  dari  seluruh  negeri.  Saat  ini  sedang berlangsung pembicaraan penting yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak, Pergilah !"

"Aneh kalian ni, bicara soal nasib rakyat, tapi rakyat disuruh menjauh ?" Kata Lung Bisar

"Kami  hanya  menjalankan perintah, menjaga agar  tidak  ada PERUSUH yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !" Bentak Hulu Balang itu dengan bengisnya

"Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?" kata Lung Bisar sambil balik kanan, hulu balang yang angkuh itu terdiam sambil hati kecilnya berkata "jangan-jangan KERUSUHAN itu memang dari dalam sana biangnya.
10:31 PM | 0 comments | Read More

Budul Berdasi

Written By lungbisar.blogspot.com on Tuesday, August 19, 2014 | 11:41 PM

Wakil rakyat itu selayaknya menjadi orang yang terhormat, mereka dipilih lewat sebuah pemilu yang diselenggarakan dengan biaya yang tidak murah. Mereka terpilih diantara sekian banyak orang yang mencalonkan diri tapi tidak terpilih.

Proses dari awal sampai dilantik menjadi wakil rakyat adalah sebuah perjalanan panjang yang harus mereka lalui untuk menjemput sebuah prediket wakil rakyat yang terhormat. Prediket itu tersemat didada mereka jika para wakil rakyat ini mampu menjalankan amanah yang dipikulkan dipundaknya.

Jika para wakil rakyat ini mengkhianati amanah yang diberikan rakyat, dan mereka gagal menyuarakan kepentingan rakyat bahkan lebih cenderung mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompoknya, maka gelar terhormat itu dengan sendirinya akan tercoreng.

Jika kedudukannya itu mereka gunakan untuk mengeruk uang negara dalam bentuk bagi-bagi jatah proyek dan lain sebagainya, sehingga ada asas kepatutan yang dilanggar, ada aturan hukum yang mereka kangkangi dan fungsinya  sebagai pengawas penyelenggara negara bergeser menjadi penggarong uang rakyat, maka tidaklah berlebihan jika mereka kita sebut sebagai perampok berdasi.

Perampok, dalam ingatan masyarakat Rokan Hilir identik dengan seorang tokoh yang bernama BUDUL, namanya amat fenomenal dan ditakuti oleh masyarakat. Nah itu dia, jika saat ini ada tokoh yang kerjanya menilap uang rakyat tetapi disegani dan ditakuti maka tidaklah berlebihan jika beliau disebut sebagai “BUDUL BERDASI”.

Selamat berpikir. 
11:41 PM | 0 comments | Read More

Na'uzubillah

Written By lungbisar.blogspot.com on Monday, August 11, 2014 | 11:55 PM

(karena hari sudah hampir maghrib Lung Bisar dan kawan-kawannya bubar dan beranjak pulang kerumahnya masing-masing, beberapa diantara mereka berpikir sambil didalam hatinya mengulangi kata-kata “Na’uzubillah.”)

Pulang dari melaut, Lung Bisar mampir diwarung kopi Pak Bual, warung yang menjadi tempat nongkrong para pembual dinegeri itu. Ditempat ini, mereka berbincang sekenanya, tanpa topik yang jelas tanpa agenda yang diatur, mereka menyebutnya dengan  istilah Bincang Lepas, maksudnya berbincang santai sambil melepas lelah.
Berbagai hal mereka perbincangkan disore itu, dimulai dari cerita masa lalu tentang Budul yang merampok diperairan Sungai Rokan sampai kepada para koruptor yang ditangkap  KPK. Kemudian dilanjut dengan kisah gigi palsu Pak Guru yang copot waktu memberikan pelajaran di Sekolah, hingga sampai kisah pejabat yang dicopot gara-gara diduga menggunakan ijazah palsu.
Cerita merekapun berlanjut tentang nonton di Bioskop Ria, bioskop yang dulu menjadi kebanggan negeri itu kini sudah tinggal kenangan, tak ada yang dapat dilihat lagi, bioskop sudah jadi abu dilalap api. Kini dusun mereka dipenuhi gedung-gedung berkubah, menjulang tinggi kelangit,  setinggi lenggang para pejabat negeri yang hedonis dengan jubah kebesarannya sementara kesejahteraan anak negeri tinggal abadi dalam angan-angan.
Makin sore hari semakin asik mereka berbual, dan sampailah topik perbincangan mereka kepada pembangunan jembatan Pedamaran yang membelah Sungai Rokan, merangkai negeri sampai ke Tanah Pekaitan. Lalu perbincangan mereka merambat ke Jembatan Siak III yang berlokasi di Rumbai Pekanbaru. Jembatan yang cukup dua tahun digunakan itu kini ditutup karena kondisinya yang tak jelas dan bisa membahayakan keselamatan warga.
Pembangunan Jembatan yang dibiayai dengan uang rakyat itu diduga penuh misteri, tidak jelas siapa yang salah, apakah pelaksananya atau pejabat yang mengawasi pembangunannya, masing-masing pihak berlepas tangan dan saling melempar tudingan, tapi tak pernah ada penyelsaian siapa yang harus bertanggung jawab. Jembatan itu ditutup karena besi penyangga lantainya itu melengkung seperti mau patah.
Jembatan yang diberi nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah, raja ke 5 dari kerajaan Siak, maksudnya ingin memberi penghargaan kepada sang Raja yang telah bersusah payah berbakti membuka hutan belantara menjadi sebuah kota yang kemudian diberi nama Pekanbaru.
“Tapi sayangnya jembatan itu tak segagah nama dan gelar yang disandangnya,” celetuk Cu Busu ditengah perbincangan mereka.
“Nah itu dia,” sambung Lung Bisar pula.“ Dulukan setiap petinggi negeri ini diberi gelar oleh Lembaga Adat, seperti Imam Munandar bergelar Datuk Sri Lelawangsa, Rusli Zainal dengan gelar Datuk Setia Amanah, kemudian Wali kota Pekanbaru Herman Abdullah bergelar Datuk Bandar,” lanjut Lung Bisar lagi sambil menyeruput kopi pahit hidangan Pak Bual.
“Kebetulan pemangku negeri yang sekarang ini belum diberi gelar oleh lembaga adat, padahal semestinya sudah ada pemikiran kearah itu, bagaimanapun dia adalah putera terbaik yang bertuah mendapat kepercayaan dari rakyat untuk memimpin negeri ini, segeralah kita usulkan agar beliau diberi gelar.” Kata rekan mereka yang lain pula

“Saya usulkan beliau diberi gelarnya Tameng Sari.”
“Itu nama Keris Hang Tuah Cu,” sergah Lung Bisar
 “Syarif Hidayatullah,” sambung yang lainnya
“Gelar itu sudah dipakai untuk Universitas negeri di jakarta.”Jawab Lung Bisar
“Panglima Ali Muhtadibillah,”
“Oooooo , tak bisa Cu, itu mirip dengan gelar Pangeran Brunai Darussalam.”
“Al mari meja kursi,”
“Jangan bercanda,” potong Cu Busu sambil melototkan matanya pada Duan Gintil yang tiba-tiba iseng mengusulkan nama bergaya Arab, suasanapun hening sejenak, Lung Bisar memutar otaknya mencari gelar yang cocok untuk paduka.
“Na’uzubillahi Min Zaliq, itu gelar yang saya usulkan,”  tiba-tiba terdengar suara Tuan Bachtiar dari celah jendela, ternyata perbincangan mereka soal gelar paduka diraja yang dipertuan negeri itu sudah sejak tadi diikuti oleh Tuan Bachtiar, dan ketika Bincang Lepas itu buntu mendapatkan kata yang cocok, maka diapun ikut nimbrung.
Tidak ada yang tau, apakah usulan itu diterima atau ditolak, namun  karena hari sudah hampir maghrib Lung Bisar dan kawan-kawannya bubar dan beranjak pulang kerumahnya masing-masing, beberapa diantara mereka berpikir sambil didalam hatinya mengulangi kata-kata “Na’uzubillah.” 
11:55 PM | 0 comments | Read More

Lung Bisar dan Kudanya

Written By lungbisar.blogspot.com on Monday, July 21, 2014 | 12:46 AM

Lepas waktu Ashar, Lung Bisar mengitari kota Bagan dengan menunggang Kuda, keluar masuk gang dan berkeliling dengan penuh semangat. Sebagai orang yang baru  mahir menunggang Kuda ia ingin  memamerkan keahliannya, termasuk juga ingin membuktikan kepada halayak ramai bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagi seorang Lung Bisar. Tidak sekolah bukan berarti tidak bisa punya ijazah, termasuk Ijazah MENUNGGANG KUDA.

Sore itu Lung Bisar menjadi pusat perhatian, ribuan pasang mata penduduk kota menatapnya dengan iringan decak kagum. Semua mulut memujinya, semua orang menyebut namanya sebagai pemuda dengan berbagai keahlian. Lung Bisar makin bersemangat dan dia benar-benar merasa puas dengan mainannya yang baru, Penunggang Kuda.

Makin sore makin banyak orang yang menonton aksinya, Lung Bisar kian bersemangat, namun dia lupa bahwa Kudanya mulai merasa gerah karena terlalu lama berkeliling didalam kota. Dia lupa bahwa sifat Kuda lebih cenderung menempuh jarak jauh ketimbang  berulang-ulang dijalan yang sama.

Kudanya berlari semakin cepat, makin sore semakin tak terkendalikan, Lung Bisar menjadi bingung untuk menghentikannya, dan disaat yang sama tiba – tiba terdengar suara Kelipah Bachtiar menyapanya.

“Mau kemana Lung ?” Tanya Khalifah Bachtiar.

“Entahlah,”  jawab Lung Bisar singkat, dan jawaban itu membuat Khalifah Bachtiar merasa heran, Lung Bisar sudah buang tabiat sampai bisa tak tau arah tujuannya, namun sayup-sayup dari kejauhan dia kembali mendengar suara Lung Bisar. 

“Kuda inipun tak memberitahu kemana aku akan dibawanya.”


Mendengar jawaban sahabatnya itu Khalifah Bachtiar hanya tersenyum-senyum kecil, “Ternyata bukan Lung Bisar yang menunggang Kuda, tetapi Kuda yang melarikan Lung Bisar, na’uzubillahi min zaliqa, semoga tidak ada lagi orang bodoh belagak pintar yang dilarikan oleh Kuda tunggangannya sendiri,”  ujar Kh Bachtiar dalam hatinya.
12:46 AM | 0 comments | Read More

Alam Terbentang Guru Kehidupan

Written By lungbisar.blogspot.com on Saturday, July 19, 2014 | 12:05 AM

Tatkala mentari hampir jatuh diufuk Barat, langit cerah Merah menyala, lewat celah rimbun dedaunan, cahaya mentari senja itu menerangi teras rumah tempat Lung Bisar duduk sendiri menikmati indahnya alam ciptaan Azza wa Jala. 

Aku coba menghampirinya, duduk bersama beliau menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan ceritanya tentang pelajaran hidup yang didapat dari hamparan alam semesta. 

"Dulu aku pernah bertanya pada seorang ulama SUFI, "Siapakah GURU tuan" kata Lung Bisar memulai ceritanya. 

"Ulama Sufi Itu menjawab dengan panjang lebar, dia mengaku memiliki ribuan guru. Menyebut nama mereka satu-persatu akan memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun dan sudah sangat sulit untuk menjelaskannya. Tetapi ada tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu. 

Pertama adalah seorang pencuri. Saat aku tersesat dilarut malam, aku kebingungan mencari tempat menginap, semua tempat telah tutup. 

Tetapi ada seorang pemuda yang sedang melubangi dinding pada sebuah rumah. Aku bertanya kepadanya, "Dimana aku bisa menginap?" lalu dia menjawab "Sulit untuk mencari tempat menginap pada larut malam seperti ini. Tapi, jika engkau bersedia tidur bersama seorang pencuri engkau bisa menginap dirumahku” jawab pemuda itu. 

Akupun menetap bersamanya selama satu bulan! Dan setiap malam ia berkata kepadaku, “Sekarang aku akan pergi bekerja. Engkau beristirahatlah sambil berdoa.” 

Ketika dia telah kembali aku bertanya “apakah engkau mendapatkan sesuatu?” dia menjawab, “Tidak malam ini. Tetapi besok aku akan mencobanya kembali, jika Tuhan berkehendak besok akan terjadi.” Dia tidak pernah patah semangat, dia selalu bahagia. 

Ketika aku mengalami hambatan dan rintangan aku teringat akan si pencuri yang selalu berkata pada malam hari. “Jika Tuhan berkehendak, besok akan terjadi.” Dia itulah guru kehidupanku yang pertama. 

Guruku yang kedua adalah seekor anjing. Tatkala rasa haus melanda kerongkongan ku aku pergi kesungai, bersamaan dengan itu ada seekor anjing yang juga sedang kehausan. 

Pada saat ia melihat ke air nampak olehnya “bayangannya sendiri”, dan ia pun ketakutan. Anjing itu kemudian menggonggong dan berlari menjauh. Namun karena rasa haus yang mendahaga ia kembali lagi. Akhirnya, terlepas dari rasa takutnya, ia langsung melompat ke air, dan hilanglah bayangannya itu tadi. Pada saat itulah aku menyadari sebuah pesan datang dari Tuhan: "ketakutanmu hanyalah bayangan, ceburkan dirimu ke dalamnya dan bayangan rasa takutmu itu akan hilang". 

Guruku yang ketiga adalah seorang anak kecil. Tatkala aku memasuki sebuah kota dan aku melihat seorang anak kecil membawa sebatang liling yang menyala. Dia sedang menuju mesjid untuk meletakkan lilinnya disana. 

“Sekedar bercanda”, kataku kepadanya, “Apakah engkau sendiri yang menyalakan lilinnya?” Dia menjawab, “Ya tuan.” Kemudian aku bertanya kembali, “Ada suatu waktu dimana lilinnya belum menyala, lalu ada suatu waktu dimana lilinnya menyala. Bisakah engkau tunjukkan kepadaku darimana datangnya sumber cahaya pada lilin itu? 

Anak kecil itu tertawa, lalu dengan sekali hembus lilinnya padam, dan dia berkata, “Sekarang tuan telah melihat cahayanya pergi. Bisakah tuan jelaskan Kemana perginya cahaya itu?” 

Aku tersentak pertanyaannya membuat aku sadar akan  kebodohanku sendiri, dan anak kecil ini sudah mengajari aku untuk tidak bersikap sombong atas segala ilmu pengetahuan yang kumiliki. 

Adalah benar bahwa aku tidak memiliki guru. Tetapi tidak berarti aku bukan seorang murid, aku jadikan segala peristiwa dalam kehidupanku sebagai guru. Aku belajar dari kehidupan. Aku tidak memiliki seorang guru karena aku memiliki jutaan guru yang aku dapati dari berbagai sumber. 

Aku Menjadi seorang murid dan belajar sepanjang hayatku, belajar atas apa yang diajarkan oleh kehidupan. Itulah sebuah keharusan di jalan sufi  "Sang guru adalah sebuah kolam dimana engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang. Dan tatkala engkau telah mahir berenang, seluruh Samudera adalah milikmu." Kata Lung Bisar mengakhiri ceritanya
12:05 AM | 0 comments | Read More

Jenderal ! Berhentilah Berdebat

Written By lungbisar.blogspot.com on Thursday, June 26, 2014 | 12:39 AM

(Jangan buang waktu dan energimu untuk sesuatu yang tak berguna).

Pemilihan presiden kali ini seakan bergeser dari persaiangan antar capres menjadi ajang debat melelahkan antar jenderal purna bhakti.  Para jenderal yang dulunya masih aktif dan memegang jabatan penting di tubuh ABRI (sekarang TNI) pada saat – saat terakhir dari kekuasan Soeharto itu kini berdebat soal keterlibatan Prabowo dalam penculikan para aktivis.

Dalam wawancara dengan Metro TV pada 8 Juni yang lalu, Fachrul Razi, menyebutkan bahwa Prabowo terlibat dalam kasus penculikan para aktivis. Mantan wakil ketua Dewan Kehormatan Perwira (DKP)  itu menegaskan bahwa DKP telah merekomendasikan agar Prabowo diberhentikan dari dinas ketentaraan.

Atas dasar surat dari DKP itu pulalah, Wiranto selaku Menhankam/Pangab waktu itu  mengirim surat surat usulan kepada presiden. Hasilnya sama – sama kita ketahui bahwa Presiden  Habibie memutuskan  Prabowo diberhentikan dengan hormat dan mendapat hak pensiun.

Penculikan, Itulah kata yang kerap muncul dan menjadi bahan perdebatan yang tak berkesudahan ini. Kubu Prabowo tetap beranggapan bahwa dirinya bersih dan tidak bersalah dalam kasus penculikan yang dituduhkan kepadanya, justeru karena tidak bersalah itu pulalah presiden memberhentikannya dengan hormat dan mendapat hak Pensiun.

Tapi Wiranto dengan retorikanya yang khas menyebutkan bahwa seorang tentara aktif itu hanya diberhentikan dengan hormat jika sudah masuk usia pensiun atau atas permintaan sendiri karena alasan sakit. “Selain dari itu anda terjemahkan sendiri,” kata Wiranto seakan ingin berteka teki.

Prabowo dalam debat capres beberapa hari yang lalu dengan jantan mengakui tindakan penculikan tersebut, tapi itu dilakukannya sebagai seorang tentara yang taat pada perintah atasan. Tidak ada penjelasan lebih lanjut siapa atasan yang dimaksudkan Prabowo itu,tetapi kalau dirunut saat  terjadinya penculikan dimaksud atasan Prabowo selaku Danjen Kopasus pada saat itu adalah Subayo HS selaku Kasad dan Wiranto sebagai Pangab.

Jika Prabowo dipersalahkan melakukan tindakan atas perintah atasannya, tentu tidak pada tempatnya bila kesalahan tersebut dipikulkan kepada dirinya sendiri, Kasad dan Pangab waktu itu juga harus  bertanggung jawab, sama seperti yang dilakukan Prabowo mengambil alih tanggung jawab anak buahnya dari Kopasus.

Tudingan terhadap Prabowo yang melakukan penculikan atas inisiatifnya sendiri selaku Danjen Kopasus, bertolak belakang dengan keputusan DKP yang hanya merekomendasikan agar Prabowo diberhentikan, padahal sesuai dengan kesalahan yang dituduhkan kepadanya adalah pelanggaran HAM berat , hukuman yang setimpal untuk Prabowo seharusnya DIPECAT  dan diadili di Mahkamah Militer, tetapi ternyata itu tak dilakukan dan oleh karenanya publik menjadi bingung dengan apa yang diributkan oleh para jenderal purnawirawan diseputar kasus penculikan itu.

Semakin diikuti perkembangan tentang kasus penculikan itu semakin tidak jelas siapa yang harus bertanggung jawab, para jenderal terus berdebat membuat publik semakin bingung mendengarkannya, sementara perasaan keluarga korban semakin teriris, pilu  dalam penantian yang tak berujung. 


Agar masalah ini tidak semakin kabur, sebaiknya seluruh anggota DKP duduk bersama memberikan penjelasan secara lengkap kepada masyarakat, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan berbicara dengan niat yang tulus untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan.  Jika tidak Jenderal, berhentilah berdebat, jangan buang waktu dan energimu untuk sesuatu yang tak berguna.
12:39 AM | 0 comments | Read More